Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Dedikasi Lazismu Kalsel: Lintas Pulau ke Rakernas, Mengusung Kisah Dakwah Meratus

badge-check

Dedikasi Lazismu Kalsel: Lintas Pulau ke Rakernas, Mengusung Kisah Dakwah Meratus Perbesar

KlikMojok – Lima perwakilan Lazismu Kalimantan Selatan (Kalsel) baru-baru ini menempuh perjalanan epik lintas pulau menggunakan sepeda motor. Tujuan mereka adalah menghadiri Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, sebuah agenda nasional penting bagi lembaga filantropi Islam.

Perjalanan panjang yang dilakoni oleh kelima delegasi dari Lazismu Kalsel ini, menuju perhelatan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di kota Semarang, menyimpan berbagai kisah dan pengalaman menarik yang patut diceritakan. Para delegasi tersebut memulai petualangan mereka dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan melintasi berbagai pulau serta perairan untuk mencapai destinasi akhir di Jawa Tengah, seluruhnya ditempuh dengan sepeda motor.

Rombongan Lazismu Kalsel ini sempat ditemui pada Rabu, 5 November 2026, ketika mereka singgah untuk transit di Kantor Lazismu Jawa Timur. Lokasi transit tersebut beralamat di Jalan Jawa Nomor 5, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bagi seluruh anggota rombongan, perjalanan yang melibatkan penyeberangan lintas pulau ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat istimewa. Tidak hanya harus menempuh jarak ratusan kilometer di jalur darat, mereka juga perlu menyeberangi lautan luas dengan menggunakan kapal feri.

Kelima perwakilan yang menjadi bagian dari rombongan ini adalah Erie Norahman, selaku Ketua Lazismu Kalimantan Selatan; Sulfadly, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Lazismu Kalimantan Selatan; serta tiga anggota lainnya yaitu Masjuandi, Gentha Pramadhona, dan Amir HA. Para delegasi ini sendiri berasal dari berbagai wilayah di Kalimantan Selatan, meliputi daerah Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Tapin, hingga Banjarmasin.

Rombongan Lazismu Kalsel memulai perjalanan darat mereka pada tanggal 3 November 2026. Dengan menempuh sekitar 300 kilometer perjalanan darat untuk mencapai pelabuhan, mereka kemudian melanjutkan penyeberangan menuju Pulau Jawa. Penyeberangan laut ini dilakukan menggunakan kapal Dharma Kartika 2 dan memakan waktu kurang lebih selama 18 jam. Setibanya di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, para anggota rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju kantor Lazismu Jawa Timur. Di sana, mereka memutuskan untuk singgah dan beristirahat selama satu malam, sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan darat menuju Semarang.

Erie Norahman, Ketua Lazismu Kalimantan Selatan, menyampaikan bahwa pengalaman menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor ini menjadi sesuatu yang sangat berkesan baginya dan tim. Menurut Erie, selain untuk berpartisipasi dalam agenda nasional Muhammadiyah Zakat Summit, perjalanan ini juga memberikan kesempatan baginya untuk menikmati suasana serta keindahan sepanjang perjalanan di Pulau Jawa.

Erie juga menjelaskan bahwa ini bukanlah kali pertama rombongan Lazismu Kalsel melakukan perjalanan lintas pulau menggunakan sepeda motor. Sekitar dua tahun yang lalu, ketika mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Yogyakarta, mereka juga menempuh perjalanan dengan moda transportasi yang sama. Pada kesempatan kali ini, rombongan tersebut kembali memilih rute perjalanan yang serupa. Setelah cukup beristirahat selama satu malam di Surabaya, mereka pun kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan terakhir menuju Semarang, guna mengikuti Muhammadiyah Zakat Summit 2026.

Kehadiran para perwakilan Lazismu Kalimantan Selatan dalam Muhammadiyah Zakat Summit 2026 ini membawa semangat baru dalam penguatan tata kelola lembaga. Terlebih lagi, forum nasional tersebut secara spesifik mengusung tema “Penguatan Tatakelola Lembaga yang Terintegrasi Menuju Filantropi Islam yang Berkelanjutan dan Berdampak”.

Namun, di balik agenda kelembagaan yang formal, keikutsertaan mereka juga membawa serta kisah-kisah inspiratif mengenai gerakan dakwah serta upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan. Salah satu kisah paling menarik yang dibawa adalah dari Masjuandi. Sejak tahun 2018, Masjuandi telah aktif dan berdedikasi dalam membina masyarakat mualaf yang tinggal di kawasan Meratus, sebuah daerah pedalaman di Kalimantan Selatan.

Tentu saja, jarak geografis menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi Masjuandi dalam menjalankan misi pembinaan ini. Rata-rata, ia harus menempuh perjalanan darat sejauh sekitar 200 kilometer untuk dapat menjangkau lokasi-lokasi masyarakat binaannya. Kendati demikian, tantangan geografis bukanlah satu-satunya hambatan yang Masjuandi hadapi. Ia juga harus berhadapan dengan tantangan sosial dan budaya yang unik dari masyarakat pedalaman, di mana karakter kehidupan mereka cenderung cukup keras.

Oleh karena itu, Masjuandi memilih untuk menggunakan pendekatan sosial sebagai strategi utama untuk dakwah. Ia memulai dengan membangun kedekatan emosional dengan masyarakat, melalui berbagai program pendampingan dan penyaluran bantuan di sektor kesehatan serta pendidikan. Selain fokus pada pembinaan aspek keagamaan, kegiatan yang dijalankan Masjuandi juga mencakup penyediaan layanan kesehatan esensial, seperti terapi bekam dan rukiah. Seluruh kegiatan mulia ini mendapat dukungan penuh dari Lazismu, yang menjadi payung bagi misi kemanusiaan Masjuandi.

Pendekatan holistik yang diterapkan Masjuandi ini perlahan-lahan mulai membuahkan hasil yang signifikan. Hingga saat ini, tercatat sekitar 150 individu telah bergabung dan menjadi bagian integral dari kelompok binaan masyarakat Meratus. Masjuandi lebih lanjut menceritakan bahwa perubahan positif dalam kehidupan keagamaan masyarakat binaannya mulai tampak nyata setelah program pembinaan berjalan selama delapan tahun. Kini, sebagian besar mualaf yang ia bina telah menunjukkan komitmen untuk menjalankan ibadah salat secara rutin. Bahkan, ada beberapa di antara mereka yang sudah memiliki kemampuan untuk mengumandangkan azan dan bahkan menjadi imam salat di komunitasnya.

Selain itu, perubahan signifikan juga mulai terlihat dalam tatanan kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut Masjuandi, mereka secara bertahap menunjukkan peningkatan dan perubahan adab yang lebih baik. Meskipun demikian, Masjuandi menjelaskan bahwa upaya pembinaan ini masih terus menghadapi tantangan besar, khususnya terkait dengan persoalan ekonomi. Kondisi ekonomi yang sulit seringkali menjadi godaan serius bagi masyarakat, yang dapat mempengaruhi konsistensi mereka dalam menjalankan ajaran agama.

Oleh karena itu, Masjuandi menegaskan bahwa penguatan akidah atau keyakinan spiritual tetaplah menjadi prioritas utama dalam setiap program pendampingan yang diberikan kepada para mualaf. Masjuandi menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pembinaan. Ia menyatakan, “Pembinaan tidak cukup hanya mengajarkan tata cara ibadah. Lebih dari itu, pendampingan harus menyentuh kehidupan sosial dan ekonomi agar perubahan masyarakat berjalan berkelanjutan,” ungkapnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir

5 Nov 2026 - 15:19 WIB

Ketika Sungai Meluap, Asa Petani Bawang Merah Tulungagung Terendam: Pelajaran dari Musim Banjir

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

5 Nov 2026 - 15:18 WIB

Asap Hitam di Balik Cukai: Mengurai Jerat Hukum dan Dampak Ekonomi Rokok Ilegal

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Jokowi Buka-bukaan Detail Ijazah Asli di Sidang Roy Suryo, Tepis Tudingan Palsu

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

5 Nov 2026 - 15:17 WIB

Sinergi Mahasiswa Ikom Umsida dan Lazismu: Dorong Pemberdayaan UMKM dengan Strategi Bisnis Islami & Digital

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan

5 Nov 2026 - 12:38 WIB

Mengayuh Harapan di Tengah Krisis Jagung: Kisah Perjuangan Peternak Lamongan
Trending di Pendidikan