Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan

badge-check

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan Perbesar

KlikMojok – Jalanan yang membentang dari Lamongan hingga Blitar mungkin terasa tak seberapa bagi sebagian orang, namun bagi Suparto, perwakilan peternak ayam petelur dari Kabupaten Lamongan, setiap kilometer yang ia tempuh mengandung beban harapan dan keputusasaan. Dengan tekad membaja, ia melaju, bukan untuk berlibur, melainkan untuk sebuah misi: menyelamatkan ratusan ribu ekor ayam dan puluhan keluarga peternak dari ancaman gulung tikar akibat krisis jagung yang tak kunjung usai.

Kondisi lapangan yang semakin mendesaklah yang mendorong Suparto, mewakili Koperasi Ternak Gunungrejo Makmur, untuk menempuh perjalanan panjang tersebut. Ia tak punya pilihan lain selain mengadukan langsung persoalan krusial ini kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang kebetulan sedang berada di Blitar. Ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan perjuangan untuk mempertahankan denyut nadi perekonomian lokal dan ketahanan pangan.

Suparto menjelaskan bahwa saat ini, harga jagung di tingkat petani telah melonjak drastis, mencapai angka Rp8.000 per kilogram. Harga ini sangat mencekik, jauh melampaui harga jagung bersubsidi yang disalurkan pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Perum Bulog, yaitu Rp5.000 per kilogram. Kesenjangan harga ini menjadi jurang pemisah antara kelangsungan hidup dan kebangkrutan bagi para peternak kecil.

“Kami sudah kritis, jagung sudah habis, jagung di petani itu sudah Rp8.000. Kami enggak bisa beternak, akhirnya harus afkir, ayamnya harus dijual, makanya kami wadul,” ungkap Suparto, menggambarkan betapa gentingnya situasi yang mereka hadapi. Kata-katanya mencerminkan keputusasaan kolektif dari 28 peternak yang bernaung di bawah Koperasi Gunungrejo Makmur, dengan total populasi ayam mencapai sekitar 100.000 ekor di Lamongan.

Koperasi ini sebenarnya telah mendapatkan alokasi bantuan jagung SPHP sebanyak 160 ton dari pemerintah. Namun, ironisnya, selama tiga pekan terakhir, para peternak tidak dapat melakukan penebusan karena stok jagung di Bulog kosong melompong. Suparto bahkan sempat berkeliling hingga ke Madura untuk mencari pasokan, namun hanya berhasil mendapatkan 40 ton jagung, jumlah yang hanya cukup untuk menyambung hidup koperasi dalam waktu singkat.

Perjalanan Suparto untuk menemui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bukanlah tanpa rintangan. Sebelumnya, saat menghadiri acara di Jakarta, ia gagal menemui Menteri Amran karena membludaknya jumlah peserta. Namun, kegagalan itu tidak mematahkan semangatnya. Begitu mendengar kabar Menteri Amran akan berkunjung ke Blitar, tanpa pikir panjang, Suparto langsung meluncur dari Lamongan, membawa serta seluruh harapan para peternak.

Berkat kegigihan dan semangat pantang menyerahnya, Suparto akhirnya berhasil bertemu langsung dengan Menteri Pertanian. Di hadapan sang menteri, ia memaparkan detail krisis yang melanda, berharap pengaduannya segera mendapat lampu hijau atau persetujuan, sehingga pasokan jagung SPHP untuk koperasinya dapat segera didistribusikan dan nafas usaha mereka bisa tersambung kembali.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, setelah mendengar langsung keluh kesah Suparto, akhirnya menyetujui permintaan peternak asal Lamongan tersebut. Bantuan jagung SPHP sebanyak 40 ton pun disetujui untuk segera disalurkan. Tak hanya itu, Menteri Amran langsung bertindak cepat dengan memerintahkan Kepala Bulog Bojonegoro untuk menyalurkan bantuan jagung SPHP sebanyak 40 ton pada hari itu juga. Perwakilan Bulog Bojonegoro yang mengikuti pertemuan melalui Zoom pun langsung menindaklanjuti perintah tersebut. “Hari ini juga tolong disalurkan,” tegas Menteri Amran, memberikan secercah harapan di tengah kegelapan.

Kisah Suparto adalah cerminan dari perjuangan tak kenal lelah para pelaku usaha mikro di sektor pertanian dan peternakan yang seringkali terperangkap dalam fluktuasi harga komoditas dan ketersediaan pasokan. Kegigihannya menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya advokasi langsung dan respons cepat dari pemangku kebijakan. Di balik setiap telur yang kita konsumsi, ada cerita panjang tentang kerja keras, harapan, dan kadang, sebuah perjalanan jauh demi secercah jagung untuk menyambung hidup.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir

5 Nov 2026 - 15:19 WIB

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

5 Nov 2026 - 15:18 WIB

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

Ritme Alam Semeru: Tiga Kali Erupsi dan Awan Panas Sejauh 4,5 KM, Menguji Kesiapsiagaan

5 Nov 2026 - 12:38 WIB

Ritme Alam Semeru: Tiga Kali Erupsi dan Awan Panas Sejauh 4,5 KM, Menguji Kesiapsiagaan
Trending di Pendidikan