KlikMojok – Selat Sunda, yang biasanya menjadi jalur vital dan indah, kini diselimuti misteri kelam. Memasuki hari kedua operasi pencarian, harapan untuk menemukan delapan orang yang hilang kontak di atas sebuah speed boat semakin menipis. Ke delapan jiwa tersebut terdiri dari Warta (55 tahun), sang kapten kapal; Surakman (60 tahun), anak buah kapal; Heriyanto (49 tahun), pemandu wisata; serta lima jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan: M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, seorang jurnalis freelance. Mereka lenyap tanpa jejak di perairan yang luas.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa Tim SAR Gabungan telah mengerahkan tujuh unit Search and Rescue Unit (SRU) untuk memaksimalkan upaya pencarian. “Hari kedua ini kami memperluas area pencarian dengan membagi tim menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor. Seluruh sarana dan unsur yang terlibat kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” ujar Al Amrad, menggambarkan skala operasi yang ditingkatkan.
Dedikasi para tim penyelamat terlihat dari pembagian tugas yang detail. KN SAR Tetuka 247, misalnya, menyisir Sektor 2 seluas 68,3 nautical mile (NM), sementara KAL Anyer melakukan penyisiran di area yang sama dengan jarak 69,5 NM. Kapal Patroli (KP) Sanjaya tak ketinggalan, menjelajahi Sektor 4 sejauh 67,3 NM. Tim yang menggunakan RIB 02 dan RIB 03 Lampung fokus pada Sektor 1, mencakup area sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga kawasan Krakatau, dengan total lintasan 67 NM. Sementara itu, RIB 02 Banten menyisir sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang. Kapal-kapal besar seperti KRI Leuser dan KRI Lepu juga diturunkan, masing-masing bertugas di sektor yang telah ditentukan, menunjukkan keseriusan dalam operasi SAR H2 ini.
Namun, hingga laporan diterima, seluruh penyisiran yang dilakukan, termasuk pemantauan visual di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Rakata Besar, belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan kedelapan orang yang hilang. Langit Selat Sunda yang cerah berawan, dengan angin bertiup dari selatan ke utara berkecepatan sekitar 14 knot dan tinggi gelombang yang relatif tenang (0,4 hingga 1 meter), seolah kontras dengan kegelisahan yang menyelimuti operasi pencarian.
Di tengah upaya pencarian yang intensif, sebuah fenomena alam menambah kompleksitas situasi. Pada pukul 13.31 WIB, saat SRU 1 yang menggunakan KN SAR Tetuka 247 melanjutkan pencarian berdasarkan titik koordinat SAR Map, Gunung Anak Krakatau terlihat mengeluarkan material debu vulkanik yang cukup tebal. Kejadian ini secara otomatis menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan para personel SAR.
Menanggapi potensi risiko tersebut, Al Amrad menegaskan bahwa keselamatan personel adalah prioritas utama. “Kami juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan,” katanya. Keputusan ini menunjukkan keseimbangan antara keharusan menemukan korban dan kewajiban melindungi tim penyelamat dari ancaman alam.
Hingga pukul 15.22 WIB, harapan semakin menipis. SRU 5 yang menggunakan KP Sanjaya masih melakukan penyisiran sesuai titik koordinat SAR Map, namun belum juga menemukan hasil. Operasi SAR H2 ini melibatkan kolaborasi erat antara Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten dan Lampung, unsur TNI, Polri, BPBD, KSOP, potensi SAR, media, keluarga korban, nelayan, hingga masyarakat luas. Berbagai sarana canggih turut dikerahkan, mulai dari KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, KRI Lepu, KRI Leuser, RIB 02 Banten, RIB 02 dan RIB 03 Lampung, hingga drone thermal, serta peralatan SAR air, medis, dan komunikasi pendukung lainnya.
Meski belum ada hasil yang ditemukan, Al Amrad menegaskan komitmen tim SAR. “Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya. Kami berharap delapan orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi penutup hari kedua pencarian, menyisakan tanda tanya besar tentang nasib delapan orang yang hilang di tengah keganasan Selat Sunda dan aktivitas vulkanik yang mengintai.












