KlikMojok – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda di Sidoarjo diminta untuk memperluas cakupan informasi cuaca yang disediakannya. Informasi vital ini, yang selama ini seringkali terfokus pada keselamatan penerbangan, kini dinilai perlu menjangkau sektor-sektor strategis lainnya seperti pertanian, perikanan, industri, perdagangan, dan pariwisata. Tujuan utamanya adalah membekali masyarakat dengan data yang akurat guna mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem dan meminimalkan potensi kerugian ekonomi yang mungkin timbul.
Pernyataan mengenai urgensi perluasan informasi cuaca ini datang dari Ir. H. Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol., selaku Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI. Beliau menyampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Sidoarjo, pada hari Senin, 26 Oktober 2026.
Politikus senior dari Partai Gerindra, yang dikenal luas dengan inisial BHS, menegaskan bahwa informasi prakiraan cuaca memegang peranan yang sangat strategis dalam menopang beragam aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, BHS mendorong agar layanan yang diberikan oleh BMKG dapat dioptimalkan secara maksimal, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan berbagai sektor ekonomi.
Lebih lanjut, BHS menjelaskan bahwa sektor pertanian, misalnya, sangat bergantung pada informasi cuaca untuk menentukan jadwal tanam yang paling tepat serta untuk melakukan langkah antisipasi terhadap potensi dampak negatif dari kondisi alam. Demikian pula halnya dengan sektor perikanan, yang operasional sehari-harinya sangat rentan dan dipengaruhi secara langsung oleh perubahan cuaca dan tingkat curah hujan.
Dalam kesempatan tersebut, BHS menyatakan, “Peran BMKG ini sangat vital untuk kepentingan masyarakat secara luas. Mulai industri, perdagangan, pariwisata, pertanian, perikanan, hingga keselamatan publik.”
Sebagai contoh, BHS menguraikan bahwa ketersediaan informasi mengenai potensi cuaca ekstrem dapat menjadi landasan krusial bagi para petani dalam merancang dan melaksanakan langkah-langkah antisipasi. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan serius pada lahan pertanian maupun tanaman mereka. Dengan demikian, informasi yang akurat dan mudah diakses diharapkan dapat memberdayakan masyarakat agar mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dan strategis dalam menjalankan segala bentuk aktivitasnya.
Berangkat dari hal tersebut, BHS secara khusus meminta BMKG untuk tidak hanya memperluas jangkauan penyebaran informasi cuaca, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap data yang disampaikan benar-benar relevan dan sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing sektor yang dilayani.
Selain membahas mengenai prakiraan cuaca, BHS juga tidak luput menyoroti pentingnya edukasi mitigasi bencana. Secara spesifik, ia menekankan perlunya informasi terkait potensi gempa bumi disampaikan kepada publik. Menurut BHS, penyampaian informasi kebencanaan harus dilakukan secara proporsional, dengan tujuan agar masyarakat dapat memahami risiko yang ada serta langkah-langkah penyelamatan yang tepat, tanpa justru menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
“Mitigasi bencana itu penting, tetapi jangan sampai masyarakat justru ditakut-takuti. Informasi harus disampaikan dengan baik agar masyarakat memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan,” tegas BHS dengan lugas.
BHS menambahkan bahwa komunikasi mengenai potensi bencana harus dilakukan dengan sangat cermat dan hati-hati. Ia mengingatkan bahwa informasi yang tidak dipahami secara utuh berisiko tinggi memicu kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat, yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kelangsungan aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata.












