KlikMojok – Jalan Raya Gambiran, Mojoagung, Jombang, Kamis siang itu, tiba-tiba berubah menjadi panggung tragedi yang merobek hati. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas, sebuah jerit histeris pecah, melesat menembus kebisingan. Jerit itu berasal dari Mun (59), seorang ibu dari Kecamatan Sumobito, yang pada detik-detik mengerikan itu, harus menyaksikan pemandangan paling menyakitkan bagi seorang orang tua: anaknya, IH (35), terkapar tak bernyawa di aspal, korban dari sebuah kecelakaan maut di Jombang yang tak terhindarkan.
Luka fisik yang dideritanya seolah tak berarti dibandingkan luka batin yang menganga. Di tengah rasa sakit dan kepanikan, Mun harus menerima kenyataan pahit bahwa putra yang diboncengnya telah pergi untuk selamanya, meninggal dunia di lokasi kejadian, tepat di hadapan matanya. Sebuah kehilangan yang teramat besar, disaksikan dengan mata kepala sendiri, meninggalkan bekas luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 13.40 WIB. Saat itu, Mun tengah dibonceng oleh IH menggunakan sepeda motor Honda Beat bernomor polisi S-4819-OAR. Perjalanan mereka, yang entah menuju ke mana atau dari mana, tiba-tiba terhenti secara brutal. Sepeda motor mereka terlibat tabrakan hebat dengan truk Hino bernomor polisi L-9443-UK yang dikemudikan oleh RN (30), warga Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
Benturan keras yang tak terhindarkan itu seketika merenggut nyawa IH. Sementara Mun, sang ibu, mengalami luka-luka dan segera dilarikan untuk mendapatkan penanganan medis. Beruntung, pengemudi truk dilaporkan tidak mengalami luka serius.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Jombang, Ipda Nurul Iman, membenarkan adanya insiden tragis ini. “Satu orang pengendara sepeda motor meninggal di lokasi,” ujarnya, mengonfirmasi kabar duka yang menyelimuti keluarga korban.
Penyelidikan awal yang dilakukan pihak kepolisian, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, mengungkap kronologi yang memilukan. Truk Hino tersebut mulanya melaju dari arah barat menuju timur. Setibanya di lokasi kejadian, truk diduga hendak berbelok ke utara namun kurang memperhatikan arus lalu lintas di sisi kiri. Pada saat yang bersamaan, sepeda motor Honda Beat yang dikendarai IH melaju searah, tepat di sisi kiri truk. Jarak yang sudah terlampau dekat membuat tabrakan tak dapat dihindari, mengubah perjalanan biasa menjadi mimpi buruk.
Untuk mendalami peristiwa ini, petugas Satlantas Polres Jombang telah meminta keterangan dari dua saksi mata, yakni M Taufik (32), warga Desa Candi, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, dan Untung (50), warga Dusun Slombok, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.
Di tengah proses penyelidikan dan upaya penegakan hukum, kisah Mun menjadi pusat perhatian yang paling menyayat hati. Ia bukan hanya korban luka fisik akibat kecelakaan, tetapi juga menanggung beban luka batin yang tak terperikan. Menyaksikan kepergian buah hatinya di depan mata adalah pengalaman yang akan menghantuinya sepanjang sisa hidupnya. Tragedi ini tak hanya menambah daftar panjang angka kecelakaan di jalan raya, tetapi juga menjadi pengingat pilu tentang kerapuhan hidup, pentingnya kewaspadaan setiap detik di jalan, dan dampak dahsyat yang ditimbulkan oleh kelalaian. Sebuah pelajaran berharga, meski harus dibayar dengan harga yang teramat mahal, tentang betapa berharganya setiap nyawa dan setiap perjalanan.












