Menu

Mode Gelap
MBS Porong Kembangkan Jiwa Kepemimpinan Santri Melalui Qudwah Leadership Class dan Pola POACE Tiga Pilar Penting untuk Mahasiswa Baru FEB Umla: Koneksi, Potensi, dan Dampak Positif Dekan Fikes Umla Paparkan Strategi Mahasiswa Bertahan dan Berdampak di Tengah Gempuran AI Terbang Tinggi Cita-cita: Santri MBS Porong Belajar Makna Tujuan Lewat Pesawat Kertas Siswa Wajib “Makan Tanpa Dicerna”? Ternyata Ini Kunci Belajar Mendalam Lewat Refleksi Kelas! PPPK Guru Menuju PNS 2027: Polemik Tes Kompetensi Bagi Lulusan PPG dan 500 Ribu Formasi yang Bikin Heboh!

Pendidikan

Terbang Tinggi Cita-cita: Santri MBS Porong Belajar Makna Tujuan Lewat Pesawat Kertas

badge-check


					Terbang Tinggi Cita-cita: Santri MBS Porong Belajar Makna Tujuan Lewat Pesawat Kertas Perbesar

KlikMojok – Suasana pagi yang sejuk di lapangan bola basket Muhammadiyah Boarding School (MBS) Porong, Sidoarjo, menjadi saksi bisu dimulainya sebuah sesi pembelajaran yang berbeda pada Ahad (30/8/2026). Sekitar pukul 05.00 WIB, para santri kelas VII dan X duduk rapi membentuk formasi huruf U, tanpa kehadiran ruang kelas maupun papan tulis. Mereka berkumpul bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk sebuah program pengembangan diri bernama Kelas Aksentuasi Diri, yang merupakan bagian integral dari kurikulum pengembangan diri dan penguatan karakter Islami di MBS Porong.

Sesi ini dipandu oleh Septa Resistor, M.Psi., seorang praktisi PSY Star Psikologi yang juga mitra MBS Porong. Tujuannya adalah untuk mengajak para santri menyelami diri, mengenali potensi unik yang dimiliki, serta menentukan arah dan tujuan hidup mereka. Septa menjelaskan esensi dari aksentuasi diri sebagai penegasan arah hidup, mengingat setiap individu akan dihadapkan pada berbagai pilihan yang akan membentuk orientasi kehidupan di masa depan.

“Aksentuasi diri adalah menegaskan arah kita ke mana. Sebab, dalam hidup kita akan dipertemukan dengan berbagai pilihan yang nantinya menjadi penentu orientasi kehidupan,” ujar Septa. Pesan ini membuka perspektif baru bagi para santri, mendorong mereka untuk memandang diri sendiri secara berbeda. Potensi tidak hanya diukur dari kepintaran akademik, kemampuan berbicara, atau prestasi lomba, melainkan juga mencakup bakat dalam berbahasa, kedisiplinan, kepemimpinan, olahraga, seni, teknologi, hingga kemampuan interpersonal.

Setiap potensi diyakini memiliki ruang untuk berkembang dan menjadi sumber manfaat. MBS Porong menekankan bahwa pengenalan potensi diri bukan hanya tentang membantu santri menetapkan cita-cita, tetapi lebih dalam lagi, yaitu menemukan nilai diri, mengembangkan kelebihan, dan menerjemahkannya menjadi kebermanfaatan bagi sesama. Konsep ini selaras dengan ajaran Islam tentang manusia sebagai ‘ahsanu taqwim’ atau sebaik-baik ciptaan Allah SWT., yang dianugerahi kemampuan untuk dikembangkan.

Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, menyoroti pentingnya fase remaja sebagai periode pencarian identitas. “Siapa saya? Apa kelebihan saya? Apa yang membuat saya berbeda?” ucap Rozaq, mengutip pertanyaan-pertanyaan yang lazim muncul pada usia tersebut. Ia menambahkan bahwa keinginan remaja untuk tampil dan diakui adalah hal yang wajar, namun perlu disalurkan melalui sarana yang tepat. “Anak muda itu suka menampakkan diri, ingin tampil, diakui, dan membuktikan keberadaan dirinya. Itu bukan masalah. Masalah muncul ketika kebutuhan untuk tampil tidak menemukan sarana yang tepat,” tuturnya.

Oleh karena itu, Rozaq menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya melarang perilaku negatif, tetapi juga harus menyediakan ruang positif bagi santri untuk mengekspresikan potensi mereka. “Jangan sampai kita hanya mematikan perilaku negatif, tetapi harus memberikan panggung bagi potensi dirinya,” tegas Rozaq. Gagasan inilah yang mendasari penempatan Kelas Aksentuasi Diri sebagai program krusial dalam pengembangan santri, membekali mereka tidak hanya dengan kesadaran diri, tetapi juga kemampuan mengambil peran dan berekspresi secara positif.

Para santri memberikan respons positif terhadap sesi ini. Nizam Amrillah, santri kelas VII, menyadari pentingnya mengembangkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris yang dimilikinya. Sementara itu, Reyhan, santri kelas VII lainnya, memahami bahwa kedisiplinan bukan sekadar kepatuhan pada aturan, melainkan sebuah kebutuhan untuk mengoptimalkan pengembangan potensinya.

Puncak dari sesi ini adalah sebuah tugas sederhana namun sarat makna: menulis surat kepada diri sendiri di masa depan. Para santri menuangkan harapan, target yang ingin dicapai, serta langkah perubahan yang harus dimulai dari kini. Surat-surat tersebut kemudian dilipat menjadi pesawat kertas dan diterbangkan bersama dari lantai tiga gedung asrama.

Puluhan pesawat kertas melayang, berputar, dan mendarat di berbagai titik. Aktivitas ini menjadi metafora perjalanan hidup yang penuh liku. Menetapkan tujuan itu penting, namun realitas seringkali membawa perubahan arah yang tak terduga. Oleh karena itu, setelah menentukan cita-cita, santri diingatkan untuk menjaga komitmen terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan dan alasan di balik tujuan tersebut.

Kelas Aksentuasi Diri tidak berhenti pada identifikasi potensi, melainkan mendorong santri untuk merenungkan lebih dalam: “Dengan potensi ini, saya ingin menjadi siapa, memberikan manfaat apa, dan tetap berpegang pada nilai apa?” Di akhir sesi, setiap santri berhasil menemukan kembali pesawat kertas mereka yang membawa pesan aspiratif, menjadi pengingat akan arah yang telah mereka tuliskan sendiri.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

MBS Porong Kembangkan Jiwa Kepemimpinan Santri Melalui Qudwah Leadership Class dan Pola POACE

2 September 2026 - 12:35 WIB

Tiga Pilar Penting untuk Mahasiswa Baru FEB Umla: Koneksi, Potensi, dan Dampak Positif

2 September 2026 - 12:35 WIB

Dekan Fikes Umla Paparkan Strategi Mahasiswa Bertahan dan Berdampak di Tengah Gempuran AI

2 September 2026 - 10:04 WIB

Dari Pesantren ke Ruang UGD: Ketika Janji Makan Bergizi Gratis Berujung Nestapa Keracunan Santri di Sidoarjo

2 September 2026 - 06:14 WIB

Bayang-bayang Keracunan MBG di Manbaul Hikam: Ketika Pejabat Turun Tangan Menenangkan Kecemasan Santri dan Orang Tua

2 September 2026 - 06:13 WIB

Trending di Pendidikan