Menu

Mode Gelap
Motor Listrik Polytron: Tembus 70.000 Pengguna, Siap Gebrak GIIAS Surabaya 2026 Strategi Komprehensif SMA Muhi Antar 269 Lulusan ke PTN dan Kampus Global Merawat Cinta di Layar Kaca: Jejak Ning Margaret dan Pesan Kultural Fatayat NU di Jombang Jejak Intelektual Gus Hayid: Mengurai Visi NU Abad Kedua dalam Tiga Jilid Komprehensif Pengalaman Spiritual dan Fisik: Kemahiran HW Spemutu Bentuk Karakter Tangguh Siswa Kelas VII Gebyar UMKM Sidoarjo: Wadah Promosi Produk Lokal dan Naik Kelas Pelaku Usaha

Review

Mahasiswa Turun ke Jalan, Penulis Senior Pilih Literasi: Perjuangan Jaga Demokrasi Lewat Aksi dan Tinta

badge-check


					Mahasiswa Turun ke Jalan, Penulis Senior Pilih Literasi: Perjuangan Jaga Demokrasi Lewat Aksi dan Tinta Perbesar

KlikMojok – Demonstrasi atau unjuk rasa merupakan salah satu bentuk ekspresi krusial dalam kehidupan berdemokrasi. Ketika mahasiswa, buruh, maupun organisasi masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, sesungguhnya mereka sedang menghadirkan denyut demokrasi di ruang publik. Suara yang terdengar di jalanan bukan semata-mata kebisingan, melainkan bentuk kegelisahan rakyat yang ingin didengar oleh para pemegang kekuasaan.

Penulis artikel ini secara pribadi memberikan dukungan penuh terhadap mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang idealis dan memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik. Sejarah Indonesia telah berulang kali menunjukkan bahwa mahasiswa kerap mengambil peran penting dalam mengawal perubahan bangsa. Mereka bukanlah musuh negara, melainkan salah satu kekuatan moral yang dimiliki bangsa ini. Kritik yang disampaikan dengan penuh tanggung jawab semestinya dipandang sebagai vitamin bagi demokrasi, bukan ancaman yang harus segera dibungkam.

Pada usianya yang telah menginjak 74 tahun, perjuangan penulis tentu mengambil jalan yang berbeda dari generasi muda. Jika generasi muda memilih untuk menyampaikan suara melalui aksi di jalanan, penulis memilih berjuang melalui literasi: membaca, menulis, berdiskusi, dan menerbitkan buku. Media perjuangannya memang berbeda, namun tujuannya sama, yakni ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga Indonesia agar tetap berpikir sehat, kritis, dan beradab.

Bagi seorang jurnalis, keberpihakan kepada kebenaran merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab moral. Jurnalis seharusnya tidak bersikap netral terhadap kebohongan dan ketidakadilan. Keberpihakan ini bukan berarti kehilangan independensi, melainkan sebuah sikap berdiri di atas fakta dan hati nurani, terutama ketika suara masyarakat kecil tidak memperoleh ruang yang cukup untuk didengar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Motor Listrik Polytron: Tembus 70.000 Pengguna, Siap Gebrak GIIAS Surabaya 2026

29 Agustus 2026 - 06:27 WIB

Menyingkap Dua Sisi Gaya Belanja Digital: Eksploratif Naykilla vs Praktisnya Tenxi

28 Agustus 2026 - 12:34 WIB

PAI yang Memanusiakan: Mengapa Guru Tak Perlu Menunggu ‘Label’ untuk Bantu Siswa Ketinggalan di Kelas Reguler?

28 Agustus 2026 - 06:16 WIB

DPR Didesak Publik Beri Jaminan Tertulis Soal RUU Perampasan Aset, Tanggal Ketok Palu 15 Desember 2026 Jadi Sorotan

27 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Bukan Sekadar Efek Glowing: Tiga Kriteria Penting Memilih Sunscreen Tepat Menurut Dokter Kulit

27 Agustus 2026 - 21:54 WIB

Trending di Review