Menu

Mode Gelap
Gebyar UMKM Sidoarjo: Wadah Promosi Produk Lokal dan Naik Kelas Pelaku Usaha Wabup Mimik Dorong Inovasi dan Pemasaran Digital UMKM Sidoarjo, Ajak Warga Borong Produk Lokal Setelah Kibar Bendera, Delapan Paskibraka Bawean Menanti Pulang di Tengah Gelombang Tinggi Apresiasi Anggota DPR: Buku ‘Hidup Berkah’ Hadirkan Pilar Kebermanfaatan bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara Melalui Rapat Koordinasi, SD Muhammadiyah 16 Surabaya Kukuhkan Komitmen Transformasi Pendidikan Berbasis Kreativitas BPR Delta Artha Perluas Jangkauan Kurda Rp 121 Miliar untuk UMKM Sidoarjo, Kini Jemput Bola ke Desa

Pendidikan

Setelah Kibar Bendera, Delapan Paskibraka Bawean Menanti Pulang di Tengah Gelombang Tinggi

badge-check


					Setelah Kibar Bendera, Delapan Paskibraka Bawean Menanti Pulang di Tengah Gelombang Tinggi Perbesar

KlikMojok – Gemuruh tepuk tangan dan kebanggaan mengiringi kibaran Sang Merah Putih di langit Gresik, 17 Agustus 2026. Delapan pasang mata, penuh haru dan bangga, menyelesaikan tugas mulia mereka sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gresik. Namun, euforia itu kini bercampur dengan penantian. Delapan pelajar asal Pulau Bawean ini, alih-alih langsung kembali ke pelukan keluarga, masih harus memperpanjang masa tinggal di Gresik. Mereka terhadang gelombang tinggi dan angin kencang di Laut Jawa, sebuah tantangan alam yang menunda kepulangan para pahlawan muda ini.

Rencana kepulangan para pelajar berprestasi ini terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem di Laut Jawa. Gelombang tinggi yang disertai angin kencang telah membuat layanan penyeberangan menuju Bawean belum dapat beroperasi secara normal. Padahal, rekan-rekan Paskibraka dari daerah lain telah lama meninggalkan Gresik setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Sementara itu, delapan pelajar kebanggaan Bawean ini dengan sabar menunggu kesempatan untuk menyeberang, berharap kondisi laut segera membaik. Mereka diketahui telah berada di Gresik selama sekitar 15 hari sebelum upacara kemerdekaan, menjalani karantina intensif dan berbagai tahapan latihan bersama anggota Paskibraka lainnya, mempersiapkan diri untuk momen bersejarah tersebut.

Di tengah penantian yang tak pasti ini, pemerintah daerah tak tinggal diam. Ketua DPRD Gresik, M Syahrul Munir, menegaskan bahwa kebutuhan kedelapan pelajar tersebut tetap menjadi perhatian selama masa tunggu. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gresik masih menanggung biaya tempat tinggal mereka, sementara kebutuhan konsumsi sehari-hari juga mendapat dukungan penuh. “Penginapan masih ditanggung Kesbangpol Gresik. Untuk makan sehari-hari juga kami bantu fasilitasi sampai mereka bisa kembali ke Bawean,” kata Syahrul Munir, Jumat (28/8/2026), menunjukkan komitmen pemerintah daerah.

Dalam kesempatan pertemuan dengan para pelajar, Syahrul Munir juga menyampaikan apresiasi mendalam atas perjuangan dan dedikasi mereka yang telah dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Gresik. Ia menekankan, pengalaman berharga menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan akan menjadi bekal penting bagi pengembangan diri mereka di masa depan. “Kalian sudah mendapat pengalaman dan prestasi yang membanggakan sebagai anggota Paskibraka. Jadikan itu penyemangat untuk terus belajar dan meraih prestasi berikutnya. Selama menunggu kepulangan, tetap jaga kesehatan,” ujarnya, memberikan semangat. Politisi PKB itu juga tak lupa berpesan agar para pelajar lebih kritis terhadap informasi yang beredar, menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi kebenarannya. “Di era digital, informasi bisa menyebar sangat cepat. Karena itu, jangan langsung percaya dan membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya,” imbuhnya, menyoroti pentingnya literasi digital.

Senada dengan itu, anggota DPRD Gresik dari daerah pemilihan Bawean, Bustami Hazim, memastikan bahwa koordinasi dengan berbagai organisasi perangkat daerah terus dilakukan. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh kebutuhan para pelajar tetap terpenuhi selama mereka belum bisa menyeberang kembali ke pulau asal. Pertemuan dengan pimpinan DPRD Gresik ini juga menjadi momentum penting bagi kedelapan pelajar untuk menyampaikan sejumlah aspirasi. Beberapa masukan yang mereka sampaikan berkaitan erat dengan dunia pendidikan serta kondisi generasi muda di Pulau Bawean. “Ada beberapa aspirasi yang mereka sampaikan, terutama mengenai pendidikan dan persoalan anak muda di Bawean. Masukan tersebut kami catat untuk menjadi perhatian dan ditindaklanjuti,” pungkas Bustami Hazim, menandakan bahwa suara para pemuda Bawean telah didengar dan akan menjadi pertimbangan kebijakan ke depan.

Kisah delapan Paskibraka Bawean ini bukan sekadar cerita tentang penundaan kepulangan. Ini adalah narasi tentang dedikasi, ketangguhan, dan semangat kebangsaan yang tak lekang oleh gelombang. Di tengah ketidakpastian alam, mereka tetap menunjukkan optimisme, didukung penuh oleh pemerintah daerah yang memastikan kesejahteraan mereka. Penantian di Gresik ini mungkin menjadi ujian, namun sekaligus pelajaran berharga tentang adaptasi, kesabaran, dan ikatan kekeluargaan yang kuat antara anak bangsa dan tanah airnya, bahkan ketika terpisah oleh lautan yang bergejolak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Apresiasi Anggota DPR: Buku ‘Hidup Berkah’ Hadirkan Pilar Kebermanfaatan bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara

28 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Melalui Rapat Koordinasi, SD Muhammadiyah 16 Surabaya Kukuhkan Komitmen Transformasi Pendidikan Berbasis Kreativitas

28 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Aroma Penolakan: Warga Bangunsari Menang, Rencana TPST Berpindah ke Kaliabu

28 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Tragedi di Sawah Sumenep: Lansia Pikun Ditemukan Meninggal dalam Kobaran Api

28 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Siswa SDMM Asah Keterampilan Digital dan Strategi di Kompetisi Roblox Tingkat ASEAN

28 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Trending di Pendidikan