Menu

Mode Gelap
Jejak Berdarah di Saluran Air: Mengurai Misteri Limbah Medis Surabaya yang Menjerat Nama Dokter Dari Biji Mentah ke Cangkir Juara: Menggebrak Pasar Kopi Bondowoso dengan Hilirisasi Inovatif Jejaring Lazismu: Medan Belajar Inovasi Program Unggulan dari Sidoarjo Cak Kin, Tukang Cukur Jember: Sedekah Lewat Gunting, Didukung Lazismu HEBOH! Danantara Protes Keras Soal Target Setoran Rp120 Triliun ke Negara, Klaim Tak Tahu Apa-Apa? Debat Panas Guru PJOK vs Camat Gara-gara Dompet Hilang di Malaka, Rekaman Viral!

Pendidikan

Jejak Berdarah di Saluran Air: Mengurai Misteri Limbah Medis Surabaya yang Menjerat Nama Dokter

badge-check


					Jejak Berdarah di Saluran Air: Mengurai Misteri Limbah Medis Surabaya yang Menjerat Nama Dokter Perbesar

KlikMojok – Pada suatu siang yang terik di Surabaya, tepatnya Selasa, 25 Agustus 2026, sebuah pemandangan tak lazim memecah ketenangan di tanah kosong dekat Exit Tol Tambak Sumur. Warga menemukan sepuluh kantong plastik besar yang menggunung, bukan berisi sampah rumah tangga biasa, melainkan ribuan alat suntik bekas, kapas, ampul kecil kosong, dan kain kasa berlumuran noda darah. Penemuan limbah medis Surabaya ini sontak menjadi viral di media sosial, memicu keprihatinan publik dan menyeret nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Eka Candrarini dalam pusaran dugaan.

Video yang semula diunggah oleh akun TikTok @Infoterkinisby ini segera menarik perhatian sejumlah awak media di Sidoarjo. Mereka bergegas mendatangi lokasi, mendokumentasikan tumpukan limbah berbahaya itu, dan mencoba menelusuri asal-usulnya. Dalam upaya identifikasi, para jurnalis menemukan tulisan “HS” pada beberapa suntikan bekas. Ironisnya, di antara tumpukan limbah tersebut, terselip pula bungkus obat kertas bertuliskan RSUD Eka Candrarini, seolah menjadi petunjuk awal yang menyesatkan.

Temuan tersebut, yang diabadikan dalam bentuk video dan kembali disebarluaskan di media sosial, memicu gelombang narasi liar. Mayoritas warganet justru sibuk menuduh akun-akun informasi asal Surabaya sebagai “dalang” di balik penyebaran video, mengaburkan inti permasalahan: bagaimana ribuan limbah medis berbahaya ini bisa berakhir di tempat yang sama sekali tidak semestinya?

Setelah kehebohan media sosial tak terbendung, Pemerintah Kota Surabaya, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (Dinkes), hingga Wali Kota Eri Cahyadi, secara kompak membantah keras bahwa limbah medis tersebut berasal dari RSUD Eka Candrarini. Terkait dengan sobekan kertas berlogo rumah sakit yang ditemukan, Direktur RSUD Eka Candrarini, dr. Listyorini Rarasingtyas, menjelaskan bahwa itu adalah bungkus obat yang diberikan kepada pasien setelah menjalani perawatan. “Jadi memang pasien yang dirawat di sini (RSUD EC) diberikan kantong kertas berlogo RSUD EC yang berisi obat. Dan itu yang kami lihat itu sobekan dari bungkus kantong obat itu,” terangnya.

Listyorini juga dengan tegas membantah keterlibatan rumah sakitnya dalam pembuangan limbah suntikan bekas di Gunung Anyar. Ia memaparkan bahwa prosedur pembuangan di RSUD EC sangat ketat; setiap jarum yang dibuang tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dilepaskan terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam kotak khusus. “Bukan (milik RSUD EC). Kalau kita pengelolaannya sudah dengan PT Wastec International, kita tidak pernah membuang sendiri dan sesuai keamanan dan prosedur Kemen LH,” tambahnya, menekankan kepatuhan mereka terhadap standar keamanan dan lingkungan.

Bantahan serupa juga datang dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Mesakh. Billy menjelaskan bahwa Pemkot Surabaya memiliki perjanjian kerja sama dengan PT Wastec International untuk pengelolaan limbah medis. Ia menyebutkan bahwa pengangkutan limbah medis dilakukan sesuai prosedur dengan pencatatan elektronik melalui sistem Festronik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. “Limbah medis (jarum suntik) itu tidak mungkin jarum dan disposibelnya itu jadi satu, jadi setelah suntik jarum itu kita lepas, masuk ke dalam kotak kuning itu menghindari adanya orang tertusuk jarum, jadi tinggal disposiblenya saja. Nah, yang ditemukan itu masih gandeng semua dan identitas RSUD EC itu kalau pasien pulang dapat resep pasti dapat identitas RS EC,” tegas Billy, memperkuat argumen bahwa limbah yang ditemukan tidak sesuai dengan standar pembuangan RSUD EC.

Namun, misteri ini mulai menemukan titik terang ketika sejumlah limbah suntik ditemukan tertempel kertas bertuliskan “HS dr.” Penelusuran lebih lanjut mengarah pada seorang dokter kandungan berinisial HS. Dokter HS diketahui memiliki dua izin praktik di dua rumah sakit berbeda di Surabaya, yaitu Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur atau RSUD Prof. dr. Moeljono dan RS Prima Husada. Seorang pejabat RSJ Menur yang enggan disebut namanya membenarkan bahwa dr. HS adalah tenaga kesehatan yang berpraktik di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut.

Yang mengejutkan, dr. HS mengakui adanya kehilangan limbah medis. “Pengakuan dr HS, dia kehilangan beberapa kantong limbah medis tanggal 8 atau 9 Agustus 2026 kemarin. Dia (HS) mengaku sudah bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengambil limbah medisnya. Namun kita sendiri belum tahu apakah limbah medis itu punya dia (HS) atau bukan,” ungkap Kepala Dinkes Surabaya, dr. Billy Daniel Mesakh. Informasi yang diterima juga menyebutkan bahwa dr. HS membuka praktik pribadi di salah satu rumah di Surabaya Timur, dan dari praktik inilah ia mengakui kehilangan sejumlah limbah medis.

Meskipun demikian, dr. Billy enggan berspekulasi terlalu jauh terkait kepemilikan limbah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang. “Kita masih belum tahu benar atau tidaknya (limbah medis) itu milik dia (HS). Ya walaupun ada nama dia (HS) tapi seperti kemarin ada kertas RSUD EC ternyata bukan jadi kita mesti hati-hati juga kalau keliru (nyebut) kan ga enak,” tuturnya. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, juga memberikan informasi serupa pada 26 Agustus 2026, bahwa limbah medis tersebut berasal dari sebuah klinik di Surabaya, tanpa menyebut nama gamblang. Ia menekankan pentingnya penanganan limbah medis oleh pihak yang berkompeten, mulai dari pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan.

Narasi yang mengarah pada dr. HS sebagai terduga pemilik limbah medis semakin kuat berkat beberapa temuan: tulisan “dr HS” pada limbah suntikan, adanya vial kecil kontrasepsi untuk KB, dan pengakuan dr. HS tentang kehilangan limbah medis pada awal Agustus 2026. Berbagai temuan ini mendorong Dinkes Surabaya untuk menunda persetujuan izin praktik ketiga yang sedang diajukan oleh dr. HS. “Setiap dokter bisa punya tiga (izin praktek). Dia kan sudah ada dua di RSJ Menur dan RS Prima Husada. Yang ketiganya ini kita hold dulu sampai ada kejelasan siapa pemiliknya,” jelas Billy.

Beritajatim telah berupaya mewawancarai dr. HS, namun ia belum bersedia memberikan penjelasan lebih lanjut. Beberapa orang yang dekat dengannya menyatakan bahwa saat ini dr. HS masih fokus mengumpulkan berbagai bukti sebagai bahan penyelidikan. “Sementara masih sibuk ya mas beliau (dr HS) karena kan masih diperiksa juga oleh pihak yang berwenang,” ujar salah satu orang terdekat dr. HS.

Publik kini menanti keterangan dan penjelasan dari dr. HS untuk mengungkap tabir di balik peristiwa ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti berapa banyak limbah yang hilang, berapa banyak pasien yang ditangani dalam sehari, dan apakah sepuluh kantong besar berisi ribuan suntikan bekas itu berasal dari satu sumber yang sama, masih menggantung tanpa jawaban. Pihak berwenang terus berupaya keras dalam penyelidikan untuk mengungkap pelaku yang harus bertanggung jawab atas kasus pembuangan limbah medis di Surabaya ini, demi menjaga kesehatan publik dan lingkungan dari ancaman bahaya yang tersembunyi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Biji Mentah ke Cangkir Juara: Menggebrak Pasar Kopi Bondowoso dengan Hilirisasi Inovatif

5 September 2026 - 09:45 WIB

Jejaring Lazismu: Medan Belajar Inovasi Program Unggulan dari Sidoarjo

5 September 2026 - 09:44 WIB

Cak Kin, Tukang Cukur Jember: Sedekah Lewat Gunting, Didukung Lazismu

5 September 2026 - 09:43 WIB

Kobaran Merah di Driyorejo: Enam Jam Penuh Peluh Memadamkan Kebakaran PT Wings Surya

5 September 2026 - 07:10 WIB

Vocatama Perkuat Pendidikan Vokasi: Dua Kepala Sekolah Baru Bawa Visi Peningkatan Kualitas dan Karakter

5 September 2026 - 07:09 WIB

Trending di Pendidikan