KlikMojok – Jombang, Jawa Timur – Di tengah riuhnya perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sebuah agenda yang sarat makna digelar oleh Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU. Bertempat di Pondok Pesantren Al Bisri, Jombang, yang menyimpan histori mendalam sebagai kediaman almarhumah Hj. Margaret Aliyatul Maimunah atau yang akrab disapa Ning Margaret, organisasi perempuan NU ini menyelenggarakan bedah film bertajuk ‘Ibadah dan Cinta’ pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Peristiwa ini bukan sekadar diskusi film biasa. Bagi keluarga besar Fatayat NU, acara ini adalah sebuah penghormatan mendalam kepada Ning Margaret, sosok pemimpin perempuan yang inspiratif dan sangat berpengaruh, yang telah berpulang pada Maret lalu. Sebelum wafat, Ning Margaret sempat menorehkan bakti serta dedikasi seni dengan memerankan karakter seorang Bu Nyai dalam sinema karya sutradara Jastis Arimba tersebut, sebuah karya yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 24 September 2026 mendatang.

Dewi Winarti, selaku Pj Ketua Umum PP Fatayat NU, meyakini bahwa keberadaan film ini adalah takdir manis yang telah digariskan. “Sebelum beliau sedo (meninggal dunia, red), beliau meninggalkan film ini. Dan di film ini ternyata nilai ini kan sebetulnya pesan untuk sebuah keluarga, hubungan laki-laki dan perempuan, kesalingan seorang ayah dan ibu dalam mendidik anak-anaknya,” ujar Dewi Winarti, menyoroti esensi pesan yang terkandung dalam karya terakhir Ning Margaret.
Lebih lanjut, Dewi menegaskan bahwa makna keikhlasan dan pesan moral yang disampaikan almarhumah Ning Margaret melalui layar kaca menjadi pemantik semangat yang tak pernah padam bagi para kader untuk terus merawat organisasi secara konsisten. “Dan sebagaimana kata kunci yang Ketua Umum sampaikan di dalam film ini, bahwa ‘cinta itu tumbuh karena dirawat’. Fatayat NU ini akan bisa tumbuh ketika kita rawat dengan cinta. Begitu,” ungkap Dewi, menggarisbawahi filosofi yang relevan dengan keberlangsungan organisasi.
Penayangan film ‘Ibadah dan Cinta’ di momen muktamar ini juga menjadi langkah taktis Fatayat NU dalam menyampaikan syiar dakwah kultural. Dengan kehadiran belasan pengurus wilayah se-Indonesia, termasuk hampir semua perwakilan dari 36 kabupaten/kota di Jawa Timur, pesan moral film ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang luas dan beragam. “Pesan moral ini kami sampaikan lewat momen ini. Karena ini hadir ada 12 provinsi hadir di tempat ini, dan untuk Jawa Timur hampir semua, 36 kabupaten/kota hadir,” jelas Dewi. Ia menambahkan, “Kita harapkan dakwah ini tidak hanya melalui ruang-ruang dialog, ruang-ruang monolog, tapi bahwa dari ruang budaya, ruang seni ini juga bisa muncul yang bisa membangkitkan semangat adik-adik muda.”
Jastis Arimba, sutradara di balik film ‘Ibadah dan Cinta’, mengungkapkan kekagumannya terhadap totalitas dan keluwesan akting almarhumah Ning Margaret selama proses pengambilan gambar. “Ibu almarhumah Ibu Margaretha ini bukan aktor tapi bisa berakting dengan luwes gitu ya, dengan baik, karena dia juga punya dedikasi yang luar biasa. Lalu terlibat dan men-support menjadi bagian dalam dari film Ibadah dan Cinta itu sendiri,” terang Jastis Arimba.
Ia juga membeberkan alur cerita film yang menyoroti lika-liku romansa beda kultur dan ideologi, berlatar belakang Kota Melbourne dan kehidupan pesantren di Jawa Barat. “Ini ngomongin soal romansa cinta beda kultur ya, beda budaya, beda keyakinan. Di mana dua orang dari kultur yang berbeda, dari pemahaman dan ideologi yang berbeda bertemu, jatuh cinta, lalu mulai melebur dan menjadi, khususnya bagi karakter laki-laki ini sebagai menjadi jalan pulang ya untuk menemukan keimanannya kembali,” papar sutradara. Jastis turut mengakui tantangan berat yang dihadapi kru saat syuting di Australia dengan cuaca dingin ekstrem di bawah nol derajat Celsius. “Cuaca dingin, hujan enggak salju sih alhamdulillah tapi luar biasa waktu itu di bawah 0 derajat lah, udah minus waktu itu. Dan berbanding dengan Jakarta yang panas kan,” kenangnya.
Dengan segala tantangan dan dedikasi yang tercurah, Jastis berharap karya sinematik ini mendapat tempat hangat di hati masyarakat luas sebagai tontonan yang sarat akan tuntunan hidup. “Harapannya mudah-mudahan film ini bisa ditonton banyak oleh keluarga Indonesia ya, sehingga tadi nilai-nilai yang ingin kita sampaikan, ingin kita deliver lewat film ini bisa tersampaikan ke masyarakat luas lebih banyak,” tuturnya.
Sementara itu, Produser Film ‘Ibadah dan Cinta’, Arismuda, menekankan betapa kompleksnya menggambarkan dinamika interaksi sosial di dalam lingkungan pondok pesantren secara akurat. “Ngangkat kehidupan pesantren itu tidak gampang. Tidak semua orang tahu seperti apa sih relasi antar Kiai sama Nyai sama anaknya,” pungkas Arismuda, menggambarkan kedalaman riset dan kehati-hatian yang diperlukan dalam produksi film ini. Melalui ‘Ibadah dan Cinta’, warisan pemikiran dan semangat Ning Margaret terus hidup, mengalirkan pesan-pesan universal tentang keluarga, keimanan, dan pentingnya merawat cinta dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam berorganisasi dan berdakwah. Film ini menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya adalah medium yang kuat untuk menyampaikan pendidikan moral dan spiritual, terutama bagi generasi muda Fatayat NU dan masyarakat luas.













