KlikMojok – Di jantung Kota Pahlawan, tepatnya di kawasan Jembatan Merah Surabaya, biasanya denyut kehidupan berdegup kencang seiring hiruk pikuk transaksi dan aroma sedap masakan yang menguar dari sentra-sentra kuliner. Namun, akhir pekan lalu, suasana itu berubah sunyi, seolah membeku di tengah keriuhan persiapan sebuah ajang balap. Puluhan pedagang kecil, mulai dari penjual makanan di Sentra Kuliner hingga pedagang bunga, harus menelan pil pahit kerugian, kala akses jualan mereka ditutup total demi gelaran City Night Race dalam rangka Piala Polrestabes Surabaya.
Kusnan, salah satu pedagang di Sentra PKL Jembatan Kota Lama, masih teringat jelas kekecewaan yang menggunung. Penutupan akses jalan yang berlangsung sejak Jumat sore hingga Sabtu malam itu, menurutnya, dilakukan tanpa pemberitahuan apalagi koordinasi yang memadai dengan para pedagang. Akibatnya, roda ekonomi mereka terhenti mendadak, mengancam dapur puluhan keluarga yang menggantungkan hidup dari lapak sederhana tersebut.
“Kami memang sangat keberatan dengan kegiatan itu. Sebab, dua hari perdagangan kami lumpuh, meskipun tidak total-total amat,” ungkap Kusnan dalam surat terbukanya kepada Kapolrestabes Surabaya, yang ia bagikan akhir pekan lalu. Ia menuturkan, pada Jumat sore, akses jalan sudah ditutup tanpa ada penjelasan kepada pedagang mengenai kegiatan yang akan berlangsung. Ketika ia kembali datang pada Sabtu malam, lokasinya sudah tertutup rapat, membuat aktivitas perdagangan mustahil berjalan normal. “Jumat sore sudah ditutup, kami sendiri heran ada kegiatan apa ini kok ditutup. Akhirnya pada Sabtu malam Minggu, kami datang, lokasinya sudah ditutup. Jadi, tanpa pemberitahuan kepada kita, tanpa koordinasi kepada pedagang,” imbuhnya, menyuarakan rasa terkejut dan ketidakberdayaan.
Dampak penutupan ini bukan sekadar hilangnya omzet. Bagi pedagang makanan, ini berarti makanan yang sudah disiapkan dengan susah payah terpaksa dibawa pulang, basi, atau bahkan dibuang. Kerugian materiil bercampur dengan rasa sakit hati dan putus asa. “Ada beberapa pedagang yang tutup total, masak sore tetapi lokasi ditutup sampai malam, akhirnya dibawa pulang. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para pedagang di situ,” kata Kusnan, menggambarkan betapa pedihnya situasi tersebut.
Total sekitar 20 pedagang menggantungkan penghasilan dari lapak di kawasan Jembatan Merah. Meski jumlahnya tak masif, di balik setiap lapak ada puluhan anggota keluarga yang menanti nafkah. “Memang jumlah kami sedikit, cuma 20 orang yang harus menghidupi puluhan orang di rumah masing-masing. Kami berjualan di situ untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bukan untuk menumpuk kekayaan,” tegas Kusnan, menyoroti realitas pahit bahwa bagi mereka, berjualan bukan soal menumpuk harta, melainkan perjuangan untuk bertahan hidup. Area di depan lapak mereka pun kini dipenuhi tenda, tempat tiket, dan area parkir balapan, semakin mempersempit ruang gerak. “Tempat kami di depan sudah tertutup untuk tenda, tempat tiket, tempat parkir, dan lain-lain. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para pedagang di situ,” tambahnya.
Kisah para pedagang kecil di Jembatan Merah ini menjadi cermin pentingnya “pendidikan” dalam tata kelola kota dan penyelenggaraan acara publik. Lebih dari sekadar ajang balap, ini adalah pelajaran tentang empati dan komunikasi antar-pemangku kepentingan. Kusnan menyayangkan kegiatan sebesar itu tidak didahului komunikasi yang baik dengan pedagang. Ia berharap penyelenggara mempertimbangkan dampak ekonomi yang harus ditanggung pelaku usaha kecil ketika akses menuju lapak mereka ditutup.
Ia lantas membandingkan dengan pengalaman sebelumnya, saat lokasi mereka digunakan untuk syuting sebuah film nasional. “Kemarin juga tempat kita dibuat syuting untuk sebuah film nasional, ditutup untuk dua hari. Tapi kita diajak ngomong, Pak, kita diskusi. Apa solusinya bila ditutup, dan kami masih diorangkan oleh mereka,” kenang Kusnan, menunjukkan bahwa dialog dan pencarian solusi bersama adalah kunci. Pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa koordinasi yang baik dapat meminimalisir kerugian dan menjaga hubungan harmonis antara penyelenggara acara dengan masyarakat lokal.
Kusnan berharap, pengalaman pahit merugi akibat penutupan akses dalam kegiatan City Night Race ini menjadi bahan evaluasi serius bagi Kapolrestabes Surabaya dan seluruh pihak penyelenggara acara di masa mendatang. Ia meminta agar setiap rencana penutupan jalan yang berdampak langsung pada aktivitas perdagangan dibicarakan terlebih dahulu dengan para pedagang. “Siapa pun yang akan menutup akses jalan di Jembatan Merah, ajak bicara para pedagang. Itu mata pencaharian kami,” tegasnya, menuntut pengakuan atas hak mereka untuk mencari nafkah.
Bagi Kusnan dan rekan-rekannya, kehilangan waktu berjualan adalah kehilangan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini bukan sekadar angka di laporan keuangan, melainkan cerita tentang makanan di meja makan, biaya sekolah anak, dan cicilan yang harus dibayar. “Kami mohon dengan sangat, siapa pun mereka yang akan menutup akses jalan Jembatan Merah, koordinasilah dengan kami, pedagang cilik. Kami hanya butuh makan, bukan untuk menumpuk kekayaan,” pungkasnya, menyisakan perenungan mendalam tentang bagaimana sebuah event berskala kota seharusnya tidak mengorbankan denyut nadi ekonomi rakyat kecil. Ini adalah seruan untuk sebuah kota yang tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga bergerak dengan hati.












