Menu

Mode Gelap
Jejak Kebaikan DHIBRA Shiddiqiyyah: 22 Tahun Santuni Anak Yatim, Lampaui Batas Jombang Api Merajalela di Pamekasan: 109 Kebakaran Mengintai, Agustus Jadi Momok Terbesar Lebih dari Sekadar Piala: Santri LPA Al-Muttaqin Raih Juara 3 FASI HUT RI ke-81 IONATION 2026: Ruang Aman dan Me-Time Ibu Muda, Jennifer Bachdim & Amanda Manopo Berbagi Pengalaman Deru Angin dan Atap yang Terlepas: Situbondo dalam Pelukan Cuaca Ekstrem Ketika Palang Pintu Bercerita: KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Kereta Api di Blitar-Talun

Pendidikan

Deru Angin dan Atap yang Terlepas: Situbondo dalam Pelukan Cuaca Ekstrem

badge-check


					Deru Angin dan Atap yang Terlepas: Situbondo dalam Pelukan Cuaca Ekstrem Perbesar

KlikMojok – Siang itu, pada Senin, 31 Agustus 2026, jarum jam baru menunjukkan pukul 12.00 WIB ketika deru angin yang tak biasa mulai menyapu Kampung Pariyaan, Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo. Bukan sekadar embusan sepoi, melainkan terpaan kencang yang membawa serta ketegangan dan kekhawatiran di tengah aktivitas harian warga. Cuaca ekstrem ini, yang datang tiba-tiba, menyisakan jejak kerusakan pada tiga rumah penduduk, mengingatkan kembali akan kekuatan alam yang tak terduga.

Salah satu penghuni rumah, yang tak disebutkan namanya, sempat dibuat terkejut oleh suara angin yang bertiup kencang itu. Ia menyaksikan langsung bagaimana bagian depan rumahnya seolah terangkat, ditarik oleh kekuatan angin yang tak terlihat. Dalam kepanikan namun sigap, ia segera bergerak menyelamatkan diri menuju bagian belakang rumah. Langkah cepat ini, dan kemungkinan juga dilakukan oleh penghuni rumah lainnya, terbukti krusial. Seluruh penghuni berhasil menghindari material atap yang berjatuhan, sehingga tidak ada warga yang mengalami luka-luka atau bahkan kehilangan nyawa akibat insiden tersebut – sebuah anugerah di tengah musibah.

Tiga rumah yang paling merasakan dampak terpaan angin kencang ini adalah milik Sahmina (62), Nawati (50), dan Ariya (71). Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Situbondo, Puriyono, menjelaskan detail kerusakan yang terjadi. “Angin kencang menyebabkan bagian atap tiga rumah warga terhempas. Genteng, asbes, dan kayu usuk atau reng berjatuhan ke halaman,” kata Puriyono pada hari kejadian, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan pendataan cepat yang dilakukan oleh BPBD Situbondo, kerugian material akibat terjangan angin kencang ini cukup signifikan. Rumah milik Sahmina dan Nawati sama-sama mengalami kerusakan ringan dengan taksiran kerugian sekitar Rp25 juta per rumah. Sementara itu, rumah milik Ariya juga mengalami kerusakan ringan, namun dengan taksiran kerugian yang lebih kecil, yakni sekitar Rp1 juta. Dengan demikian, total taksiran kerugian dari tiga rumah yang terdampak mencapai sekitar Rp51 juta. Meskipun kerugian materiil cukup besar, Puriyono menegaskan, “Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian ini.”

Respons cepat segera dilakukan setelah laporan diterima. Tim Pusdalops BPBD Situbondo bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung meluncur ke lokasi kejadian. Mereka melakukan asesmen dan kaji cepat untuk mengidentifikasi sejauh mana dampak kerusakan dan kebutuhan penanganan darurat bagi warga yang terdampak. Penanganan di lapangan juga melibatkan berbagai pihak, menunjukkan sinergi antarlembaga dan kepedulian sosial yang kuat. Unsur-unsur seperti Kecamatan Jangkar, Polsek Jangkar, Koramil Jangkar, Pemerintah Desa Sopet, Tagana Dinas Sosial Situbondo, serta masyarakat setempat bahu-membahu memberikan bantuan dan dukungan.

Peristiwa angin kencang di Situbondo ini menjadi pengingat yang penting bagi seluruh masyarakat akan potensi cuaca ekstrem yang dapat datang kapan saja. BPBD Situbondo secara konsisten mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Angin kencang, seperti yang terjadi di Desa Sopet, dapat muncul secara tiba-tiba dan berpotensi tidak hanya menyebabkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga membahayakan keselamatan jiwa. “Kami mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan karena cuaca ekstrem, termasuk angin kencang, masih berpotensi terjadi,” pungkas Puriyono. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan alam yang semakin tak terduga ini, demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jejak Kebaikan DHIBRA Shiddiqiyyah: 22 Tahun Santuni Anak Yatim, Lampaui Batas Jombang

31 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Api Merajalela di Pamekasan: 109 Kebakaran Mengintai, Agustus Jadi Momok Terbesar

31 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Lebih dari Sekadar Piala: Santri LPA Al-Muttaqin Raih Juara 3 FASI HUT RI ke-81

31 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Ketika Palang Pintu Bercerita: KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Kereta Api di Blitar-Talun

31 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Transformasi Jalanan Menjadi Ruang Belajar: Siswa SMK Mudalas Ajarkan Empati untuk Korban Gempa Flores

31 Agustus 2026 - 18:49 WIB

Trending di Pendidikan