KlikMojok – Mahasiswa dari program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menunjukkan kontribusi nyata dalam upaya pemberdayaan 15 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Lazismu. Kontribusi ini diwujudkan melalui serangkaian pelatihan komprehensif yang meliputi strategi bisnis berbasis prinsip Islam dan teknik pemasaran digital.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), program magang ternyata bukan hanya sekadar ajang untuk mengenal dinamika dunia kerja. Lebih dari itu, pada hari Selasa, 3 November 2026, mereka secara aktif terlibat dalam pelatihan pemberdayaan UMKM yang diselenggarakan oleh Lazismu. Kegiatan penting ini berlangsung di Gedung DRPM Umsida Kampus 1, menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu mereka.
Pelatihan ini merupakan inisiatif strategis yang bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi di kalangan masyarakat melalui pengembangan usaha yang berkelanjutan. Sebelumnya, pada tanggal 27 Oktober 2026, Lazismu juga telah sukses menyelenggarakan pelatihan kurasi produk. Dalam sesi terbaru ini, sejumlah 15 pelaku UMKM binaan kembali hadir untuk mengikuti kelanjutan dari rangkaian program pemberdayaan tersebut.
Peserta pelatihan kali ini berasal dari berbagai sektor usaha yang sangat beragam. Produk yang mereka kembangkan meliputi telur asin, kopi bubuk, bolen, ikan asap, aneka gorengan, hingga kue pukis. Tak hanya itu, beberapa peserta juga aktif dalam pengembangan berbagai jenis produk olahan makanan lainnya, menunjukkan kekayaan inovasi kuliner.
Dalam sesi pelatihan ini, dua materi utama menjadi fokus pembahasan. Materi pertama adalah Strategi Bisnis dalam Perspektif Islam, sementara materi kedua membahas Digital Marketing untuk UMKM. Kedua topik ini dirancang untuk membekali para peserta agar mampu mengembangkan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga membawa keberkahan serta memiliki daya saing tinggi di pasar.
Bagi para mahasiswa Umsida, keterlibatan dalam kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan berharga untuk mendalami peran krusial komunikasi dalam konteks pemberdayaan ekonomi masyarakat. Mereka diberikan ruang untuk secara langsung menghubungkan teori dan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kebutuhan praktis serta tantangan nyata yang dihadapi oleh para pelaku usaha.
Sesi pertama pelatihan dibuka oleh Prof. Dr. Sigit Hermawan, S.E., M.Si., CIQaR., CRP., yang menyampaikan materi mengenai strategi bisnis dari perspektif Islam. Beliau adalah sosok yang menjabat sebagai Kepala Lazismu Jawa Timur, sekaligus merupakan salah satu dosen di Umsida.
Dalam pemaparannya yang mendalam, Prof. Sigit mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa aktivitas berdagang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya mengejar keuntungan materi semata. Lebih jauh, beliau menekankan bahwa kegiatan tersebut juga dapat memiliki nilai ibadah yang tinggi, asalkan dilakukan dengan niat yang tulus dan senantiasa berlandaskan pada prinsip-prinsip ajaran Islam.
“Islam memperbolehkan pedagang memperoleh keuntungan selama menjalankan usaha secara jujur dan wajar. Pedagang juga harus memastikan kegiatan usahanya tidak merugikan konsumen,” terang Prof. Sigit.
Menurut pandangan beliau, kesuksesan dalam berbisnis tidak bisa hanya diukur dari seberapa besar keuntungan yang berhasil diraih.
“Pelaku usaha perlu mengimbanginya dengan sikap amanah dan tanggung jawab terhadap pelanggan,” ujarnya.
Selanjutnya, Prof. Sigit memaparkan tujuh pedoman esensial yang sangat penting untuk diterapkan dalam mengembangkan sebuah usaha. Pedoman-pedoman tersebut meliputi niat yang benar dalam berdagang, menjaga kualitas produk, menjunjung tinggi kejujuran, memegang teguh amanah, serta menetapkan harga yang wajar dan tidak berlebihan.
Di samping itu, para pelaku UMKM juga diingatkan akan pentingnya meningkatkan upaya promosi produk dan mengelola aspek keuangan usaha secara tertib dan disiplin. Hal krusial lainnya adalah keharusan untuk memisahkan secara jelas antara dana usaha dengan kebutuhan pribadi, serta senantiasa berinovasi dengan memperhatikan masukan dan umpan balik dari para pelanggan.
Sesi pembahasan menjadi semakin interaktif dan menarik tatkala beberapa peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita mengenai pengalaman unik dalam menjalankan usaha masing-masing. Kisah-kisah yang mereka sampaikan secara nyata menggambarkan beragam strategi inovatif yang diterapkan untuk menjaga kualitas produk dan menarik minat pelanggan.
Salah satu peserta, Nurul, memperkenalkan produk andalannya berupa bandeng presto dan rolade. Ia sangat mengutamakan penggunaan bahan-bahan alami dalam proses produksinya. Pilihan ini diambil dengan tujuan utama untuk senantiasa menjaga aroma dan cita rasa khas yang menjadi identitas produknya.
Selain fokus pada kualitas rasa yang prima, Nurul juga cermat dalam mempertimbangkan aspek kemasan dan penetapan harga produknya. Ia selalu berupaya keras untuk menyesuaikan kedua hal tersebut agar selaras dengan kebutuhan dan daya beli para pelanggannya.
Di sisi lain, peserta bernama Ikhsan turut berbagi cerita mengenai usaha kuliner miliknya yang menawarkan ikan bakar dan ayam bakar. Ia menjelaskan bahwa pemilihan kedua jenis produk tersebut didasari oleh pertimbangan proses pengolahannya yang relatif lebih sederhana dan efisien.
Ikhsan menjadikan cita rasa yang otentik serta harga yang kompetitif sebagai keunggulan utama dari usahanya. Dengan menawarkan harga yang sangat terjangkau, produk-produknya berhasil menarik minat dan memiliki daya tarik yang kuat bagi para konsumen.
Tidak ketinggalan, Endri juga memperkenalkan usaha kopi bubuknya yang dikenal dengan merek ‘Kopi Pagi’. Ia berstrategi dengan menawarkan cita rasa yang khas dan harga yang relatif lebih terjangkau, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi para pelanggannya.
Setelah mendalami materi strategi bisnis Islami, para peserta kemudian melanjutkan sesi pelatihan dengan fokus pada Digital Marketing untuk UMKM. Dr. Detak Prapanca, S.E., M.M., yang merupakan dosen Manajemen di Umsida, didapuk sebagai pemateri untuk sesi kedua ini.
Dr. Detak Prapanca mengawali sesinya dengan mengajak para peserta untuk mengenali lebih jauh kondisi pasar saat ini dan memahami karakteristik calon pelanggan mereka secara mendalam. Beliau juga menegaskan betapa krusialnya peran teknologi digital dalam upaya memperkenalkan produk secara luas, sekaligus membangun identitas usaha yang kuat dan dikenal publik.
“Perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi sebelum membeli produk. Kini, calon konsumen dapat mengetahui harga, lokasi usaha, dan ulasan pelanggan melalui media sosial,” terang Dr. Detak.
Oleh karena itu, sangat penting bagi para pelaku UMKM untuk secara optimal memanfaatkan berbagai platform media digital guna memperluas jangkauan pemasaran produk mereka. Langkah strategis ini akan sangat membantu masyarakat agar lebih mudah mengenal dan menemukan produk-produk yang ditawarkan.
“Salah satu sarana yang menjadi pembahasan ialah WhatsApp Business. Platform tersebut membantu penjual berkomunikasi dengan calon pembeli sekaligus memberikan informasi produk,” ujarnya.
Lebih dari sekadar mempermudah komunikasi, WhatsApp Business juga memiliki kapabilitas untuk membantu mengarahkan percakapan yang terjadi menuju tahap transaksi penjualan. Selain itu, para peserta pelatihan juga dibimbing dalam mempelajari teknik pembuatan flyer sebagai salah satu media promosi produk yang efektif.
Dengan memanfaatkan flyer, para pelaku usaha dapat menyajikan informasi mengenai produk mereka dengan cara yang menarik visualnya dan mudah untuk dipahami oleh calon konsumen. Materi ini secara efektif melengkapi pemahaman peserta terkait pemanfaatan media digital dalam strategi pemasaran.
Dr. Detak Prapanca juga mengulas secara mendalam mengenai betapa krusialnya kemampuan dalam menyusun konten pemasaran yang tidak hanya menarik perhatian calon konsumen, tetapi juga mampu secara efektif mendorong audiens untuk pada akhirnya mengambil keputusan pembelian.
“Terdapat empat unsur utama dalam penyusunan konten pemasaran digital. Keempatnya meliputi hook, value, proof, dan call to action,” ujarnya.
Unsur ‘hook’ berfungsi sebagai penarik perhatian awal audiens, sedangkan ‘value’ bertugas untuk menunjukkan nilai atau keunggulan spesifik dari produk yang ditawarkan. Sementara itu, ‘proof’ berperan dalam membangun kepercayaan calon konsumen melalui penyajian bukti-bukti yang relevan dan meyakinkan.
Adapun ‘call to action’ adalah elemen yang berisi ajakan jelas kepada audiens untuk melakukan tindakan tertentu, seperti membeli atau mengunjungi. Keempat unsur fundamental ini secara kolektif membantu para pelaku UMKM dalam menyusun konten pemasaran yang jauh lebih terarah dan strategis.
Selain mendalami strategi penyusunan konten, para peserta juga dibekali dengan pemahaman mengenai tahapan perjalanan konsumen, mulai dari sebelum hingga setelah memutuskan untuk membeli suatu produk. Tahapan-tahapan krusial ini mencakup awareness (kesadaran), consideration (pertimbangan), conversion (konversi), dan retention (retensi pelanggan).
Pada tahap awareness, konsumen baru mulai mengenal keberadaan suatu produk atau merek. Selanjutnya, tahap consideration terjadi ketika calon pembeli secara aktif mempertimbangkan berbagai opsi produk sebelum akhirnya menentukan pilihan terbaik.
Tahap conversion merupakan momen krusial yang menandai terjadinya transaksi pembelian antara penjual dan konsumen. Sementara itu, retention berfokus pada strategi dan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada agar mereka tetap loyal dan menjadi pembeli berulang.
Para pelaku UMKM juga diberikan pemahaman mendalam mengenai metode yang tepat untuk mengukur keberhasilan kampanye pemasaran digital mereka. Ditekankan bahwa mereka perlu memperhatikan indikator-indikator yang lebih substansial, bukan hanya sekadar jumlah ‘likes’ pada setiap unggahan di media sosial.
Dua indikator yang sangat penting dalam evaluasi efektivitas pemasaran digital adalah reach dan engagement. Indikator reach secara spesifik menunjukkan jumlah total akun yang berhasil dijangkau atau dilihat oleh konten pemasaran yang telah disebarkan.
Sementara itu, engagement menggambarkan tingkat keterlibatan dan interaksi audiens terhadap konten yang dibagikan. Keterlibatan ini meliputi berbagai bentuk, mulai dari interaksi langsung seperti komentar atau ‘likes’, penyimpanan unggahan, hingga pembagian konten tersebut kepada pengguna lain.
Dengan menganalisis kedua indikator krusial ini, para pelaku usaha dapat melakukan evaluasi yang akurat terhadap efektivitas strategi promosi yang mereka jalankan. Proses evaluasi ini sangat membantu mereka dalam memahami sejauh mana konten pemasaran yang dibuat mampu menjangkau dan memengaruhi calon konsumen potensial.
Keterlibatan aktif para mahasiswa magang dalam kegiatan ini secara langsung memberikan mereka pengalaman berharga dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat. Secara khusus, mereka mendapatkan kesempatan emas untuk memahami secara mendalam seluruh proses pengembangan usaha yang dijalankan oleh para pelaku UMKM.
Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, para mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana komunikasi memegang peran sentral dalam pengembangan sebuah usaha. Peran tersebut mencakup spektrum luas, mulai dari upaya membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan hingga strategi memperkenalkan produk secara efektif melalui berbagai platform media digital.
Pengalaman praktis ini juga berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan teori-teori yang mereka pelajari di bangku perkuliahan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Hal ini terutama sangat relevan dalam bidang komunikasi pemasaran, strategi pengelolaan media digital, dan teknik penyampaian informasi yang efektif kepada khalayak masyarakat luas.












