KlikMojok – Di tengah hiruk pikuk kelas reguler, realitas keragaman kemampuan peserta didik seringkali menjadi tantangan serius, terutama dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Tak semua anak bisa menyerap materi dengan kecepatan yang sama; ada yang sigap menangkap materi, ada pula yang butuh waktu lebih panjang untuk memahami instruksi, mengingat materi, bahkan membaca ayat Al-Qur’an dengan lancar. Lantas, apakah perlakuan pembelajaran yang sama untuk semua siswa benar-benar adil?
Pertanyaan krusial ini mengemuka seiring fenomena keterlambatan belajar yang kerap ditemui di kelas reguler. Beberapa siswa terlihat lambat memahami instruksi, mudah lupa, kurang percaya diri, atau memerlukan pengulangan berulang kali saat belajar membaca Al-Qur’an. Kondisi ini menjadi semakin kompleks manakala mereka tidak memiliki diagnosis klinis formal maupun pendamping khusus. Ini bukan sekadar persoalan angka atau ketuntasan materi, melainkan cerminan kebutuhan mendalam akan PAI yang lebih humanis.

Zakia Fitri Nabila, seorang mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam dari Universitas Pendidikan Indonesia, menegaskan bahwa PAI seharusnya menjelma menjadi ruang yang memanusiakan. PAI harus menjadi tempat di mana setiap anak merasa diterima, dihargai, dibimbing, dan diberi kesempatan penuh untuk berkembang sesuai dengan potensi serta kemampuannya. Konsep “mengajar tanpa melabeli dan mendampingi tanpa mengucilkan” menjadi inti dari pendekatan ini, menekankan bahwa guru tidak seharusnya menunggu hadirnya sebuah “label” untuk mulai memberikan bantuan.
Perdebatan tentang bagaimana seharusnya guru PAI menyikapi siswa dengan keterlambatan belajar tanpa adanya “label” formal adalah isu penting yang sering terabaikan. Guru seringkali dihadapkan pada dilema: menunggu diagnosis resmi atau langsung memberikan bantuan adaptif? Artikel ini secara tajam menyoroti bahwa guru tidak seharusnya menunda pemberian bantuan hanya karena belum ada label resmi. Keterlambatan belajar, menurut pandangan ini, perlu dipahami secara lebih luas, sebab lambatnya perkembangan akademik seorang anak tidak selalu semata-mata berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Ini adalah seruan untuk transformasi paradigma pengajaran PAI yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individual siswa.













