Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Guru MAM Trenggalek Sabet Juara Esai, Paparkan Sukses Ralina Literasi

badge-check

Guru MAM Trenggalek Sabet Juara Esai, Paparkan Sukses Ralina Literasi Perbesar

KlikMojok – Candra Dwi Aprida, seorang guru dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Trenggalek, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara kedua dalam lomba esai pada ajang Semarak Musyawarah Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (Musywil NA) Jawa Timur. Pencapaian ini mengukuhkan perannya dalam dunia literasi dan kontribusinya bagi masyarakat.

Pengumuman mengenai para pemenang kompetisi esai tersebut disampaikan secara resmi dalam acara pembukaan Musywil Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada hari Jumat, 16 Oktober 2026.

Esai yang ditulis oleh Candra berjudul ‘Ralina, Rumah yang Menyapa Zaman: Literasi dan Dakwah Kultural yang Ramah Anak dan Perempuan’. Judul ini secara jelas menggambarkan fokus dan semangat dari karya tulisnya yang berhasil menarik perhatian juri.

Melalui esainya, Candra mengangkat pengalaman inspiratif dari Rumah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Ralina) Trenggalek. Ralina disajikan sebagai model nyata dakwah kultural yang berkembang dari inisiatif masyarakat akar rumput, sangat peduli dan ramah terhadap anak-anak dan perempuan, serta memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap dinamika perkembangan zaman.

Candra Dwi Aprida sendiri dikenal sebagai seorang guru di MAM Trenggalek, yang sering disebut juga sebagai Muhammadiyah Boarding School (MBS) Trenggalek. Lebih dari itu, ia juga memegang peran penting sebagai Ketua Rumah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Ralina) Kabupaten Trenggalek.

Selain aktivitasnya di Ralina, Candra juga aktif dalam organisasi Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Trenggalek, di mana ia menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi Sosial dan Kebijakan Publik, menunjukkan komitmennya terhadap isu-isu sosial.

Dalam penjelasannya di esai, Candra menguraikan bahwa Ralina terbentuk dari sebuah inisiatif pelatihan relawan pegiat literasi yang diselenggarakan oleh PDNA Trenggalek pada tanggal 1 hingga 2 Oktober 2021. Latar belakang dari pelatihan ini adalah adanya kekhawatiran dan keresahan mengenai rendahnya kebiasaan membaca yang belum mengakar kuat, tidak hanya di kalangan Nasyiah dan Muhammadiyah, tetapi juga di tengah masyarakat luas.

Candra juga memperkuat argumennya dengan mengutip data dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, yang menunjukkan bahwa skor membaca siswa Indonesia hanya mencapai angka 359. Angka ini secara signifikan berada di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD yang mencapai 476, menandakan adanya tantangan besar dalam kemampuan literasi.

Meskipun di Trenggalek terdapat peningkatan pada indeks kegemaran membaca dan jumlah kunjungan ke perpustakaan, ia menyoroti bahwa indeks literasi secara keseluruhan justru sempat mengalami penurunan pada tahun 2024, menunjukkan kompleksitas masalah literasi.

Menurut pandangan Candra, kegemaran membaca saja tidak serta-merta menjamin kemampuan seseorang untuk memahami, menganalisis, serta mengaplikasikan informasi yang diperoleh dalam konteks kehidupan sehari-hari, sebuah poin krusial dalam mengembangkan literasi sejati.

Selanjutnya, Candra memaparkan berbagai capaian dan prestasi yang telah diraih oleh Ralina Trenggalek. Salah satu pencapaian signifikan adalah perolehan Bantuan Pemerintah senilai Rp50 juta dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2024.

Prestasi ini semakin istimewa karena Ralina berhasil menjadi satu-satunya Rumah Literasi di bawah naungan Nasyiatul Aisyiyah yang lolos seleksi baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional, bersaing dengan 340 komunitas penggerak literasi dari seluruh Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa konsep dakwah yang ramah anak diimplementasikan melalui kegiatan Taman Baca On Location yang rutin diadakan di Alun-Alun Trenggalek. Di lokasi ini, anak-anak diajak untuk terlibat dalam berbagai aktivitas interaktif seperti mendongeng, mewarnai, membaca, dan bahkan menulis secara langsung di ruang publik yang terbuka, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Sementara itu, dakwah yang ramah perempuan tercermin dari komposisi kader Ralina yang didominasi oleh perempuan muda Nasyiah. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengelola kegiatan, tetapi juga aktif menjadi narasumber, termasuk dalam berbagai pelatihan seperti pelatihan jurnalistik, memberdayakan peran perempuan dalam literasi dan komunikasi.

Untuk lebih memperkuat model Ralina di masa mendatang, Candra dalam esainya juga mengusulkan empat gagasan strategis. Gagasan tersebut meliputi pengembangan kanal digital terpadu, penyusunan modul dakwah kultural berbasis literasi yang berjenjang, program mentoring antar-Ralina di seluruh Jawa Timur, serta pembentukan kemitraan rutin dengan berbagai lembaga terkait.

Sebagai langkah awal implementasi, ia mengusulkan agar model ini diuji coba selama enam bulan di salah satu cabang dengan indikator keberhasilan yang terukur, sebelum kemudian diperluas ke cabang-cabang Ralina lainnya.

Dalam bagian penutup esainya, Candra menyampaikan pesan penting bagi komunitas atau pembaca di daerah lain. Ia menulis, “Bagi pembaca di daerah lain, pesan Ralina sederhana: mulailah dari ruang kecil yang ramah dan konsisten, libatkan banyak pihak, dan jangan berhenti pada kegiatan membaca semata,” menekankan pentingnya inisiatif lokal dan kolaborasi.

Candra Dwi Aprida juga mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas keberhasilan yang telah diraihnya. Ia mengatakan, “Saya bersyukur bisa mengikuti lomba menulis esai ini. NA ini salah satu rumah bagi saya untuk mengembangkan softskill, salah satunya menulis,” menunjukkan bagaimana Nasyiatul Aisyiyah menjadi wadah pengembangan dirinya.

Dengan semangat, ia berharap bahwa prestasi ini akan menjadi pemicu dan motivasi baginya untuk terus berkarya dan mengembangkan diri. “Semoga saya bisa terus meningkatkan softskill menulis saya di agenda selanjutnya. Dan tulisan saya bisa menjadi inspirasi, khususnya bagi yunda-yunda Nasyiatul Aisyiyah,” pungkasnya, berharap karyanya dapat menginspirasi banyak pihak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Setelah Api Bromo Padam: Perjuangan Suraji Melawan Luka Bakar, Menanti Cangkok Kulit, dan Memaknai Sebuah Kehilangan

20 Okt 2026 - 12:38 WIB

Setelah Api Bromo Padam: Perjuangan Suraji Melawan Luka Bakar, Menanti Cangkok Kulit, dan Memaknai Sebuah Kehilangan

Di Balik Seragam Bhayangkara: Setetes Darah, Sejuta Asa dari Polres Ponorogo

20 Okt 2026 - 12:37 WIB

Di Balik Seragam Bhayangkara: Setetes Darah, Sejuta Asa dari Polres Ponorogo

Smamdela Gelar Kokurikuler Inovatif: Gerak, Racikan, dan Bahasa Inggris untuk Pembelajaran Nyata

20 Okt 2026 - 12:36 WIB

Smamdela Gelar Kokurikuler Inovatif: Gerak, Racikan, dan Bahasa Inggris untuk Pembelajaran Nyata

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu

20 Okt 2026 - 09:45 WIB

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu

Menjelajahi Langit Malang Raya: Prakiraan Cuaca 20-21 Oktober 2026 yang Dinamis

20 Okt 2026 - 09:45 WIB

Menjelajahi Langit Malang Raya: Prakiraan Cuaca 20-21 Oktober 2026 yang Dinamis
Trending di Pendidikan