KlikMojok – Di tengah hamparan hijau Kebun Dhoho, Kediri, denyut nadi industri gula nasional tengah diawasi ketat. PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) tak hanya menanam dan memanen, namun juga melakukan inspeksi mendalam. Sebuah kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Kerja Sama Operasional (KSO) Tebu di Manajemen Kerja Sama Operasional (MKSO) Kebun Dhoho Kediri, dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, menjadi bukti komitmen perusahaan untuk memastikan setiap helai daun tebu tumbuh sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Jajaran manajemen PT SGN tak segan turun langsung ke lapangan. Mereka memantau efektivitas operasional, menilik proses budidaya yang cermat, hingga mengecek kesiapan tanaman menghadapi perubahan iklim yang kian tak terduga, terutama memasuki musim kemarau. Kehadiran Direktur Operasional PT SGN, Kuntoro Boga Adri, bersama Regional Head Jatim II PT SGN, Wayan Mei Purwono, serta jajaran General Manager Pabrik Gula Regional Jatim 1, menunjukkan betapa krusialnya kegiatan ini bagi kelangsungan bisnis gula nasional.

“Pada kesempatan ini kami meninjau langsung kondisi lapangan, efektivitas operasional, dan kepatuhan terhadap standar di KSO Tebu PT SGN,” ujar Kuntoro Boga Adri, Direktur Operasional PT SGN. Baginya, monitoring adalah jantung dari setiap proses. Ia menekankan bahwa evaluasi ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari penanaman yang presisi, pemeliharaan tanaman yang telaten, hingga pelaksanaan panen yang efisien. “Kami memastikan standar operasional sesuai dan berjalan dengan baik. Kami juga menilai apakah seluruh proses budidaya, perawatan, hingga panen berjalan sesuai prosedur,” tegasnya.
Wayan Mei Purwono, Regional Head Jatim II PT SGN, menambahkan bahwa secara umum, proses tanam dan panen di KSO Kebun Dhoho masih menunjukkan performa yang baik. Namun, ia menyoroti tantangan spesifik yang dihadirkan oleh musim kemarau. “Apalagi kondisi cuaca saat ini kemarau, kami juga memastikan sistem pengairan di KSO Kebun Dhoho berjalan normal. Jangan sampai tanaman mengalami kekeringan,” imbuhnya, menekankan pentingnya ketersediaan air untuk menjaga produktivitas tebu.
Tak hanya berfokus pada pertumbuhan tanaman, tim monitoring juga menginspeksi proses tebang dan suplai bahan baku tebu ke pabrik gula. Kelancaran rantai pasok ini menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku selama musim giling yang krusial. Juni Yanto, General Manager MKSO Kebun Dhoho, memaparkan progres tersebut, “Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi ini kami juga memantau progres proses tebang dan suplai bahan baku tebu ke pabrik gula serta melihat langsung kondisi fisik tanaman di lahan.” Ia menambahkan bahwa tantangan operasional tidak hanya berasal dari cuaca, tetapi juga ancaman hama dan hambatan logistik menuju area perkebunan. “Kami juga menjelaskan bagaimana mengantisipasi kendala cuaca, hama, atau hambatan akses logistik kebun. Apalagi saat ini cuaca sangat panas, kami harus menjaga tanaman jangan sampai kekeringan,” jelasnya.
Untuk menjaga produktivitas tetap optimal, MKSO Kebun Dhoho memperkuat pengawasan dari hulu hingga hilir. Pengawasan ini mencakup kondisi tanaman di lahan, proses tebang, pengangkutan, hingga pengiriman bahan baku ke pabrik gula. Tujuannya jelas: memastikan hasil panen terserap dan terkirim sesuai kebutuhan pabrik, sembari menjaga kualitas tebu sebagai bahan baku utama produksi gula. Juni Yanto menegaskan komitmen MKSO Kebun Dhoho untuk mempertahankan kualitas hasil panen dengan menerapkan standar Manis, Bersih, dan Segar (MBS). “Tentunya kami dari MKSO Kebun Dhoho berkomitmen mempertahankan kualitas hasil panen dengan menerapkan standar Manis, Bersih, dan Segar (MBS) sehingga bahan baku yang disuplai ke pabrik gula tetap memiliki mutu yang optimal,” ungkapnya.
Kegiatan monitoring dan evaluasi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan instrumen vital untuk pengawasan dan perbaikan operasional kebun secara berkelanjutan. Dengan penerapan SOP yang konsisten, pengelolaan air yang cermat, serta koordinasi yang solid dalam proses tebang dan pengangkutan, PT SGN berupaya memastikan produktivitas tanaman dan kualitas bahan baku tebu tetap terjaga, demi keberlanjutan industri gula nasional.













