KlikMojok – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro saat ini sedang dalam proses pengajuan izin untuk membuka dua program studi (prodi) baru, yaitu Hukum Keluarga Islam dan Ekonomi Syariah. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bidang keilmuan tersebut.
Dalam upaya memperluas cakupan bidang keilmuan dan memperkokoh pengembangan institusi, STIT Muhammadiyah Bojonegoro secara aktif menyiapkan dua program studi terbaru. Informasi mengenai rencana strategis ini diumumkan secara resmi dalam acara Wisuda Sarjana ke-26 Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Eastern Bojonegoro pada hari Sabtu, 29 Agustus 2026.

M. Arif Susanto, M.Pd.I., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro, mengonfirmasi bahwa pihak kampus tengah memproses pengajuan izin untuk kedua program studi yang dimaksud. Kedua program studi yang diajukan adalah Hukum Keluarga Islam dan Ekonomi Syariah. Kehadiran program studi baru ini merupakan bagian integral dari strategi kampus dalam rangka memperkuat kelembagaan dan posisinya di dunia pendidikan tinggi.
Bersamaan dengan inisiatif pengembangan program studi, STIT Muhammadiyah Bojonegoro juga secara konsisten berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya para dosen. Kampus aktif mendorong para dosen untuk terus melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni Strata 3 (S3). Tidak hanya itu, institusi ini juga memfasilitasi dan mendorong pengajuan jabatan fungsional dosen, mulai dari Lektor Kepala hingga Profesor. Seluruh upaya ini dirancang untuk memperkuat kapasitas akademik serta menjamin kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Seluruh pengembangan kelembagaan ini selaras dengan visi jangka panjang STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Kampus ini memiliki target ambisius untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, berlandaskan nilai-nilai islami, serta memiliki semangat kewirausahaan.
Lebih lanjut, M. Arif Susanto menguraikan lima pilar utama yang menjadi landasan dan arah pengembangan bagi kampus STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Pilar pertama adalah penguatan keunggulan akademik. Hal ini diwujudkan melalui implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), sebuah pendekatan yang dirancang untuk selalu relevan dengan perkembangan zaman serta kebutuhan terkini dalam dunia pendidikan.
Pilar kedua berfokus pada pengembangan riset yang berdampak. STIT Muhammadiyah Bojonegoro mendorong para sivitas akademika untuk melaksanakan penelitian yang tidak hanya inovatif tetapi juga solutif, sehingga mampu memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat luas. Pilar ketiga adalah percepatan transformasi digital. Kampus berkomitmen untuk memodernisasi berbagai aspek operasionalnya, termasuk tata kelola administrasi, sistem akademik, hingga pengelolaan keuangan kampus.
Pilar keempat menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam atau Islamic Value Building. STIT Muhammadiyah Bojonegoro bertekad menjadikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya hidup seluruh sivitas akademika. Pilar kelima, dan yang terakhir, adalah pembangunan ekosistem positif atau Eco-Positive Ecosystem. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, kampus berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki karakter unggul tetapi juga adaptif terhadap berbagai tantangan masa depan.
Arah pengembangan kampus yang komprehensif ini juga selaras dengan pesan-pesan yang disampaikan STIT Muhammadiyah Bojonegoro kepada para lulusannya. Pada tahun akademik ini, kampus telah berhasil mewisuda sebanyak 97 sarjana dari empat program studi yang berbeda. Keempat program studi yang telah meluluskan sarjana tersebut meliputi Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), serta Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
M. Arif Susanto secara tegas menyatakan bahwa wisuda bukanlah sekadar simbol berakhirnya masa studi formal. Menurutnya, setiap sarjana memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka melalui pengabdian nyata kepada masyarakat. “Wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal kebermanfaatan. Gelar sarjana membawa tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi konkret dan dampak langsung di tengah masyarakat,” ujar M. Arif Susanto.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya bagi para lulusan untuk mengintegrasikan iman, ilmu, dan akhlak dalam setiap langkah menjalankan profesi mereka. Ketiga unsur ini, menurutnya, merupakan fondasi krusial bagi seorang pendidik sejati. Ia menambahkan bahwa peran pendidik sangatlah strategis dalam meletakkan fondasi peradaban sebuah bangsa. Kontribusi para pendidik ini akan secara signifikan memengaruhi kualitas generasi penerus Indonesia dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Dengan penuh penekanan, ia menyatakan, “Jangan pernah menganggap profesi guru di jenjang dasar atau usia dini sebagai hal kecil. Di sinilah nilai dan karakter manusia mulai dibentuk. Guru adalah pemilik masa depan yang menginspirasi lahirnya generasi peradaban baru.”
Acara wisuda ke-26 yang bersejarah itu juga turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., yang merupakan Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen. Turut hadir pula Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., selaku Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya, Jawa Timur, serta Drs. Sukaemi, M.Si., yang menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kabupaten Bojonegoro. Selain itu, acara tersebut juga dimeriahkan oleh kehadiran Ketua PDM dan PDA Bojonegoro, Badan Pelaksana Harian (BPH) STIT Muhammadiyah Bojonegoro, perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, serta perwakilan dari Pengadilan Agama Bojonegoro.
Dengan serangkaian upaya penguatan program studi, peningkatan kualitas dosen, serta transformasi tata kelola, STIT Muhammadiyah Bojonegoro kini menatap babak baru dalam perkembangannya. Kampus ini juga bertekad untuk terus memperkuat sinergi dengan pihak pemerintah, persyarikatan, dan seluruh elemen masyarakat guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Bojonegoro dan Indonesia secara keseluruhan.













