KlikMojok – Siang itu, sekitar pukul 12.30 WIB, terik matahari memeluk Dusun Kesut, Desa Lambangkuning, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Di tengah rutinitas harian yang sunyi, Mutasan, seorang warga Desa Lumbang, tengah berhadapan dengan kepulan asap yang membumbung dari tumpukan sisa sampah barongan yang ia bakar. Apa yang semula ia anggap sebagai upaya sederhana membersihkan lingkungan, tak disangka, akan menjadi panggung terakhir bagi dirinya. Mutasan, seorang warga Lumbang Probolinggo, harus meregang nyawa setelah meninggal terbakar dalam insiden tragis saat berusaha menjinakkan kobaran api yang tak terkendali.
Peristiwa nahas itu bermula ketika api pembakaran sisa sampah barongan yang awalnya kecil, tiba-tiba membesar dengan cepat. Melihat kobaran api yang kian mengganas, Mutasan segera bergerak, berupaya keras untuk memadamkannya. Sebuah tindakan spontan yang didasari naluri untuk mengamankan diri dan lingkungan sekitar. Namun, takdir berkata lain. Api yang terus membesar itu justru menjebak Mutasan. Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, korban sempat berjuang, tetapi pada akhirnya, ia terjatuh dan tubuhnya terbakar. “Korban berusaha memadamkan api tersebut, namun api terus membesar sehingga membuat korban terjatuh dan terbakar,” demikian bunyi laporan Pusdalops BPBD Kabupaten Probolinggo yang disampaikan oleh Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.
Mutasan, yang beralamat lengkap di Dusun Waturiti RT 23/RW 06, Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, ditemukan dalam kondisi yang memilukan. Dalam laporan yang sama, BPBD juga menyebutkan bahwa korban memiliki riwayat sesak napas. Kendati demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi yang dapat memastikan apakah kondisi kesehatan tersebut memiliki korelasi langsung dengan insiden tragis yang merenggut nyawanya. Detail lengkap mengenai proses penemuan korban hingga ia dinyatakan meninggal dunia juga belum dirinci secara terbuka oleh pihak berwenang.
Tragedi yang menimpa Mutasan ini bukan sekadar catatan kematian, melainkan sebuah peringatan keras tentang bahaya laten dari aktivitas pembakaran sisa sampah atau vegetasi yang seringkali dianggap sepele. Oemar Sjarief, melalui insiden ini, kembali mengingatkan masyarakat akan risiko yang mengintai di balik api yang tak terkendali. “Api yang semula kecil bisa berubah menjadi kobaran yang sulit dijinakkan, bahkan mengancam nyawa orang yang berusaha memadamkannya,” ungkap Oemar, menegaskan betapa cepatnya situasi bisa berbalik dari terkendali menjadi bencana. Dalam konteks yang lebih luas, praktik pembakaran sampah terbuka seringkali menjadi penyebab utama kebakaran lahan dan hutan, terutama di musim kemarau, yang tidak hanya mengancam jiwa tetapi juga merusak ekosistem dan kualitas udara.
Kisah Mutasan kini menjadi bagian dari catatan kebencanaan BPBD Kabupaten Probolinggo. Namun, di balik angka dan laporan, ada sebuah pelajaran berharga yang harus direnungkan bersama. Bahwa sebuah tindakan sederhana seperti membakar sampah, jika tidak dilakukan dengan perhitungan dan kewaspadaan tinggi, bisa berujung pada konsekuensi paling fatal. Tragedi ini adalah pengingat pahit akan kerapuhan hidup di hadapan kekuatan alam yang tak terduga, serta urgensi untuk senantiasa mengedepankan keselamatan dan kearifan dalam setiap tindakan, terutama yang melibatkan api. Semoga kepergian Mutasan menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih bijak dalam mengelola lingkungan dan menjaga diri dari ancaman yang tak kasat mata.












