KlikMojok – Siswa-siswi SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) menunjukkan inovasi luar biasa dengan mengubah botol bekas, yang sering dianggap limbah, menjadi hiasan taman kelas yang penuh warna dan kreativitas. Proyek ini tidak hanya mempercantik ruangan, tetapi juga menjadi wadah penting dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan di kalangan siswa.
Melalui tangan-tangan kreatif para siswa SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi), botol-botol bekas yang umumnya berakhir di tempat sampah kini memperoleh fungsi dan nilai baru.
Sebanyak sembilan kelas di sekolah tersebut berpartisipasi dalam proyek “Green Innovation Miosi”, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengubah barang bekas menjadi taman-taman kelas yang inovatif. Kegiatan pembuatan taman ini telah dimulai sejak Selasa, 8 September 2026.
Natasya Artamefilla Rahmiawan, selaku Ketua Panitia Green Innovation Miosi, memaparkan latar belakang di balik pemilihan proyek pembuatan taman ini. Ia mengungkapkan bahwa pihak sekolah merasakan adanya kebutuhan mendesak untuk membangkitkan kembali kepedulian siswa terhadap isu-isu lingkungan.
Natasya menyoroti, “Kita melihat sekarang awareness anak-anak terhadap lingkungan itu mulai berkurang.” Ia menambahkan bahwa kecenderungan anak-anak masa kini yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai telah mengakibatkan minimnya aktivitas fisik di luar ruangan.
“Nah, lewat pembuatan taman ini mengajak anak-anak untuk lebih banyak berkegiatan di luar,” jelasnya lebih lanjut. Selain itu, proyek ini juga menjadi wadah bagi para siswa untuk menyalurkan ide-ide dan kreativitas mereka, seraya menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Natasya juga menekankan bahwa penggunaan botol bekas memegang peranan krusial dalam memperkenalkan dan mengaplikasikan prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace, Replant) kepada siswa. Botol-botol yang sebelumnya dianggap sampah dan akan dibuang, kini mendapatkan fungsi baru sebagai elemen integral dari taman.
“Jadi botol yang biasanya hanya dibuang, kami coba manfaatkan kembali menjadi bagian dari taman,” kutipnya.
Dengan pendekatan ini, para siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis tentang lingkungan di dalam ruang kelas, melainkan juga menerapkan pengetahuan tersebut secara praktis. Mereka secara langsung terlibat dalam pengelolaan barang-barang bekas, mengubahnya menjadi objek yang memiliki fungsi dan nilai tambah.
Setiap dari sembilan kelas yang berpartisipasi menghadirkan konsep kreatifnya masing-masing. Misalnya, Kelas VII A mengusung tema “Stroberi”, Kelas VII B memilih tema “Semangka”, dan Kelas VII C menghadirkan tema “Blueberry”.
Beranjak ke jenjang selanjutnya, Kelas VIII A memilih tema “Taman Air”, Kelas VIII B dengan “Hutan”, dan Kelas VIII C mengusung tema “Zootopia”. Sementara itu, siswa Kelas IX menampilkan karakter-karakter populer, dengan Kelas IX A memilih “Doraemon”, Kelas IX B “Minion”, dan Kelas IX C menghadirkan tema “Fantasi”.
Syakira Ichi Arafa, salah seorang siswa dari Kelas VIII C, menjelaskan latar belakang pemilihan tema “Zootopia” oleh kelasnya. Menurut Ichi, tema ini sangat relevan dengan tema besar untuk jenjang kelas VIII yang berpusat pada dunia hewan.
“Kami mengambil tema Zootopia karena dalam film ini terdapat karakter hewan,” terang Ichi. Ia menambahkan bahwa tema tersebut juga memberikan kesempatan untuk eksplorasi warna-warna seperti cokelat, pink, abu-abu, biru, hijau, kuning, dan hitam.
Setelah menentukan tema, para siswa kemudian menerjemahkannya ke dalam rancangan taman yang konkret. Mereka dengan cermat memadukan berbagai elemen seperti jenis tanaman, skema warna, dekorasi, dan penggunaan barang bekas agar selaras dengan konsep yang diusung oleh masing-masing kelas.
Pendekatan ini memastikan bahwa setiap taman memiliki identitas yang unik dan berbeda satu sama lain. Dengan demikian, kreativitas para siswa tidak hanya terbatas pada tataran ide, melainkan terwujud secara nyata dalam bentuk karya fisik.
Meskipun demikian, durasi pengerjaan yang relatif singkat menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para siswa. Mereka dituntut untuk mampu membagi tugas secara efektif dan menyesuaikan rancangan awal dengan kondisi riil di lapangan.
Selain itu, penyelesaian berbagai detail taman dalam keterbatasan waktu juga memerlukan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, semangat kolaborasi dan kerja sama tim menjadi kunci utama dalam keberhasilan proses pengerjaan proyek ini.
Zahira Basyasya, seorang siswi dari Kelas VIII C, mengungkapkan bahwa ia sempat merasa cemas mengingat banyaknya konsep yang ingin mereka wujudkan di tengah singkatnya waktu pengerjaan.
Meskipun demikian, ia menyatakan, “Sedih karena waktu pengerjaannya singkat dengan konsep yang masih banyak, tapi puas dengan hasilnya.”
Pada akhirnya, melalui inisiatif Green Innovation Miosi, taman-taman kelas ini bertransformasi menjadi ruang belajar interaktif yang berhasil menjembatani antara ekspresi kreativitas siswa dengan penanaman sikap kepedulian terhadap lingkungan.












