KlikMojok – Di tengah arus deras kemudahan mengakses informasi dan membaca melalui perangkat digital, keberadaan buku cetak tetap memegang peranan penting dalam dunia literasi. Sebuah studi menarik dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) yang secara cermat menelusuri keunggulan format buku cetak dan e-book, sekaligus menganalisis krusialnya peran penerbitan akademik.
Era kontemporer ini telah membawa perubahan signifikan dalam kebiasaan membaca, menyajikan dua opsi utama bagi para mahasiswa: buku cetak tradisional dan e-book digital. Meskipun arus digitalisasi semakin gencar, kedua format ini menawarkan pengalaman membaca yang unik dan berbeda satu sama lain.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepraktisan yang ditawarkan e-book selalu menjadi pembenaran untuk sepenuhnya meninggalkan pengalaman membaca dari halaman-halaman buku fisik? Pertanyaan reflektif inilah yang menjadi fokus perhatian utama mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) ketika mereka menjalani program magang daring di Penerbit USIM (USIM Press), sebuah unit penerbitan dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) yang berlokasi di Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia.
Sepanjang periode magang yang berlangsung dari hari Kamis hingga Selasa, tepatnya antara tanggal 10 September 2026 hingga 10 November 2026, para mahasiswa tersebut secara aktif menelusuri dan menganalisis berbagai kebiasaan membaca yang berkembang di kalangan akademisi, sekaligus mempelajari dinamika serta perkembangan terkini dalam ranah penerbitan akademik.
Buku cetak, dengan karakteristik fisiknya, menyajikan pengalaman membaca yang unik dan kerap kali tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar digital. Pembaca memiliki kebebasan untuk membalik halaman secara fisik, memberikan tanda penting, menuliskan catatan atau gagasan langsung di margin, serta dengan mudah menelusuri kembali bagian-bagian spesifik yang relevan. Keunggulan lainnya, buku fisik memungkinkan aktivitas membaca berlangsung tanpa ketergantungan pada perangkat elektronik, baterai, atau koneksi internet.
Di sisi lain, e-book menawarkan tingkat kepraktisan yang luar biasa, memungkinkan seluruh koleksi buku berada dalam satu genggaman. Pengguna dapat menyimpan ribuan judul buku tanpa perlu khawatir rak penyimpanan penuh. Lebih jauh lagi, fitur pencarian kata kunci yang canggih pada e-book sangat membantu pembaca menemukan informasi spesifik dalam hitungan detik. Oleh karena itu, jelas bahwa setiap format bacaan memiliki keunggulan tersendiri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi individu.
Perbedaan karakteristik antara buku cetak dan e-book ini menjadi sangat terasa bagi mahasiswa, terutama saat mereka mengerjakan berbagai tugas akademik. Ketika harus mencari kutipan spesifik untuk penulisan skripsi atau menelusuri definisi istilah tertentu, e-book terbukti menawarkan proses yang jauh lebih efisien berkat fitur pencariannya. Sebaliknya, untuk memahami teori komunikasi yang kompleks dan metode penelitian secara runtut serta mendalam, buku cetak seringkali dianggap lebih membantu dalam proses pemahaman dan pencernaan informasi.
Pengalaman serupa turut diutarakan oleh Ayunda Wiayanti, salah satu rekan magang penulis artikel ini. Ia menjelaskan bahwa dirinya secara strategis menggunakan kedua format bacaan tersebut, menyesuaikannya dengan kebutuhan spesifik saat membaca. Ayunda mengungkapkan, “Kalau nyari kutipan, aku pilih e-book karena tinggal cari kata kunci. Tapi buat paham teori, aku lebih suka buku cetak, bisa dicoret-coret,”.
Namun, di balik perdebatan mengenai pilihan format bacaan, satu aspek yang tidak kalah krusial adalah kualitas penerbitan. Pembaca tidak sepatutnya hanya terpaku pada kemudahan aksesibilitas semata. Lebih dari itu, mereka wajib mempertimbangkan secara saksama kredibilitas penulis, reputasi penerbit, serta integritas proses penyuntingan naskah yang telah dilalui suatu karya.
Dalam konteks menjaga kualitas dan kredibilitas, USIM Press menjadi contoh representatif dari sebuah penerbitan akademik yang beroperasi di lingkungan perguruan tinggi. Penerbit ini, yang berlokasi strategis di Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia, dikenal karena menerbitkan buku-buku ilmiah yang memiliki karakter unik, yaitu memadukan antara ilmu naqli (ilmu agama berdasarkan wahyu) dan aqli (ilmu rasional atau empiris).
Selain menerbitkan berbagai judul buku, USIM Press juga merupakan penerbit dari ‘Ulum Islamiyyah Journal’. Jurnal ilmiah ini menerapkan sistem penilaian yang ketat oleh mitra bestari atau referee yang ahli di bidangnya, dan secara konsisten diterbitkan sebanyak tiga kali dalam setiap tahunnya.
Dalam ranah penerbitan akademik, proses penilaian oleh para pakar atau ahli di bidang terkait memegang peranan vital untuk menjaga kualitas dan validitas naskah. Di samping itu, tahapan penyuntingan yang cermat juga turut memastikan bahwa penyajian informasi dalam publikasi tersebut menjadi lebih terstruktur, koheren, dan sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.
Oleh karena itu, baik buku maupun jurnal akademik memegang posisi yang sangat penting sebagai sumber pengetahuan yang kredibel. Terlepas dari apakah disajikan dalam format cetak atau digital, pembaca wajib untuk senantiasa memperhatikan proses penerbitan yang melatarinya. Kredibilitas sumber informasi harus menjadi pertimbangan utama dan pertama sebelum seseorang memutuskan untuk menjadikan suatu karya sebagai rujukan dalam studi atau penelitiannya.
Pada dasarnya, buku cetak dan e-book tidak seharusnya dipandang sebagai dua pilihan yang bersifat saling meniadakan atau berkompetisi. Justru sebaliknya, kedua format ini memiliki potensi besar untuk berjalan secara berdampingan, saling melengkapi demi memenuhi kebutuhan pembaca yang kini semakin beragam dan dinamis.
Mahasiswa dapat secara bijak memanfaatkan e-book ketika mereka memerlukan akses cepat terhadap beragam referensi atau informasi. Selanjutnya, mereka bisa beralih menggunakan buku cetak ketika tujuan utamanya adalah mencapai pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif atas suatu materi. Dengan pendekatan strategis semacam ini, teknologi digital dan kebiasaan membaca konvensional justru dapat saling melengkapi dan memperkaya pengalaman belajar.
Meskipun kemudahan dalam memperoleh berbagai sumber bacaan kini semakin meluas, hal ini perlu diimbangi dengan kecermatan dan kehati-hatian dalam memilih sumber. Pembaca memiliki tanggung jawab untuk memeriksa identitas penulis, menilai kredibilitas penerbit, memastikan kejelasan referensi yang digunakan, serta memahami proses penilaian naskah yang telah dilalui. Langkah-langkah proaktif ini sangat penting guna menghindari penggunaan dan penyebaran informasi yang tidak akurat atau tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pada akhirnya, pesatnya perkembangan teknologi tidak semestinya menjadi ancaman yang menggeser keberadaan buku cetak dari peredaran. Esensi sejati dari aktivitas membaca tidaklah terletak pada media yang digunakan, apakah itu layar digital atau lembaran kertas. Lebih dari sekadar itu, membaca adalah sebuah perjalanan intelektual untuk memahami gagasan, menguji validitas informasi, dan secara berkelanjutan memperluas cakrawala wawasan seseorang.
Baik buku cetak maupun e-book, keduanya memiliki jalur masing-masing untuk mengantarkan pembaca menuju gerbang pengetahuan. Hal yang paling krusial adalah kemampuan pembaca untuk secara bijak memilih sumber yang sahih, relevan dengan kebutuhan, dan paling sesuai dengan tujuan pembacaan mereka.












