KlikMojok – Pada Selasa, 20 Oktober 2026, Ketua Lazismu Jawa Timur, Prof. Sigit Hermawan, menegaskan pentingnya optimalisasi media sosial, khususnya Story WhatsApp, sebagai sarana efektif bagi para amil untuk menyebarluaskan kegiatan dan program lembaga. Bertempat di Kopi Limasan, Sidodadi, Candi, Sidoarjo, ia menyoroti bahwa penggunaan Story WhatsApp merupakan cara sederhana namun ampuh untuk membagikan dokumentasi, informasi program, serta ajakan berzakat, berinfak, dan bersedekah kepada publik.
Pesan ini disampaikan oleh Prof. Sigit Hermawan dalam acara “Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi Lazismu Jawa Timur”. Kegiatan tersebut berlangsung di lokasi yang sama, yaitu Kopi Limasan, Sidodadi, Candi, Sidoarjo, pada hari Selasa, 20 Oktober 2026.
Kopdar media tersebut berhasil menarik partisipasi 45 peserta. Mereka berasal dari berbagai perwakilan bagian media Lazismu di seluruh daerah se-Jawa Timur, serta melibatkan personel dari Kantor Layanan Lazismu (KLL) yang berlokasi di Sidoarjo.
Prof. Sigit Hermawan menjelaskan bahwa setiap inisiatif dan program yang dijalankan oleh Lazismu harus dapat diakses dan diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, tugas amil tidak hanya terbatas pada pelaksanaan program, melainkan juga mencakup penyampaian informasi yang jelas mengenai kegiatan serta manfaat konkretnya kepada khalayak ramai.
Selain melalui saluran pemberitaan di media massa konvensional, para amil didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan media sosial yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu platform yang disoroti adalah Story WhatsApp, yang dinilai efektif sebagai sarana untuk mendokumentasikan kegiatan, menyebarkan informasi program, dan menyerukan ajakan untuk berzakat, berinfak, serta bersedekah.
Optimalisasi penggunaan media, dalam konteks ini, memegang peranan krusial dalam mendukung proses penghimpunan sekaligus pendayagunaan dana zakat, infak, sedekah, dan berbagai dana keagamaan lainnya.
Dengan strategi publikasi yang terencana dan sistematis, Lazismu berpotensi besar untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai urgensi dan manfaat zakat, infak, serta sedekah. Di samping itu, penyediaan informasi yang transparan dan mudah dipahami juga akan mempermudah masyarakat dalam mengidentifikasi program-program Lazismu dan memahami mekanisme penyaluran donasi mereka.
Lebih lanjut, publikasi yang efektif turut berfungsi sebagai instrumen vital dalam membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat. Untuk mencapai hal ini, para amil diwajibkan untuk menyajikan informasi secara terbuka, profesional, dan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Peran media Lazismu tidak hanya sebatas mengajak masyarakat untuk berdonasi, melainkan juga harus mampu menguraikan dan menunjukkan manfaat konkret dari setiap program yang dijalankan.
Melalui dokumentasi yang akurat mengenai proses penyaluran bantuan, pendampingan yang diberikan kepada para penerima manfaat, serta perkembangan dari setiap program, masyarakat dapat secara langsung melihat dampak positif dari pengelolaan dana zakat yang telah mereka percayakan.
Dengan demikian, publik tidak hanya sekadar mengetahui keberadaan program-program Lazismu, tetapi juga akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana dana yang mereka amanahkan kepada Lazismu memberikan manfaat nyata.
Kegiatan Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi ini dirancang sebagai wadah bagi para peserta untuk menguatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menjalankan peran media. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas penyampaian informasi kelembagaan dan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan Lazismu.
Para peserta mengikuti kegiatan ini dengan tujuan utama untuk memperkuat strategi komunikasi dan publikasi di seluruh lingkungan Lazismu. Keterlibatan perwakilan media dari berbagai daerah di Jawa Timur, serta beberapa peserta dari Kantor Layanan Lazismu (KLL) di Sidoarjo, menunjukkan komitmen terhadap peningkatan kapasitas ini.
Prof. Sigit Hermawan menambahkan bahwa melalui inisiatif seperti workshop ini, publikasi Lazismu diharapkan tidak lagi hanya sekadar berisi dokumentasi kegiatan semata. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya pemberitaan yang mampu mengangkat kisah-kisah inspiratif dari para penerima manfaat, menguraikan proses pemberdayaan yang dilakukan, serta menyoroti perubahan positif yang terwujud setelah suatu program berhasil dijalankan.
“Optimalisasi media bukan sekadar upaya meningkatkan jumlah publikasi. Lebih dari itu, media menjadi sarana untuk memperluas jangkauan informasi, menjaga hubungan dengan muzaki, donatur, mustahik, dan mitra, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap Lazismu,” ujar Prof. Sigit Hermawan, menggarisbawahi esensi dari strategi media yang komprehensif.












