Menu

Mode Gelap
Jejak Berdarah di Saluran Air: Mengurai Misteri Limbah Medis Surabaya yang Menjerat Nama Dokter Dari Biji Mentah ke Cangkir Juara: Menggebrak Pasar Kopi Bondowoso dengan Hilirisasi Inovatif Jejaring Lazismu: Medan Belajar Inovasi Program Unggulan dari Sidoarjo Cak Kin, Tukang Cukur Jember: Sedekah Lewat Gunting, Didukung Lazismu HEBOH! Danantara Protes Keras Soal Target Setoran Rp120 Triliun ke Negara, Klaim Tak Tahu Apa-Apa? Debat Panas Guru PJOK vs Camat Gara-gara Dompet Hilang di Malaka, Rekaman Viral!

Pendidikan

Dari Biji Mentah ke Cangkir Juara: Menggebrak Pasar Kopi Bondowoso dengan Hilirisasi Inovatif

badge-check


					Dari Biji Mentah ke Cangkir Juara: Menggebrak Pasar Kopi Bondowoso dengan Hilirisasi Inovatif Perbesar

KlikMojok – Di tengah semarak Festival Kopi Nusantara dan Tembakau (FKNT) IX yang memeriahkan Bondowoso, sebuah panggilan untuk transformasi menggema. Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, tak sekadar merayakan potensi kopi arabika Ijen-Raung, tetapi juga menyerukan sebuah revolusi: menghentikan dominasi penjualan bahan mentah dan mendorong komoditas unggulan daerah ini untuk “naik kelas”.

As’ad menegaskan bahwa kopi Bondowoso, yang memiliki cita rasa khas Ijen-Raung, sejatinya menyimpan potensi ekonomi luar biasa. Namun, potensi tersebut takkan teraktualisasi sepenuhnya jika hanya berhenti pada penjualan biji kopi mentah. Ia menekankan perlunya keberanian untuk melakukan hilirisasi, sebuah proses yang akan mengolah kopi menjadi produk bernilai tambah tinggi, inovatif, dan beragam, sehingga mampu menembus pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Kopi Bondowoso harus diproses untuk menghasilkan produk inovatif, beragam, dan bernilai tambah tinggi yang dapat dipasarkan di tingkat nasional dan internasional,” ujar As’ad saat menutup FKNT IX pada Jumat malam (4/9/2026). Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah visi strategis untuk mengangkat harkat ekonomi kopi Bondowoso.

Realisasi hilirisasi kopi, menurut As’ad, membutuhkan kolaborasi erat dari berbagai elemen. Pemerintah daerah, para petani yang menjadi tulang punggung produksi, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki kreativitas, akademisi yang membawa ilmu pengetahuan, hingga generasi muda yang penuh inovasi, semua harus bersatu padu. Kolaborasi ini krusial untuk menciptakan produk-produk baru yang unik dan memperluas jaringan pasar.

Lebih dari sekadar meningkatkan daya saing produk, pengembangan kopi dan tembakau diharapkan mampu memberikan dampak ganda. As’ad berkeinginan agar sektor ini tidak hanya mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah dan berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi yang terpenting adalah meningkatkan kesejahteraan para petani.

Di era kebangkitan “Bondowoso Republik Kopi”, As’ad secara khusus mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih sentral. Ia melihat geliat kreativitas anak muda Bondowoso semakin berkembang, terbukti dari berbagai kegiatan positif dan inovatif yang mengisi ruang publik selama festival berlangsung. FKNT IX menjadi bukti nyata kesiapan Bondowoso untuk maju, didorong oleh semangat anak-anak muda yang kini semakin kreatif.

“Festival ini menjadi bukti kesiapan daerah untuk maju di tengah semarak pembangunan dan bangkitnya semangat anak-anak muda Bondowoso yang kini semakin kreatif meramaikan ruang publik dengan inovasi dan kegiatan positif,” ungkapnya. Ia juga tak lupa memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang lomba dalam rangkaian FKNT IX, mendorong mereka untuk terus berkarya dan mengharumkan nama Bondowoso.

Ajakan untuk mencintai dan menggunakan produk lokal juga digaungkan As’ad kepada para pelajar dan seluruh masyarakat. Keberpihakan konsumen terhadap produk daerah, menurutnya, adalah pondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang kuat.

“Melalui penutupan festival ini, saya mengajak anak-anakku para siswa dan seluruh warga Bondowoso untuk terus bangga dan mencintai produk lokal kita,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, menambahkan bahwa FKNT IX berhasil menarik perhatian, terutama melalui kompetisi inovasi berbasis kulit kopi. Inisiatif ini menggaet peserta dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan akademisi dan bahkan dari luar Pulau Jawa, menunjukkan potensi besar pemanfaatan limbah kopi.

“Peserta ada dari delapan kompetensi inovasi kulit kopi. Banyak yang berasal dari akademisi. Tahun berikutnya, semoga bisa menambah kompetensi, mengingat banyak peserta yang datang dari luar Jawa,” kata Mulyadi. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan kulit kopi bukan hanya mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga membuka cakrawala baru dalam pengembangan kopi, menunjukkan bahwa tidak hanya biji kopi yang memiliki peluang.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi kopi dan tembakau, tetapi juga wadah peleburan seni, budaya, dan inovasi. Penampilan seni pada malam penutupan, yang merupakan hasil seleksi lomba, menegaskan bahwa FKNT IX berhasil menjadi platform bagi masyarakat, akademisi, dan generasi muda untuk melahirkan ide-ide segar yang akan memperkuat posisi Bondowoso sebagai produsen kopi yang diperhitungkan di kancah nasional dan internasional.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jejak Berdarah di Saluran Air: Mengurai Misteri Limbah Medis Surabaya yang Menjerat Nama Dokter

5 September 2026 - 09:46 WIB

Jejaring Lazismu: Medan Belajar Inovasi Program Unggulan dari Sidoarjo

5 September 2026 - 09:44 WIB

Cak Kin, Tukang Cukur Jember: Sedekah Lewat Gunting, Didukung Lazismu

5 September 2026 - 09:43 WIB

Kobaran Merah di Driyorejo: Enam Jam Penuh Peluh Memadamkan Kebakaran PT Wings Surya

5 September 2026 - 07:10 WIB

Vocatama Perkuat Pendidikan Vokasi: Dua Kepala Sekolah Baru Bawa Visi Peningkatan Kualitas dan Karakter

5 September 2026 - 07:09 WIB

Trending di Pendidikan