KlikMojok – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di SMA Negeri 1 Tegalombo, Kabupaten Pacitan, pada Jumat, 28 Agustus 2026, diwarnai oleh tradisi “gantungan jajan” yang sarat makna. Ratusan siswa dan guru berkumpul untuk merayakan hari kelahiran Nabi dengan pengajian, doa bersama, serta lantunan salawat, sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman dan melestarikan warisan budaya lokal.
Atap ruangan acara dihiasi dengan warna-warni bungkus makanan ringan yang digantung rapi, menciptakan suasana meriah dan penuh keceriaan. Tradisi gantungan jajan ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kegembiraan, semangat berbagi, dan kebersamaan seluruh warga sekolah dalam memperingati peristiwa penting ini. Di tengah arus modernisasi, SMA Negeri 1 Tegalombo berupaya menghidupkan kembali tradisi ini sebagai sarana mengenalkan warisan leluhur kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Negeri 1 Tegalombo, Katenan, S.Pd., M.M.Pd., mengajak seluruh siswa untuk menjadikan momentum berakhirnya bulan Agustus sebagai titik balik. Ia menekankan pentingnya fokus kembali pada tugas utama sebagai pelajar. “Agustus telah usai, saatnya kita kembali fokus pada tugas utama sebagai pelajar,” tegas Katenan. Ia juga mengimbau para siswa agar tidak terprovokasi untuk terlibat dalam aksi demonstrasi yang dapat merusak masa depan, serta pentingnya menjaga iklim belajar yang kondusif di sekolah. “Aspirasi dapat kita sampaikan melalui cara-cara yang mulia dan sesuai dengan aturan yang berlaku, tanpa harus mengorbankan keselamatan serta nama baik sekolah,” lanjutnya.
Selanjutnya, ceramah keagamaan disampaikan oleh Ustaz Imron Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholihin Gemaharjo. Beliau mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya menghafal sejarah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mempraktikkan akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Ustaz Imron membedah empat sifat wajib Rasulullah, yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebaikan), dan fathanah (cerdas dan bijaksana). “Siddiq menuntun kita untuk selalu jujur dalam kata dan perbuatan. Amanah membentuk pribadi yang dapat dipercaya serta bertanggung jawab. Tabligh memberi kita keberanian untuk menyebarkan kebaikan. Sementara itu, fathanah melatih kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan setiap persoalan,” papar Imron. Ia menambahkan bahwa siswa kelas X, XI, dan XII dapat menerapkan nilai-nilai ini secara sederhana, misalnya melalui kejujuran saat ujian, kedisiplinan mengumpulkan tugas, dan kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial.
Puncak kekhusyukan perayaan Maulid Nabi di SMA Negeri 1 Tegalombo terjadi saat seluruh hadirin mengumandangkan Mahallul Qiyam. Grup Hadroh SMA Negeri 1 Tegalombo, Ahbabun Rasul, turut memeriahkan suasana dengan alunan salawat yang menggetarkan. Perpaduan doa, tradisi gantungan jajan, dan seni Islami ini menjadikan perayaan seremonial tersebut sebagai ruang pembelajaran hidup yang mendalam, dengan harapan para siswa tumbuh menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia.













