KlikMojok – Di balik dinding Pondok Pesantren Roisus Shobur Tanggulangin, Sidoarjo, sebuah kisah pilu terkuak. Belasan santri, yang sehari-hari menimba ilmu di SMA dan SMP Tribhakti, mendadak didera mual, muntah-muntah, dan pusing tak tertahankan. Kondisi gawat ini muncul tak lama setelah mereka menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin asupan nutrisi. Peristiwa yang terjadi pada Selasa, 1 September 2026, itu memaksa 13 santri—terdiri dari 7 siswa SMA dan 6 siswi SMP—untuk segera dilarikan ke RSUD Notopuro Sidoarjo, meninggalkan rutinitas belajar dan mengaji mereka demi penanganan medis darurat.
Kabar tak sedap ini dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga ndalem Pondok Pesantren Roisus Shobur. Gus Luis Kholilur, yang akrab disapa Gus Luis, membenarkan dugaan keracunan massal yang menimpa para santri. “Engge mas, santri sini ada yang diduga keracunan usai makan menu MBG,” ujarnya dengan nada prihatin.

Beliau menambahkan bahwa hingga kini, belasan santri tersebut masih menjalani perawatan intensif di RSUD Notopuro Sidoarjo. Mereka tidak sendirian; wali santri dan perwakilan dari pihak pondok pesantren setia mendampingi, memberikan dukungan moral dan memastikan penanganan terbaik. “Sampai sekarang korban masih mendapatkan perawatan intensif di RSUD Notopuro Sidoarjo, dengan didampingi wali santri dan pihak pondok,” terangnya. Gus Luis menaruh harapan besar agar para santri lekas pulih dan dapat kembali ke aktivitas mereka sehari-hari. “Semoga para santri lekas diberikan kesembuhan oleh Allah SWT,” ucapnya, memanjatkan doa bagi kesembuhan anak didiknya.
Pondok Pesantren Roisus Shobur sendiri memiliki karakteristik unik sebagai lembaga pendidikan salafiyah. Gus Luis menjelaskan bahwa sebelum bertransformasi menjadi pondok pesantren seperti saat ini, lembaga tersebut mulanya berstatus sebagai yayasan yatim piatu. Fleksibilitas pendidikan menjadi ciri khasnya; para santri yang berkeinginan menempuh pendidikan formal atau kurikulum umum diperbolehkan bersekolah di luar pondok. Setelah rampung dengan pendidikan formal, mereka akan kembali ke pondok untuk melanjutkan pembelajaran diniyah. “Santri sini yang ingin mengenyam pendidikan formal atau kurikulum, bisa ditempuh atau bersekolah di luar. Jadi para santri yang diduga keracunan itu pulangnya ke pondok karena belajar diniyahnya di sini,” jelas Gus Luis, menggambarkan kehidupan ganda para santri yang menyeimbangkan antara ilmu dunia dan akhirat.
Insiden dugaan keracunan makanan ini bukan kali pertama mengguncang Sidoarjo. Kasus ini menambah panjang daftar siswa maupun santri di wilayah tersebut yang harus mendapatkan perawatan medis setelah mengonsumsi menu MBG. Kondisi para korban masih dalam pantauan ketat tenaga medis, sementara penyebab pasti di balik munculnya gejala-gejala tersebut masih memerlukan investigasi dan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan pangan dalam program-program yang menyentuh langsung kehidupan para pelajar dan santri, memastikan bahwa janji gizi seimbang tidak berubah menjadi nestapa yang mengancam kesehatan mereka.













