KlikMojok – Di bawah langit pagi Tulungagung yang mulai menghangat pada Senin, 31 Agustus 2026, ribuan wajah penuh harap memadati pelataran Klenteng Tjoe Tik Kiong. Bukan sekadar bangunan bersejarah, klenteng ini bertransformasi menjadi pusat kedermawanan, tempat ribuan warga mengantre dengan tertib—atau kadang berdesakan—demi mendapatkan paket sembako. Peristiwa ini bukan hanya tentang bantuan materiil, melainkan sebuah manifestasi spirit berbagi yang terjalin erat dengan ritual sakral sembahyang Pho Touw atau Ulambana.
Pemandangan antrean panjang yang membentang dari pagi hari adalah cerminan dari kebutuhan, sekaligus harapan. Di tengah keramaian itu, sejumlah personel kepolisian dan TNI disiagakan, berupaya keras menjaga ketertiban di antara lautan manusia, termasuk banyak di antaranya yang membawa anak-anak, bahkan balita. Mereka semua datang untuk menyambut uluran tangan yang disiapkan oleh pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong, sebuah tradisi yang melampaui batas-batas keyakinan.

Wibitono, salah seorang pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong, menjelaskan bahwa sembahyang Pho Touw adalah ritual tahunan yang diselenggarakan oleh umat Tri Dharma setiap tanggal 15 bulan ketujuh dalam kalender Imlek. Ritual ini dilandasi oleh kepercayaan bahwa pada bulan tersebut, seluruh arwah manusia dipercaya kembali turun ke Bumi. “Sembahyang ini digelar untuk mendoakan para arwah yang turun ke bumi, selain itu juga mendoakan arwah yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi,” ujarnya, menegaskan esensi kasih sayang dan penghormatan kepada leluhur serta jiwa-jiwa yang terlupakan.
Dalam kegiatan tahun ini, panitia bersama sukarelawan telah menyiapkan sebanyak 2.600 paket sembako. Setiap paket yang dibagikan berisi kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, dan mi instan, dirancang untuk meringankan beban hidup warga sehari-hari. Untuk memitigasi potensi desak-desakan, panitia berupaya mengatur jalur antrean dengan mendahulukan kelompok lansia dan anak-anak. Namun, antusiasme masyarakat yang meluap-luap membuat barisan tetap padat. Wibitono menambahkan, “Tahun ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya, mereka yang ngantri kabarnya dari luar kota, ada yang Kediri, Nganjuk, Tulungagung juga,” menunjukkan jangkauan dan dampak sosial yang meluas dari kegiatan ini.
Salah satu di antara ribuan pengantre adalah Sutini, yang telah berjuang dalam antrean sejak pukul 10.00 WIB. Ia datang bersama anaknya yang masih balita, berjuang di tengah kerumunan yang padat. Bagi Sutini, paket sembako yang diterimanya bukan sekadar bantuan, melainkan napas lega di tengah himpitan ekonomi. “Lumayan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari hari dan mengirit uang belanja,” pungkasnya, menggambarkan betapa berartinya uluran tangan ini bagi kelangsungan rumah tangganya.
Peristiwa di Klenteng Tjoe Tik Kiong ini lebih dari sekadar pembagian sembako. Ia adalah sebuah pelajaran tentang kemanusiaan, solidaritas, dan harmoni antarumat beragama. Di tengah antrean yang panjang, tersirat pesan bahwa kepedulian dan tindakan nyata dalam membantu sesama adalah inti dari setiap ajaran spiritual. Klenteng, sebagai pusat ibadah, pada hari itu menjadi jembatan kebaikan, mengajarkan pentingnya berbagi dan merawat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, sebuah pendidikan nilai yang tak lekang oleh waktu dan keyakinan.













