KlikMojok – Di balik keindahan lanskap Gunung Bromo yang kerap memukau, tersimpan kisah getir perjuangan hidup seorang Suraji. Setelah kobaran api yang melahap sebagian hutan dan lahan di kawasan itu mereda, Suraji kini terbaring lemah di ruang ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya, melawan rasa sakit akibat luka bakar yang mencapai 49 persen tubuhnya. Peristiwa karhutla Bromo bukan hanya meninggalkan jejak hitam pada alam, tetapi juga torehan mendalam pada takdir manusia.
Kondisi Suraji masih menuntut perhatian medis yang sangat serius. Luka bakar tingkat tinggi yang melingkupi hampir separuh tubuhnya memerlukan penanganan khusus, dan harapan kini tertumpu pada sebuah prosedur krusial: cangkok kulit. Informasi terkini yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mengindikasikan bahwa tindakan medis ini telah dijadwalkan untuk Suraji, sebuah langkah besar dalam perjalanan panjang pemulihannya.
Oemar Sjarief, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, menyuarakan harapannya agar tindakan medis tersebut dapat menjadi titik balik bagi pemulihan Suraji. Ia berharap agar Suraji segera melewati masa sulit ini setelah menjadi korban dalam peristiwa karhutla yang melanda kawasan Gunung Bromo. “Informasi terakhirnya, beliau akan menjalani cangkok kulit akibat luka bakar yang dialami mencapai 49 persen. Mudah-mudahan beliau bisa segera sembuh,” kata Oemar, dengan nada penuh harap.
Namun, di tengah gema doa dan harapan untuk kesembuhan Suraji, kabar duka justru menyelimuti. Munawi, seorang personel Manggala Agni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang turut berjuang memadamkan api dan juga menjadi korban karhutla, tak mampu lagi bertahan. Setelah menjalani perawatan intensif yang panjang di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Munawi menghembuskan napas terakhirnya.
Jenazah Munawi telah dipulangkan ke rumah duka di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, untuk proses pemulasaran terakhir, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan seperjuangannya. Kepergiannya adalah pengingat pahit akan risiko yang dihadapi para penjaga hutan dalam melindungi alam, sebuah pengorbanan yang tak terlupakan.
Oemar Sjarief menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Munawi, sebuah kehilangan besar bagi upaya pelestarian alam dan penanggulangan bencana. Ia juga kembali mengutarakan harapannya agar Suraji, yang hingga kini masih berjuang di ruang perawatan intensif, dapat bertahan dan segera menemukan jalan menuju kesembuhan. Kisah Suraji dan Munawi menjadi cerminan nyata dari harga mahal yang harus dibayar akibat bencana lingkungan. Ini adalah pelajaran tentang ketangguhan manusia di hadapan api, tentang pengorbanan yang tak ternilai, dan tentang pentingnya upaya kolektif untuk menjaga kelestarian alam agar tragedi serupa tak terulang. Bagi Suraji, perjuangan belum usai, sebuah lembaran baru menanti untuk ditulis, lembaran yang penuh dengan harapan akan pulihnya raga dan semangat.












