KlikMojok – Di tengah riuh rendah aktivitas harian, perlintasan kereta api sebidang kerap menjadi titik krusial yang menuntut kewaspadaan tinggi. Suara sirine yang memecah keheningan, palang pintu yang perlahan menutup, seolah menjadi pengingat akan tipisnya batas antara keselamatan dan bahaya. Menyadari urgensi ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mengambil langkah strategis untuk memperkuat keselamatan di sejumlah perlintasan sebidang, dengan fokus utama pada pembangunan pos jaga dan penguatan infrastruktur. Wilayah Blitar, Garum, hingga Talun menjadi salah satu fokus pembangunan prioritas yang ditargetkan rampung pada tahun 2026, sebuah upaya signifikan dalam meningkatkan keselamatan perlintasan kereta api.
Langkah proaktif ini ditempuh bukan tanpa alasan. Tingginya mobilitas masyarakat di koridor Blitar-Garum-Talun menjadikan area ini sebagai salah satu dari 13 titik perlintasan prioritas di wilayah Daop 7 Madiun yang memerlukan perhatian khusus. Pembangunan pos jaga dan penguatan infrastruktur ini diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan yang mungkin terjadi, sekaligus meningkatkan keamanan bagi perjalanan kereta api itu sendiri maupun para pengguna jalan yang melintas.

Secara spesifik, lima perlintasan sebidang (JPL) yang masuk dalam proyek pengerjaan pos jaga tersebut meliputi JPL 209 (KM 130+327) yang berada pada petak Stasiun Blitar-Rejotangan, serta JPL 182 (KM 117+186) pada petak Stasiun Garum-Blitar. Selain itu, tiga titik lainnya adalah JPL 174 (KM 113+137), JPL 172 (KM 112+389), dan JPL 171 (KM 111+973) yang terletak pada petak Stasiun Talun-Garum. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap tingkat kerawanan dan kebutuhan lalu lintas di setiap area.
Manager Humas Daop 7 Madiun, Tohari, menjelaskan bahwa pendekatan penanganan setiap perlintasan dilakukan secara cermat dan terukur. “Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganannya dilakukan secara terukur agar peningkatan keselamatan dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Tohari, pada Senin (31/8/2026). Pernyataannya menegaskan komitmen KAI untuk tidak hanya membangun fisik, tetapi juga memastikan efektivitas dan keberlanjutan manfaat bagi seluruh pihak.
Inisiatif ini merupakan bagian integral dari program nasional KAI yang menargetkan peningkatan keselamatan di 190 titik perlintasan di seluruh Indonesia. Selain memperkuat infrastruktur fisik, Daop 7 Madiun juga mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Sebanyak 52 calon petugas penjaga pintu perlintasan (PJL) tengah menjalani pembekalan intensif, agar mereka memiliki kompetensi yang memadai saat menjalankan tugas pengamanan perlintasan yang vital ini. Pendidikan dan pelatihan bagi para petugas adalah pilar penting dalam menjaga keamanan operasional kereta api.
Meskipun demikian, KAI mengingatkan bahwa penguatan infrastruktur dan penambahan personel tidak akan maksimal tanpa dibarengi kedisiplinan dari pengguna jalan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Pengendara diimbau untuk selalu berhenti sebelum melintasi rel, melihat kondisi lalu lintas dari kanan dan kiri, serta tidak menerobos palang pintu yang sudah tertutup. “Kami mengimbau seluruh pengguna jalan untuk selalu berhati-hati. Kedisiplinan bersama seperti berhenti sebelum melewati perlintasan, tengok kanan-kiri, serta tidak menerobos palang pintu merupakan kunci utama mencegah kecelakaan,” pungkas Tohari. Pesan ini bukan sekadar imbauan, melainkan edukasi berkelanjutan yang vital demi menjaga setiap nyawa dan memastikan perjalanan kereta api tetap aman dan lancar.













