KlikMojok – Di tengah hiruk-pikuk pertanyaan, ketegangan proses pemilihan, dan momen haru perpisahan, Musyawarah Ranting (Musyran) XXVI Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (Musasi) telah sukses diselenggarakan. Acara ini menjadi ajang penting yang mengajarkan makna amanah serta keberlanjutan perjuangan dalam sebuah organisasi pelajar.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Javiero Kenzie Mochtara secara resmi terpilih untuk memimpin Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (Musasi) untuk periode bakti 2026-2027.
Musyran XXVI Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMP Musasi ini secara efektif mempertemukan dua generasi kepemimpinan dalam satu rangkaian perjalanan organisasi yang berkelanjutan.
Para pengurus periode 2025–2026 bersiap untuk mengakhiri masa bakti mereka, sementara kader-kader yang akan memimpin di periode 2026–2027 mulai mempersiapkan diri untuk mengemban tanggung jawab baru.
Mengusung tema inspiratif “Membentuk Kader Berkarakter Islami: Bersama Mengukir Karya dan Mewujudkan Perubahan Nyata”, kegiatan Musyran ini tidak hanya menjadi agenda rutin, melainkan juga sebuah platform pembelajaran demokrasi yang berharga.
Musyran kali ini menghadirkan sebuah inovasi signifikan melalui implementasi pemilihan raya digital yang secara langsung melibatkan partisipasi seluruh warga sekolah.
Sejak pagi hari, suasana di aula sekolah sudah menunjukkan gambaran yang jelas mengenai proses pergantian generasi kepemimpinan yang akan berlangsung.
Pengurus IPM periode 2025–2026 terlihat duduk di sisi kiri aula mengenakan jas khas IPM, sementara para calon penerus mereka menempati sisi kanan.
Penataan tempat duduk tersebut secara simbolis menunjukkan bagaimana dua generasi kader berbagi ruang untuk menyelesaikan satu amanah dan menyambut tanggung jawab berikutnya.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh Kansha Makailah Yasmine, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ariya Kumala Cahya Kusuma.
Keanu Zain Asmi Saputro, selaku Ketua Panitia Pemilihan, menegaskan bahwa Musyran bukanlah sekadar agenda rutin yang biasa dilakukan oleh organisasi.
Menurut penjelasannya, forum ini memberikan kesempatan berharga bagi para pelajar untuk melakukan evaluasi terhadap kepengurusan yang telah berjalan, menyampaikan berbagai aspirasi, serta menentukan arah perjuangan IPM untuk masa mendatang.
“Musyran ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, menyampaikan aspirasi, dan menentukan arah perjuangan IPM ke depan,” ujar Keanu.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ketua Umum IPM periode 2025–2026, Afika Ruby Syifani, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama perjalanan kepengurusannya.
Ia juga menyatakan harapannya agar para formatur yang terpilih nantinya dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya serta menerima hasil pemilihan dengan lapang dada.
Sementara itu, Pembina PR IPM SMP Musasi, Ilham Akbar Noor Mokhammad, S.Kom., Gr., memberikan pengingat penting mengenai esensi menjaga keberlanjutan perjuangan organisasi.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa berakhirnya masa kepengurusan tidak serta-merta menghilangkan tanggung jawab seorang kader dalam lingkup organisasi Muhammadiyah.
“Ketika kalian sudah masuk ke dalam IPM, sudah masuk ke dalam bagian dari Muhammadiyah, maka pastikan apa yang kalian lakukan itu tidak sia-sia ke depannya,” jelas Ilham.
Melalui pengalaman berorganisasi ini, ia berharap para kader dapat meneruskan pembelajaran dan nilai-nilai penting kepada generasi IPM berikutnya.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Erna Herawati, S.Pd., M.Pd., melihat Musyran sebagai sebuah laboratorium demokrasi yang sangat efektif bagi para siswanya.
Menurut pandangannya, proses musyawarah ini melatih para pelajar untuk saling menghargai pendapat, sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang tanggung jawab yang melekat pada sebuah kepemimpinan.
“Musyran adalah proses belajar berdemokrasi, bermusyawarah, dan menghargai pendapat. Yang paling penting adalah belajar membawa amanah sebaik-baiknya,” jelas Erna.
Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus memiliki karakter yang kuat, kecerdasan, sikap amanah, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Setelah berhasil menyelesaikan Sidang Pleno I, II, dan III yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 09.45, para peserta kemudian melanjutkan agenda berikutnya setelah beristirahat sejenak.
Memasuki pukul 10.30, kegiatan bergeser ke masjid sekolah untuk menyelenggarakan orientasi bagi calon formatur.
Sebanyak 12 calon formatur secara bergantian maju ke depan untuk memaparkan visi-misi mereka di hadapan seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX.
Setelah sesi pemaparan visi-misi, para siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait program kerja, gagasan, dan kesiapan para calon pemimpin.
Suasana di aula pun menjadi semakin hangat dan interaktif ketika sejumlah siswa antusias berebut untuk menyampaikan pertanyaan mereka.
Meskipun ruangan terasa semakin gerah dan padat, para peserta tetap menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyimak penjelasan dari para calon formatur.
Melalui sesi dialog yang interaktif tersebut, para pemilih memiliki kesempatan untuk lebih mendalam mengenali gagasan dan karakter setiap kandidat sebelum menentukan pilihan mereka.
Selepas melaksanakan salat Zuhur dan beristirahat, proses pemilihan ketua umum resmi dimulai di aula sekolah pada pukul 13.00.
Siswa dari kelas VII hingga IX memasuki ruangan secara bergantian untuk memberikan suara mereka melalui sistem digital yang telah disiapkan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mekanisme pemilihan kali ini tidak lagi dibatasi hanya untuk dua perwakilan dari setiap kelas.
Sebaliknya, seluruh warga sekolah kini diberikan kesempatan penuh untuk memilih calon formatur secara langsung, mencerminkan semangat demokrasi yang lebih inklusif.
Bagi Aliyyah Rahel Karim, mekanisme pemilihan digital ini menjadikan proses tersebut terasa lebih praktis dan efisien.
Ia berpendapat bahwa sistem digital tidak hanya mengurangi risiko kesalahan dalam pencoblosan, tetapi juga meminimalkan penggunaan kertas, menjadikannya lebih ramah lingkungan.
Lebih dari itu, pemilihan raya ini memberinya kesempatan berharga untuk menentukan pilihan secara mandiri, sesuai dengan keyakinan pribadinya.
“Jadi, kalau misal sistem pemilihan raya kayak gini tuh menurut aku tuh lebih bagus ya, karena kan kita semua nih masing-masing individu tuh bisa milih sesuai sama yang kita mau,” ungkap Aliyyah, menyampaikan pandangannya.
Ia menaruh harapan besar agar ketua umum yang terpilih nantinya mampu membimbing seluruh anggota dan membawa IPM menjadi organisasi yang semakin berkembang pesat.
Oleh karena itu, ia menyatakan kesiapannya untuk memberikan kepercayaan penuh kepada siapa pun yang akan mengemban mandat kepemimpinan tersebut.
Setelah seluruh siswa selesai menggunakan hak pilih mereka, aula sekolah dipenuhi ketegangan menjelang pengumuman hasil pemilihan.
Keanu Zain Asmi Saputro kemudian membacakan perolehan suara yang secara langsung ditampilkan melalui layar ponsel, menambah suasana dramatis.
Nama demi nama calon formatur muncul satu per satu, disertai dengan jumlah suara yang berhasil mereka kumpulkan dari seluruh siswa.
Dari total 12 calon formatur yang berkompetisi, sembilan kandidat dengan perolehan suara terbanyak kemudian memperoleh kesempatan untuk mengikuti rapat sembilan kandidat lanjutan.
Dalam hasil akhir pemilihan tersebut, Javiero Kenzie Mochtara berhasil menempati posisi pertama dengan perolehan suara mencapai 573.
Hasil gemilang ini secara otomatis mengantarkannya menjadi Ketua Umum PR IPM SMP Musasi untuk periode bakti 2026–2027.
Melalui kepercayaan yang diberikan oleh para pemilih, Javiero kini memikul tanggung jawab besar untuk melanjutkan berbagai program organisasi yang telah ada, sekaligus memperjuangkan aspirasi seluruh pelajar.
Ia menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang telah diberikan dan berjanji akan menjalankan kepemimpinannya dengan penuh amanah.
“Saya berjanji akan memimpin dengan amanah, mendengarkan teman-teman, dan membuat IPM kita lebih aktif, lebih solid, dan lebih bermanfaat,” ujarnya dengan penuh semangat.
Namun, ia juga menyadari dengan bijak bahwa sebuah kepemimpinan tidak akan dapat berjalan secara optimal hanya dengan mengandalkan seorang ketua saja.
Oleh karena itu, ia secara terbuka mengajak seluruh pengurus dan pelajar untuk membangun kerja sama yang solid demi mewujudkan organisasi yang lebih bermanfaat dan berdampak positif.
“Saya tidak bisa sendiri. Saya butuh dukungan pengurus dan seluruh pelajar untuk bergerak bersama menjadi pelajar yang cerdas, peduli, dan berdaya,” tambahnya, menekankan pentingnya kolaborasi.
Setelah penetapan ketua umum yang baru, panitia melanjutkan acara dengan serah terima jabatan yang simbolis melalui penyerahan bendera IPM dan pin ketua umum.
Pada momen serah terima tersebut, suasana di aula berubah menjadi sangat haru ketika pengurus lama menyerahkan amanah kepemimpinan kepada penerusnya.
Kebanggaan atas terpilihnya pemimpin baru bercampur aduk dengan kesedihan yang mendalam karena kebersamaan selama satu periode kepengurusan akan segera berakhir.
Beberapa anggota bahkan tidak kuasa menahan air mata yang tumpah, menunjukkan ikatan emosional yang kuat.
Bagi Afika Ruby Syifani, momen tersebut menjadi kesempatan berharga untuk menyampaikan terima kasih tulus kepada semua pihak yang telah menemaninya selama memimpin organisasi.
Ia secara khusus mengapresiasi dukungan dari para guru, pembina, serta rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu dalam menjalankan berbagai program kepengurusan.
Secara spesifik, Afika menyampaikan terima kasih kepada Ilham Akbar Noor Mokhammad, S.Kom., selaku pembina PR IPM periode 2026–2027 atas bimbingan dan dukungannya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Teguh Prastyo, S.Pd., Gr., yang telah mendampinginya selama setengah periode kepengurusan.
Melalui pesan perpisahannya, Afika dengan tegas menyatakan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak lepas dari kerja sama tim dan dukungan dari banyak pihak.
Dengan berakhirnya masa bakti ini, ia dengan lapang dada menyerahkan ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan estafet perjuangan.
Musyran XXVI PR IPM SMP Musasi pada akhirnya menghadirkan lebih dari sekadar proses pergantian kepengurusan semata.
Melalui seluruh rangkaian acara, mulai dari penyampaian visi-misi, dialog terbuka, pemilihan digital yang inovatif, hingga serah terima jabatan yang penuh makna, para siswa belajar menjalankan demokrasi secara nyata dan mendalam.
Mereka juga memperoleh pemahaman bahwa kepemimpinan tidak berhenti hanya pada kemenangan suara, melainkan terus berlanjut melalui tanggung jawab yang diemban dalam keseharian.
Sementara itu, air mata yang mengiringi berakhirnya masa kepengurusan lama menjadi bukti nyata akan arti kebersamaan dan kekeluargaan yang terjalin selama menjalankan amanah.
Di sisi lain, terpilihnya Javiero membuka lembaran baru dan kesempatan luas bagi kader-kader muda untuk mengembangkan organisasi melalui gagasan-gagasan segar dan kerja sama yang solid.
Pada akhirnya, Musyran ini menjadi pengingat penting bahwa setiap akhir dari sebuah masa jabatan selalu membawa awal dari perjuangan berikutnya yang harus dilanjutkan.
Sebab, amanah kepemimpinan tidak pernah berhenti ketika sebuah jabatan berpindah tangan, melainkan terus hidup dan berkembang melalui karya nyata serta perubahan positif yang terus diwujudkan.












