KlikMojok – Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, kini semakin mengukuhkan kedudukannya sebagai pusat utama dan penentu arah pergerakan tren busana atau fashion, menempatkannya di posisi strategis setelah Jakarta. Dinamika ini menjadikan tren ritel Surabaya sangat diperhitungkan oleh para pelaku industri.
Potensi pasar yang luas di wilayah Jawa Timur secara keseluruhan dinilai memiliki nilai strategis yang signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan industri ritel, terutama pada sektor mode. Sektor ini menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis, khususnya dalam menyambut pergantian tahun dan proyeksi pasar yang diperkirakan akan berlanjut hingga awal tahun 2027.
Menurut Rama Ishwara, Marketing and Brand Development Director MDS Retailing, penetrasi tren mode di kota Surabaya terjadi secara organik. Ia juga mengamati bahwa masyarakat Jawa Timur memiliki karakteristik yang sangat adaptif terhadap berbagai perkembangan gaya hidup modern, termasuk dalam hal fashion.
Saat diwawancarai di Tunjungan Plaza Surabaya pada Kamis (22/10/2026), Rama Ishwara menjelaskan, “Tren mode yang berkembang di ibu kota biasanya akan segera diadopsi, bahkan berakulturasi dengan selera lokal dalam waktu yang relatif singkat.”
Guna menghadapi berbagai momentum musiman, mulai dari akhir tahun hingga perayaan-perayaan besar di awal tahun berikutnya, setiap jenama atau brand mode dituntut untuk menerapkan strategi pertumbuhan ritel dan rencana ekspansi yang sangat responsif. Responsivitas ini harus disesuaikan secara spesifik dengan segmen produk yang mereka tawarkan.
Ia melanjutkan penjelasannya dengan membedakan kategori produk, “Untuk lini produk kebutuhan harian (everyday essentials), siklus musim tidak membawa perubahan tren yang terlalu drastis. Namun untuk lini busana tematik dan kasual, kepekaan terhadap tren baru menjelang 2027 menjadi kunci utama.”
Lebih lanjut, dinamika pasar yang terus berubah juga menuntut para pelaku industri untuk memiliki kejelian tinggi dalam membaca setiap pergeseran selera konsumen. Contohnya adalah busana tematik untuk perayaan Imlek hingga Lebaran, di mana dibutuhkan riset yang sangat teliti agar produk yang ditawarkan tetap relevan dan diminati.
Melihat potensi pasar yang menjanjikan ini, ekspansi bisnis ritel diproyeksikan akan terus berlanjut. Rencana ini menargetkan berbagai kota besar di luar Pulau Jawa dalam kurun waktu satu tahun ke depan, dengan catatan ekspansi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan lokasi yang strategis serta kesiapan infrastruktur di daerah-daerah tersebut.












