KlikMojok – Kamis, 22 Oktober 2026, dini hari di utara Jembatan Wadungasri, Waru, Sidoarjo, Purnomo (55) menjalani rutinitasnya sebagai penjual es degan 24 jam. Sebuah sapaan ramah kepada seorang pria yang dikenalnya sering mondar-mandir di sekitar Pasar Wadungasri, justru menjadi pembuka insiden pembacokan di Sidoarjo yang tragis, menyisakan dua nyawa terenggut dalam satu peristiwa berdarah. Peristiwa nahas ini tak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga pertanyaan besar tentang batas-batas kewarasan dan kerentanan sosial.
Purnomo, yang telah lama berjualan di sana, melihat pria itu duduk di kursi bengkel Aji Motor, persis di sisi utara warungnya. Dengan keramahan yang biasa ia tunjukkan kepada siapa saja, Purnomo menyapa dan mempersilakan pria itu untuk beristirahat. Namun, kehangatan pagi itu seketika sirna. Tanpa peringatan, pria tersebut mengeluarkan sebilah celurit dari dalam tas kainnya, mengubah suasana damai menjadi mencekam.
Ayunan celurit pertama melesat cepat ke arah Purnomo. Ia sempat berusaha menahan, namun kalah tenaga. Tubuhnya limbung, terjatuh di antara riuhnya suara kendaraan yang melintas. Dalam posisi tak berdaya itu, serangan tak berhenti. Celurit kembali mengayun beberapa kali, menorehkan luka menganga di leher dan pipi Purnomo. Darah segar seketika membasahi tubuhnya, mengalir deras dari luka-luka serius yang dideritanya.
Dalam keputusasaan dan rasa sakit yang menusuk, naluri untuk bertahan hidup Purnomo membuncah. Ia mengerahkan sisa tenaganya, berjuang merebut senjata tajam itu dari genggaman penyerang. Pertarungan sengit diwarnai teriakan histeris warga dan pembeli yang tak berani mendekat. Akhirnya, celurit berpindah tangan. Dengan senjata yang kini ada di tangannya, Purnomo membalikkan keadaan. Dalam sebuah gerakan refleks atau pertahanan diri yang ekstrem, ia menyabetkan celurit itu ke arah kepala penyerangnya. Pria itu seketika tergeletak lemas, bersimbah darah, dan tak bergerak lagi di lokasi kejadian.
Suasana di sekitar warung es degan dan Jembatan Wadungasri mendadak dicekam horor. Pengguna jalan berusaha menghindari lokasi, sementara warga yang syok hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Seorang warga setempat, Adi, yang menyaksikan kengerian itu, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Korban setelahnya itu, nyawanya meregang,” ujarnya, merujuk pada pria penyerang yang kini tak bernyawa. Hamidah, istri Purnomo, dengan panik segera melaporkan insiden ini ke Polsek Waru. Tak lama berselang, aparat kepolisian tiba di lokasi, mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) yang kini dipenuhi jejak-jejak kekerasan. Purnomo, dengan luka serius di leher dan wajah, segera dievakuasi ke RS Royal Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Sementara itu, pria yang diduga sebagai penyerang, dan dikabarkan mengalami gangguan jiwa (ODGJ), terbaring tak bernyawa.
Hingga artikel ini ditulis, kabut misteri masih menyelimuti insiden tragis ini. Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai identitas lengkap pria yang meninggal, kronologi pasti, maupun status hukum dari peristiwa pembacokan di Wadungasri Waru Sidoarjo ini. Penyebab pasti di balik amukan kekerasan ini, serta rangkaian tindakan yang akhirnya merenggut nyawa penyerang, masih menunggu penjelasan resmi. Peristiwa ini bukan hanya menyisakan duka dan luka fisik, tetapi juga pertanyaan besar tentang batas-batas pertahanan diri, dan bagaimana masyarakat menyikapi individu dengan kondisi kejiwaan yang rentan.
Kisah Purnomo dan pria tak dikenal ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan kompleksitas masalah sosial yang sering tersembunyi. Di balik riuhnya jalanan Sidoarjo, sebuah tragedi telah terjadi, meninggalkan jejak darah dan pertanyaan yang menggantung, menanti kejelasan dan pemahaman yang lebih mendalam dari kita semua.












