KlikMojok – Di tengah sorotan panggung penghargaan Kompetisi WorldSkills ke-48 yang berlangsung meriah di Shanghai, Tiongkok, pada 20 Oktober 2026, tersimpan pula kisah-kisah mendalam yang tak kalah penting untuk diulas. Ajang internasional yang kerap dijuluki “Olimpiade Keterampilan” ini, di luar perolehan medali dan skor kompetisi, secara tegas menggarisbawahi narasi krusial: bahwa jemari manusia, kearifan yang diwarisi dari tradisi, serta kehangatan interaksi antarbangsa tetap menjadi elemen yang tak tergantikan, bahkan di tengah derasnya arus era digital.
Gambaran mengenai masa depan dunia kerja seringkali diasosiasikan dengan lingkungan yang steril dan sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, suasana yang terasa di WorldSkills Shanghai 2026 Expo justru menghadirkan bukti yang kontradiktif dengan pandangan tersebut.
Sebagai contoh, di salah satu sudut pameran, para pengunjung dari berbagai negara terpukau menyaksikan demonstrasi restorasi buku-buku kuno Tiongkok yang dilakukan dengan sangat teliti. Selain itu, keindahan seni arsitektur klasik yang mengandalkan teknik tenon and mortise—sebuah metode sambungan kayu presisi tanpa menggunakan paku—turut memukau. Di era ketika segala sesuatu dapat diproduksi melalui pencetakan 3D, ketelitian dan keahlian tangan manusia dalam memelihara dan merawat warisan sejarah justru menjelma menjadi daya tarik utama yang memikat perhatian.
Fenomena ini selaras dengan pandangan yang disampaikan oleh Narmeen Almarzooqi, seorang alumni peserta WorldSkills yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). Dalam sesi diskusi panel yang membahas dampak AI terhadap pasar kerja global, ia mengingatkan bahwa meskipun algoritma semakin canggih, akan selalu ada ruang humanis yang merupakan domain mutlak milik manusia.
“AI tidak dapat menggantikan soft skills manusia, seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan empati sosial,” tegas Francis Hourant, Presiden WorldSkills International, pada hari Selasa, 20 Oktober 2026.
Sisi humanis dari kompetisi WorldSkills ke-48 ini juga sangat kentara melalui inisiatif program sosial yang diberi nama “Satu Sekolah Satu Anggota”. Aphaiboun Luibouathong, seorang mahasiswa relawan yang berasal dari Laos, membagikan refleksi mendalamnya mengenai esensi keahlian yang mampu melintasi batas-batas geografis dan budaya antarnegara.
“Keterampilan tidak mengenal batas. Keahlian vokasi tidak hanya menerangi masa depan individu, tetapi juga membangun jembatan persahabatan antarbangsa,” tuturnya.
WorldSkills ke-48 tidak hanya berperan sebagai arena kompetisi bagi negara-negara industri untuk menunjukkan keunggulan mereka, melainkan juga sebagai platform pembuktian bahwa jalur pendidikan kejuruan memiliki potensi besar untuk membawa individu melangkah ke panggung utama dunia. Kisah sukses seperti He Xiaoman, kontestan asal Tiongkok yang berhasil meraih Penghargaan Albert Vidal berkat skor tertinggi di kategori Teknologi Kendaraan Rel, adalah bukti nyata dari keberhasilan tersebut.
Dampak positif dari penyelenggaraan ajang ini bahkan terasa hingga ke negara-negara di belahan bumi lain. Delegasi dari Brasil, misalnya, hadir dengan membawa kontingen terbesar dalam sejarah partisipasi mereka. Bagi Brasil maupun Tiongkok, keterampilan kejuruan kini tidak lagi sekadar materi pelatihan, melainkan telah menjadi simbol baru dalam kerja sama bilateral serta integrasi yang erat antara dunia industri dan institusi pendidikan.
Pada akhirnya, ajang yang secara khusus dinobatkan oleh Francis Hourant sebagai “edisi terbaik yang pernah ada” ini, meninggalkan satu pesan fundamental: bahwa masa depan tidak hanya menjadi milik mereka yang berprofesi di balik layar komputer, tetapi juga milik setiap individu yang bersedia mengasah keterampilan tangan, mengembangkan empati, dan mengerahkan kreativitasnya demi mewujudkan dunia yang lebih baik.












