KlikMojok – Muhammadiyah Boarding School (MBS) Porong, Sidoarjo, pada Ahad (30/8/2026), sukses menyelenggarakan Qudwah Leadership Class. Kegiatan ini dirancang khusus untuk menggembleng santri pilihan agar menjadi teladan sekaligus penggerak di lingkungan pesantren, dengan fokus pada pengembangan kemampuan memimpin diri, memahami dinamika tim, dan menerjemahkan ide menjadi program nyata melalui pola POACE.
Menjadi seorang teladan, atau dalam bahasa Arab disebut qudwah, tidaklah cukup hanya dengan berdiri di depan dan memberikan arahan. Seorang qudwah sejati harus terlebih dahulu memiliki kemampuan untuk memimpin dirinya sendiri, memahami orang lain dengan baik, dan mampu mengubah gagasan yang ada di benaknya menjadi gerakan nyata yang memberikan dampak.

Semangat inilah yang menjadi inti dari Qudwah Leadership Class yang diadakan oleh MBS Porong. Santri-santri terpilih dari kelas IX hingga XII yang menyandang predikat Tanfizul Qudwah menjadi peserta dalam kegiatan penting ini. Mereka diproyeksikan untuk menjadi figur teladan yang akan memimpin dan menggerakkan kehidupan santri lainnya.
Baca juga: Santri MBS Porong Terbangkan Cita-Cita lewat Pesawat Kertas
Kegiatan pelatihan kepemimpinan santri ini terbagi menjadi dua sesi yang padat. Sesi pertama berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Pada sesi awal ini, para peserta diajak untuk memahami secara mendalam mengapa seseorang perlu menjalani hidup sebagai teladan. Mereka juga dibimbing untuk belajar bagaimana memimpin diri sendiri dan merumuskan strategi yang efektif untuk menggerakkan orang lain.
Sesi pertama tersebut dipandu oleh Andrian Wicaksana Annur, S.E., bersama tim Anima 4111. Andrian Wicaksana Annur sendiri dikenal sebagai praktisi ahli dalam pengembangan sumber daya manusia, mental, dan karakter. Anima 4111 merupakan mitra strategis MBS Porong dalam upaya pengembangan potensi santri.
Dalam paparannya, Andrian tidak hanya menyampaikan teori-teori kepemimpinan. Ia secara interaktif mengajak para qudwah untuk merefleksikan kembali posisi dan amanah yang sedang mereka emban. “Mengapa saya berada di posisi ini? Mengapa saya ditempatkan di divisi ini? Potensi apa yang saya miliki? Manfaat apa yang dapat saya hadirkan?” tanya Andrian kepada seluruh peserta, memicu mereka untuk berpikir kritis.
Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut bertujuan untuk mengajak santri memahami bahwa kepemimpinan jauh melampaui sekadar sebuah jabatan. Sebuah posisi dalam divisi seharusnya dipandang sebagai wadah dan ruang yang optimal untuk mengembangkan potensi diri serta memperluas manfaat yang bisa diberikan kepada lingkungan.
Andrian juga menjelaskan bahwa tidak semua upaya kepemimpinan akan langsung menunjukkan hasil perubahan yang terlihat secara instan. Beberapa bidang, seperti inventarisasi, kebersihan, ketertiban, dan pelaksanaan ibadah, mungkin memberikan hasil yang relatif cepat dan dapat diamati dalam kondisi sehari-hari.
Namun, pembentukan budaya disiplin dan penumbuhan kesadaran beribadah memerlukan proses dan waktu yang lebih panjang. Program-program yang berfokus pada bidang-bidang ini tidak selalu menghasilkan perubahan yang bisa langsung didokumentasikan atau diukur secara kuantitatif dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, tugas para qudwah dalam bidang-bidang yang membutuhkan proses panjang ini menjadi lebih mendalam. Mereka dituntut untuk membangun lingkungan yang kondusif, menciptakan suasana yang positif, dan secara bertahap menumbuhkan kesadaran di kalangan santri.
Seorang qudwah tidak boleh mudah menyerah atau kecewa ketika hasil dari kerja kerasnya belum terlihat. Sebagian perubahan memang tumbuh secara perlahan dan membutuhkan konsistensi. Kebiasaan baik yang dibangun hari ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk membentuk karakter yang kokoh di kemudian hari.
Sesi kedua dari Qudwah Leadership Class berlangsung dari pukul 15.30 hingga 17.15 WIB. Pada sesi ini, para santri tidak lagi hanya duduk mendengarkan materi. Mereka didorong untuk secara langsung mempraktikkan proses kepemimpinan melalui aktivitas kelompok.
Para peserta bekerja sama dalam kelompok untuk menganalisis dan membedah rencana kegiatan yang melibatkan seluruh santri MBS Porong. Dalam latihan ini, mereka belajar untuk menentukan tujuan yang jelas, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, membagi tugas secara adil, merencanakan pelaksanaan, melakukan pengawasan, dan mengevaluasi hasil kegiatan.
Melalui latihan praktis tersebut, santri diperkenalkan pada pola kepemimpinan POACE. Istilah POACE merupakan akronim dari Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (pelaksanaan), Controlling (pengendalian), dan Evaluating (evaluasi).
Pada tahap planning, peserta dilatih untuk menentukan tujuan dan arah kegiatan yang akan dijalankan. Tahap organizing melatih mereka dalam membagi peran dan menempatkan anggota tim sesuai dengan kemampuan serta potensi masing-masing. Melalui actuating, peserta belajar bagaimana menggerakkan tim agar semua rencana dapat terlaksana dengan baik. Tahap controlling membantu mereka memastikan bahwa setiap kegiatan tetap berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu, evaluating mengajak peserta untuk menganalisis hasil, mengidentifikasi kekurangan, dan menentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan untuk kegiatan selanjutnya.
Pola POACE ini mengajarkan bahwa sebuah gagasan tidak boleh berhenti hanya sebagai ide semata. Seorang pemimpin yang efektif perlu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi langkah-langkah yang jelas, terstruktur, dan dapat dikerjakan oleh tim.
Dengan demikian, latihan kepemimpinan ini tidak hanya mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Para santri juga secara komprehensif belajar bagaimana mengubah visi menjadi program yang konkret, membagi tugas secara efisien, menjalankan kegiatan dengan terencana, dan mengevaluasi hasilnya untuk perbaikan berkelanjutan.
Terpilih sebagai Tanfidzul Qudwah bukan hanya sekadar menerima sebuah jabatan kehormatan. MBS Porong menyertai amanah tersebut dengan proses pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan, memastikan para santri memiliki bekal yang memadai.
Para santri dibimbing untuk belajar memimpin diri sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain. Mereka berlatih untuk disiplin secara mandiri sebelum meminta orang lain untuk disiplin. Selain itu, mereka juga belajar untuk bertanggung jawab penuh sebelum mendelegasikan tanggung jawab kepada anggota timnya.
Keteladanan sejati tidak selalu membutuhkan banyak kata-kata. Sikap tersebut justru tumbuh dan berkembang melalui kebiasaan yang konsisten serta perilaku nyata yang dapat dilihat dan dicontoh oleh orang lain.
Melalui Qudwah Leadership Class, MBS Porong secara tegas menempatkan pengembangan kepemimpinan sebagai bagian integral dari pendidikan santri. Program ini secara holistik melatih mereka untuk mengenali potensi diri, mengelola diri dengan baik, mengambil peran yang konstruktif, bekerja sama dalam tim, dan menyelesaikan berbagai masalah yang muncul.
MBS Porong juga menanamkan pemahaman penting bahwa ukuran seorang qudwah bukan terletak pada tingginya posisi atau jabatan yang dipegang. Ukuran sesungguhnya dari seorang qudwah terletak pada manfaat nyata yang tumbuh dan dirasakan oleh orang lain melalui kehadiran serta tindakan-tindakannya.
Ketika sesi berakhir pada pukul 17.15 WIB, para peserta telah berhasil menyelesaikan latihan menyusun kegiatan dengan menggunakan pola POACE. Rancangan kegiatan yang telah mereka susun ini menjadi bekal awal yang sangat berharga untuk menjalankan amanah mereka di lingkungan Muhammadiyah Boarding School Porong. (#)













