Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir

badge-check

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir Perbesar

KlikMojok – Rintik hujan yang biasanya membawa berkah, kini terasa seperti palu godam bagi Nur Rokhim dan para petani di Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung. Hamparan hijau tanaman bawang merah mereka, yang seharusnya sebentar lagi memerah siap dipanen, kini berubah menjadi genangan cokelat keruh. Banjir yang melanda wilayah ini beberapa waktu lalu telah merenggut harapan, meninggalkan kerugian mendalam dan pertanyaan tentang masa depan panen mereka.

Intensitas hujan yang tak biasa tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama. Debit air sungai yang meluap tak mampu ditampung, merembes masuk dan menenggelamkan lahan pertanian. Bagi petani bawang merah, bencana ini bukan hanya tentang kehilangan hasil panen, tetapi juga tentang dilema berat: membiarkan tanaman membusuk di lahan atau memanennya lebih awal dengan kualitas dan harga yang jauh merosot. Kondisi ini secara drastis memengaruhi kualitas bawang merah, terutama bagi tanaman yang usianya belum matang untuk dipanen.

Nur Rokhim, salah seorang petani yang merasakan langsung dampaknya, menceritakan bahwa tanaman bawang merahnya mulai terendam sejak dua hari sebelum kami menemuinya. Luapan air sungai yang masif telah mengubah lanskap sawah mereka. “Kalau tanaman saya sudah siap panen, tapi ada juga yang belum siap panen terpaksa dipanen lebih awal,” ujarnya dengan nada pasrah. Keputusan sulit ini harus diambil untuk menyelamatkan sisa-sisa hasil jerih payah mereka. Membiarkan bawang merah terendam terlalu lama berarti memastikan pembusukan dan kerugian yang jauh lebih besar.

Ironisnya, panen dini bukanlah solusi tanpa masalah. Kualitas bawang merah yang terendam tentu saja menurun, berimbas langsung pada harga jual. “Yang sudah terendam banjir saja harganya anjlok apalagi tidak segera dipanen pasti rugi banyak,” ungkap Nur Rokhim. Namun, masalah tak berhenti di situ. Lebih parah lagi, para petani kini kesulitan mencari pembeli. Nur Rokhim membagikan pengalamannya yang getir: sebelum banjir, hasil panen bawang merahnya yang ditaksir mencapai 4 ton sudah dibeli seorang tengkulak seharga Rp82 juta. Namun, setelah banjir menerjang, kesepakatan itu berubah drastis. Harga ditawar turun menjadi Rp70 juta. Dan yang lebih menyakitkan, bahkan di harga yang sudah anjlok itu pun, pembeli tersebut akhirnya tak berani mengambil risiko.

Kisah Nur Rokhim adalah cermin dari ribuan petani lain yang menggantungkan hidupnya pada belas kasih alam. Musim hujan yang seharusnya membawa kesuburan, kini justru menjadi ancaman yang merenggut mata pencarian. Peristiwa ini bukan hanya sekadar catatan kerugian finansial, melainkan sebuah pelajaran pahit tentang kerentanan sektor pertanian di tengah perubahan iklim yang semakin tak menentu. “Ini saya masih menunggu pembeli lain, yang sebelumnya meski harga sudah turun tapi gak jadi membeli karena terendam banjir,” pungkasnya, menyisakan gantungnya harapan di tengah ketidakpastian. Di balik setiap rintik hujan, tersembunyi perjuangan gigih para petani, yang tak henti mencari cara untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan, menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi tantangan alam.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

5 Nov 2026 - 15:18 WIB

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan

5 Nov 2026 - 12:38 WIB

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan

Ritme Alam Semeru: Tiga Kali Erupsi dan Awan Panas Sejauh 4,5 KM, Menguji Kesiapsiagaan

5 Nov 2026 - 12:38 WIB

Ritme Alam Semeru: Tiga Kali Erupsi dan Awan Panas Sejauh 4,5 KM, Menguji Kesiapsiagaan
Trending di Pendidikan