KlikMojok – Masjid memiliki peran sentral yang lebih dari sekadar tempat ibadah; ia juga berfungsi sebagai ruang untuk menumbuhkan kepedulian, membentuk karakter, dan melahirkan generasi muda yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Kesan mendalam inilah yang dirasakan oleh 38 santri Spemdalas Boarding School (SBS) setelah mereka melakukan kunjungan ke Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, pada hari Sabtu (24/10/2026).
Kunjungan edukatif para santri ini dilaksanakan di sela-sela kehadiran mereka dalam acara pernikahan salah satu musyrif SBS Asrama Rembang, Ustaz Husni Firmansyah. Acara tersebut berlangsung di Jalan Jawa, RT 05/RW 02, Wadungasih, Buduran, Sidoarjo. Memanfaatkan momentum tersebut, para santri diajak mengunjungi Masjid Ar-Royyan yang lokasinya tidak jauh, sekitar 1,8 kilometer dari tempat acara. Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga bagi para santri untuk memahami lebih dekat bagaimana sebuah masjid dikelola secara modern, ramah terhadap musafir, dan bagaimana institusi keagamaan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat umum.
Ain Nurwindasari, S.Th.I., MIRKH, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Ismuba Spemdalas SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif para musyrif yang telah mengajak santri-santri tersebut berkunjung ke Masjid Ar-Royyan. “Kami mengapresiasi inisiatif musyrif yang mengajak santri ke Masjid Ar-Royyan,” ujarnya. Menurut Ain, kegiatan ini sangat efektif dalam memperluas wawasan santri mengenai berbagai cara untuk memakmurkan masjid. Para santri tidak hanya diajarkan tentang pentingnya beribadah, tetapi juga secara langsung melihat bagaimana masjid dapat diatur sedemikian rupa agar nyaman, terbuka bagi semua kalangan, dan mampu memberikan manfaat luas bagi banyak individu.
Pengalaman berharga semacam ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kecintaan santri terhadap masjid sejak usia dini. Dengan demikian, mereka tidak hanya akan menjadi jamaah yang rutin menunaikan ibadah, tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang kuat untuk turut serta menjaga, mengembangkan, dan memakmurkan masjid di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Rombongan santri SBS disambut dengan hangat dan antusias oleh Bayu Firdaus, yang menjabat sebagai Sekretaris Takmir sekaligus salah satu tokoh penggerak utama dalam pengelolaan Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Bayu mengungkapkan rasa terkejut sekaligus senangnya atas kunjungan tersebut. Ia memandang para santri sebagai calon generasi penerus yang harus dipersiapkan dengan matang agar memiliki kecintaan mendalam terhadap masjid dan siap mengambil peran penting dalam kehidupan umat di masa mendatang. “Masya Allah, santri SBS calon generasi penerus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bayu berpesan bahwa pendidikan bagi santri tidak cukup hanya berfokus pada keunggulan akademik semata. Para santri juga perlu dibekali dengan karakter yang kuat, spiritualitas yang baik, serta kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial. “Santri SBS harus dipersiapkan bukan hanya menjadi generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan yang kuat terhadap masjid. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pembinaan karakter, penguatan spiritual, dan pembentukan kepemimpinan generasi muda,” jelasnya. Ia menaruh harapan besar agar para santri kelak tidak hanya menjadi jamaah yang memakmurkan masjid, tetapi juga bertumbuh menjadi penggerak yang mampu menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah, pemberdayaan umat, dan wadah untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. “Dari masjid, kita ingin melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” tambahnya. Pesan tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa masjid memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat kegiatan yang mengintegrasikan ibadah, pendidikan, kepedulian sosial, dan pemberdayaan komunitas.
Salah satu santri yang mendapatkan kesan mendalam dari kunjungan ini adalah Archello Rakha Kayrendra, seorang murid kelas IX F. Baginya, kunjungan ke Masjid Ar-Royyan ini merupakan pengalaman pertamanya yang membuka pandangan baru tentang bagaimana peran pemuda dapat dioptimalkan dalam pengelolaan masjid. “Saya baru pertama kali ke Masjid Ar-Royyan,” akunya. Rakha menyatakan rasa senangnya karena memperoleh wawasan baru mengenai cara generasi muda Islam bisa berperan aktif dalam mengelola masjid, termasuk dalam menyediakan beragam fasilitas yang dibutuhkan oleh para musafir untuk beristirahat.
Pengalaman tersebut bahkan telah menumbuhkan keinginan kuat dalam dirinya untuk membangun sebuah masjid di masa depan. Menurut Rakha, membangun masjid bukan sekadar menjadi amal jariyah, tetapi juga merupakan kesempatan emas untuk menghadirkan manfaat yang luas bagi lingkungan sekitar dan masyarakat secara keseluruhan. Rakha memiliki gagasan kreatif, yaitu masjid yang kelak ia bangun akan menyediakan program makan gratis bagi individu yang membutuhkan, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang agama berbeda. Ia juga membayangkan adanya fasilitas Wi-Fi yang dapat diakses selama 24 jam dan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif. Baginya, masjid ideal tidak hanya berperan sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai ruang yang terbuka, ramah, dan mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan zaman yang dinamis. Gagasan Rakha ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap masjid dapat berkembang menjadi cita-cita luhur untuk melayani sesama. Ia bercita-cita agar masjid dapat menjadi tempat yang menghadirkan kebaikan tanpa membatasi manfaatnya hanya bagi kelompok tertentu.
Kesan positif serupa juga diutarakan oleh Nadhifa Atiqah Yumna, murid kelas IX Istanbul. Berbeda dengan Rakha, Yumna sebenarnya pernah berkunjung ke Masjid Ar-Royyan bersama keluarganya di waktu sebelumnya. Meskipun demikian, kunjungan kali ini tetap memberinya pengalaman serta inspirasi baru yang berharga. “Sangat senang karena kita dapat melihat banyak inovasi yang dapat digunakan di masjid-masjid lain,” tuturnya. Menurut Yumna, masjid yang dianggap ideal harus mampu menghadirkan suasana yang nyaman, pelayanan takmir yang ramah, fasilitas yang memadai, serta tempat istirahat yang layak bagi para musafir. Berbagai fasilitas dan layanan tersebut diyakini dapat membuat masyarakat merasa diterima dan semakin dekat dengan masjid.
Yumna juga mengusulkan sebuah gagasan kreatif untuk lebih memakmurkan masjid, yakni dengan mengimplementasikan konsep masjid ramah anak dan ramah musafir. Menurutnya, masjid perlu menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak-anak untuk mengenal agama dan beraktivitas secara positif. Di sisi lain, masjid juga diharapkan mampu memberikan pelayanan optimal kepada para musafir yang membutuhkan tempat singgah dan beristirahat selama perjalanan mereka. Gagasan ini sangat selaras dengan semangat untuk menjadikan masjid sebagai ruang yang terbuka bagi beragam kebutuhan masyarakat, tanpa pernah meninggalkan fungsi utamanya sebagai pusat ibadah dan dakwah.
Secara keseluruhan, kunjungan 38 santri SBS ke Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran telah menjadi lebih dari sekadar agenda singkat di sela-sela kegiatan. Pertemuan inspiratif ini berhasil menghadirkan pengalaman nyata tentang bagaimana sebuah masjid dapat dikelola dengan semangat pelayanan yang tinggi, kreativitas, dan kepedulian sosial yang mendalam.












