SURABAYA – Potongan kain yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata bisa disulap menjadi produk bernilai guna. Inilah yang dipraktikkan siswa Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya melalui kegiatan keterampilan membuat keset kaki dari kain perca, Rabu (4/11/2026). Didampingi guru Seni Budaya dan Prakarya, Nidya Verawati, S.Sos., para siswa diajak mengolah sisa kain konveksi menjadi kerajinan fungsional sekaligus belajar tentang kepedulian lingkungan, kreativitas, dan kemandirian.
Kegiatan yang berlangsung di sekolah yang beralamat di Jalan Bulak Rukem III Nomor 7–9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses mengolah bahan sederhana menjadi barang yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, Nidya Verawati menjelaskan tahapan pembuatan keset kaki dari kain perca. Mulai dari menyiapkan bahan, memilah kain berdasarkan warna dan ukuran, memotong kain, hingga merangkainya menjadi keset yang menarik dan fungsional.
Mengubah Limbah Menjadi Barang Bernilai Guna
Kain perca merupakan sisa potongan kain dari aktivitas menjahit maupun industri konveksi. Bahan yang kerap terabaikan ini sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk kerajinan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa mengurangi limbah tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang rumit. Memanfaatkan kembali bahan yang masih bisa digunakan merupakan salah satu langkah sederhana untuk menjaga lingkungan.
Setidaknya, ada tiga manfaat yang diperoleh siswa melalui kegiatan ini. Pertama, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dengan mengurangi limbah tekstil. Kedua, melatih karakter, kreativitas, kesabaran, dan ketelitian. Ketiga, mengenalkan keterampilan vokasional yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan kewirausahaan atau studentpreneur.
Belajar Langsung dari Proses Pembuatan
Dalam praktiknya, pembuatan keset kaki dari kain perca membutuhkan sejumlah alat dan bahan sederhana. Di antaranya kain perca dengan beragam warna dan motif, kain alas atau dasar yang cukup tebal, gunting, jarum, benang tebal, serta lem tembak sebagai alat bantu jika diperlukan.
Proses pengerjaan diawali dengan membersihkan dan memilah kain perca berdasarkan warna maupun ukuran. Selanjutnya, kain dipotong memanjang dengan ukuran relatif seragam, misalnya lebar 3–5 sentimeter dan panjang 15–20 sentimeter, agar mudah dirangkai.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam pembuatan keset.
- Teknik Kepang Tiga lembar kain perca panjang dikepang menjadi satu. Hasil kepangan kemudian disusun secara melingkar atau memanjang sesuai bentuk keset yang diinginkan, lalu dijahit pada kain alas.
- Teknik Ikat atau Rumbai Potongan kain perca diikat atau dijahit langsung pada permukaan alas secara rapat hingga menutupi seluruh bagian dasar keset.
- Tahap Penyelesaian (Finishing) Setelah seluruh bagian tersusun, keset dirapikan dengan memotong sisa benang atau kain yang tidak beraturan. Ikatan juga perlu dipastikan kuat agar produk dapat digunakan dalam jangka waktu lama.
Melalui tahapan tersebut, siswa belajar bahwa menghasilkan sebuah produk membutuhkan proses, ketekunan, dan ketelitian. Mereka juga memperoleh pengalaman untuk mengembangkan ide kreatif melalui perpaduan warna dan motif kain.
Pembelajaran Kontekstual dan Penguatan Karakter
Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya, H. Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan kerajinan tangan seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen sekolah dalam menerapkan pembelajaran kontekstual.
Menurutnya, siswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Melalui kegiatan tersebut, kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan melalui tindakan sederhana. Siswa juga dibekali keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi bekal kemandirian pada masa mendatang.
Hasil karya keset kaki dari kain perca nantinya dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebersihan fasilitas sekolah. Selain itu, produk tersebut berpotensi ditampilkan dalam ajang pameran karya siswa sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan keterampilan mereka.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran kreatif dapat dimulai dari bahan sederhana yang ada di sekitar. Dari potongan kain yang sebelumnya dianggap tidak berguna, siswa belajar menghasilkan karya, menjaga lingkungan, sekaligus membangun jiwa kewirausahaan.
Penulis: H. Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd. | Lembaga: Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya












