Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Bentangan Merah Putih, Nyala Abadi Resolusi Jihad di Bumi Tebuireng

badge-check

Bentangan Merah Putih, Nyala Abadi Resolusi Jihad di Bumi Tebuireng Perbesar

KlikMojok – Matahari sore masih menyengat, namun ribuan pasang mata tak berkedip. Di jalan raya provinsi yang membelah Jombang, sebuah pemandangan luar biasa terhampar: sehelai kain Merah Putih membentang sepanjang seratus meter, bergerak perlahan di atas kepala ribuan orang. Kamis (22/10/2026) sore itu, ribuan santri dan warga tumpah ruah, mengukir jejak langkah dari kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek menuju gerbang bersejarah Pesantren Tebuireng. Mereka bukan sekadar berjalan, melainkan membawa kembali nyala abadi Resolusi Jihad, semangat yang pernah menggetarkan bumi pertiwi.

Kirab Hari Santri ini, bagi banyak orang, adalah lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia adalah manifestasi nyata dari ikrar untuk menjaga warisan perjuangan para ulama, sebuah pengingat bahwa kemerdekaan Republik Indonesia tidak lahir dari hadiah, melainkan dari tetesan keringat, keberanian, dan pengorbanan panjang para kiai serta santri yang tak terhingga.

Di halaman Pesantren Tebuireng, rombongan yang berjalan kaki sejauh sekitar empat kilometer itu disambut oleh KH Mohammad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan. Kehadiran beliau, seorang cucu langsung dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH M Hasyim Asy’ari, sekaligus kini menjabat Menteri Haji dan Umrah, menambah makna tersendiri bagi perjalanan ribuan peserta. Ini adalah momen untuk mengenang, sekaligus meneguhkan kembali tekad meneruskan semangat perjuangan para pendahulu.

Sebelum melangkah bersama, ribuan peserta kirab terlebih dahulu mengikuti apel Hari Santri di kantor MWCNU Diwek. Mereka datang dari berbagai unsur NU di Kecamatan Diwek, mulai dari jajaran pengurus, badan otonom, lembaga NU, hingga para santri pondok pesantren. Mereka berjalan beriringan, sebuah simfoni langkah yang mengukuhkan semangat kebersamaan, sebuah nilai yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Di antara barisan yang panjang itu, bendera Merah Putih sepanjang 100 meter menjadi simbol paling mencolok dan menjadi pusat perhatian. Kain kebangsaan tersebut diarak secara bergantian oleh para santri, anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Gerakan Pemuda Ansor, pendekar Pagar Nusa, serta pengurus NU lainnya. Ketua panitia, Adi Purnomo, menjelaskan bahwa pengibaran bendera raksasa tersebut merupakan salah satu bagian utama dalam rangkaian kirab Hari Santri tahun ini.

Kemeriahan kirab ini memang tidak luput dari dampak. Perjalanan ribuan peserta yang memadati jalan raya provinsi yang menghubungkan Jombang dengan Malang dan Kediri menyebabkan kemacetan total. Petugas keamanan terpaksa mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif demi mengurai kepadatan yang terjadi. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat para peserta.

Sebelum mencapai halaman utama pesantren untuk seremoni, rombongan juga menyempatkan diri untuk berziarah ke makam pendiri NU, KH M Hasyim Asy’ari. Di sana, mereka menggelar tahlil, sebuah tradisi spiritual untuk mendoakan dan menghormati para pendahulu. Bagi Rais Syuriah MWCNU Diwek, KH Nur Hadi atau yang akrab disapa Mbah Bolong, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar mulia untuk mengharap keberkahan dari para pendiri NU sekaligus merawat tradisi perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Rutin setiap tahun apel dan kirab,” ujarnya, menandaskan konsistensi kegiatan ini.

Di hadapan ribuan peserta yang memadati, Gus Irfan mengingatkan bahwa Hari Santri tidak bisa dilepaskan dari sejarah Resolusi Jihad. Bagi bangsa Indonesia, peristiwa heroik itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Beliau mengisahkan bagaimana para ulama dan santri mengambil peran krusial ketika Belanda kembali berupaya menguasai Indonesia yang baru merdeka. Dengan semangat perjuangan yang digelorakan para kiai, kaum santri turut bergerak tanpa ragu untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dengan taruhan nyawa.

Menurut Gus Irfan, pengorbanan para pendahulu tersebut harus menjadi inspirasi abadi bagi generasi sekarang. Kemerdekaan, tegasnya, bukan sekadar warisan sejarah yang bisa dinikmati begitu saja, melainkan amanah besar yang harus dijaga bersama dengan penuh tanggung jawab. “Semoga kalian para peserta kirab mewarisi perjuangan NU dan perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” pesannya, menggetarkan sanubari yang hadir.

Pesan itu seolah menjadi pengingat bahwa semangat Resolusi Jihad tidak berhenti pada pertempuran di masa lalu. Nilai keberanian, pengabdian tulus, dan kecintaan yang mendalam terhadap Tanah Air tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah, menuntut kontribusi nyata dari setiap anak bangsa.

Senada dengan itu, Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh, menegaskan bahwa Resolusi Jihad memiliki makna yang sangat mendalam dalam perjalanan sejarah Indonesia. NU, menurut dia, mempunyai andil besar dalam perjuangan mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Ia berharap Nahdlatul Ulama akan terus hadir dan mengambil peran strategis ketika negara membutuhkan kontribusinya, di tengah berbagai gejolak dan tantangan yang ada.

Harapan tersebut menjadi penegas bahwa hubungan antara ulama, santri, dan bangsa bukan sekadar cerita masa lalu yang usang. Ada tanggung jawab besar yang terus diwariskan dari generasi ke generasi untuk menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh di atas semangat persatuan, pengorbanan, dan dedikasi kepada nilai-nilai luhur kebangsaan.

Rangkaian kirab yang penuh makna ini kemudian ditutup dengan seremoni penyerahan bendera Merah Putih raksasa kepada Gus Irfan, sebagai simbol estafet perjuangan. Doa penutup dipimpin oleh Mbah Bolong, mengakhiri seluruh prosesi dengan harapan dan keberkahan. Bendera sepanjang 100 meter itu pun menjadi penanda berakhirnya perjalanan fisik ribuan peserta. Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih panjang dari bentangan kainnya: kemerdekaan yang diperjuangkan para ulama dan santri harus terus dijaga, sementara semangat Resolusi Jihad mesti hidup dalam pengabdian nyata kepada bangsa dan negara, kini dan nanti.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Api Merenggut Mimpi: Pelajaran Ketabahan dari Puing Pasar Cukir Jombang

22 Okt 2026 - 21:07 WIB

Ketika Api Merenggut Mimpi: Pelajaran Ketabahan dari Puing Pasar Cukir Jombang

Inovasi Pembelajaran: SD Muri Gelar Ngaji on the Street di Giri Kuno, Perkuat Cinta Al-Qur’an dan Karakter Peduli

22 Okt 2026 - 21:05 WIB

Inovasi Pembelajaran: SD Muri Gelar Ngaji on the Street di Giri Kuno, Perkuat Cinta Al-Qur’an dan Karakter Peduli

Penguatan Pendidikan Islam Global: Ma’had eLKISI Azhari Mojokerto Resmi Jadi Cabang Al-Azhar Mesir

22 Okt 2026 - 21:03 WIB

Penguatan Pendidikan Islam Global: Ma’had eLKISI Azhari Mojokerto Resmi Jadi Cabang Al-Azhar Mesir

Oase di Tengah Kemarau Panjang: Saat Setetes Air Menjadi Pelajaran Berharga di Gresik

22 Okt 2026 - 18:46 WIB

Oase di Tengah Kemarau Panjang: Saat Setetes Air Menjadi Pelajaran Berharga di Gresik

Senyum Ramah Berujung Darah: Kisah Tragis Penjual Es Degan dan Pria Diduga ODGJ di Wadungasri Sidoarjo

22 Okt 2026 - 18:45 WIB

Senyum Ramah Berujung Darah: Kisah Tragis Penjual Es Degan dan Pria Diduga ODGJ di Wadungasri Sidoarjo
Trending di Pendidikan