KlikMojok – Suasana di sekitar Balai Kota Surabaya pada Senin, 31 Agustus 2026, berubah riuh. Ribuan juru parkir yang tergabung dalam Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS) berkumpul, menggelar aksi unjuk rasa yang berujung pada pemblokiran akses Jalan Wali Kota Mustajab. Kawasan pusat pemerintahan kota yang biasanya tenang, mendadak dipadati massa yang menyuarakan tuntutan mereka.
Konsentrasi massa yang kemudian bergeser ke depan Taman Surya, area yang berdekatan dengan Balai Kota, memaksa aparat kepolisian mengambil tindakan. Pengalihan arus lalu lintas diberlakukan untuk mencegah kemacetan yang lebih parah meluas di sekitar pusat pemerintahan. Kendaraan dari arah Jalan Yos Sudarso dialihkan menuju Jalan Ketabang Kali, sementara dari sisi barat Jalan Wali Kota Mustajab diarahkan ke Jalan Jaksa Agung Suprapto. Langkah ini diambil demi mengurai kepadatan lalu lintas yang mulai terasa.

Titik demonstrasi yang berpindah ini terjadi setelah perwakilan massa menyatakan kekecewaan mendalam. Mereka merasa belum ditemui secara langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Ketidakpuasan ini memicu massa untuk memusatkan aksi di depan Taman Surya, sebuah lokasi yang strategis di kompleks Balai Kota.
Tuntutan utama para juru parkir terfokus pada dua hal krusial. Pertama, mereka mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk segera merealisasikan pembagian hasil pendapatan parkir sebesar 70 persen. Kedua, mereka menuntut penghapusan kewajiban pembayaran tunai dengan sistem target, terutama di tengah penerapan sistem parkir non-tunai yang mulai digalakkan. Bagi mereka, kedua poin ini menyangkut hajat hidup dan keadilan dalam pengelolaan parkir kota.
Situasi di lokasi demonstrasi sempat memanas, menunjukkan tingginya emosi para peserta. Sejumlah demonstran terpancing amarahnya, bahkan sampai naik ke area taman dan meluapkan kekesalan kepada petugas Satpol PP yang berjaga. Ketegangan nyaris memuncak menjadi kericuhan ketika seorang pemuda yang diduga bukan bagian dari massa aksi menjadi sasaran amukan. Beruntung, jajaran kepolisian dari Polsek Genteng sigap bertindak. Bersama sejumlah koordinator aksi, mereka melakukan pendekatan persuasif untuk meredam emosi massa dan mencegah terjadinya tindakan kekerasan fisik.
Upaya meredam ketegangan membuahkan hasil. Suasana demonstrasi berangsur kondusif. Massa yang sebelumnya bersitegang dengan petugas, perlahan duduk dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci yang diperdengarkan dari atas mobil komando. Aksi yang sempat diwarnai gesekan emosional itu akhirnya mereda, menyisakan harapan akan adanya dialog yang konstruktif antara juru parkir dan pemerintah kota.













