Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Napas Hijau Pesisir Probolinggo: Harmoni Mangrove, Musik, dan Sedekah Oksigen Jawa Timur

badge-check

Napas Hijau Pesisir Probolinggo: Harmoni Mangrove, Musik, dan Sedekah Oksigen Jawa Timur Perbesar

KlikMojok – Di tengah semilir angin pesisir Probolinggo yang hangat, deru sepeda motor listrik membelah pagi, mengiringi langkah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan musisi legendaris, Akhadi Wira Satriaji, atau yang akrab disapa Kaka Slank. Mereka berdua, bersama ribuan wajah penuh semangat dari berbagai lapisan masyarakat, berkumpul di Bee Jay Bakau Resort pada Selasa, 3 November 2026, untuk sebuah misi mulia: menggaungkan kembali gerakan “sedekah oksigen” dalam gelaran Festival Mangrove Jawa Timur ke-11.

Dengan tema besar ‘Mangrove Lestari, Masyarakat Sejahtera’, festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah aksi nyata penanaman 8.100 batang bibit mangrove. Kolaborasi ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari Wali Kota Probolinggo Aminuddin, Bupati Probolinggo Muhammad Haris, hingga pelajar, mahasiswa, Kelompok Tani Hutan, komunitas, dan mitra pembangunan. Tak hanya menanam, pemulihan ekosistem juga dirangkai dengan pelepasliaran enam ekor burung pecuk padi hitam dan 300 ekor kepiting, menandakan sebuah upaya holistik dalam menjaga keseimbangan alam.

Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa kesadaran menanam dan melestarikan mangrove merupakan fondasi penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata. Gerakan sedekah oksigen, menurutnya, adalah manifestasi konkret dari kepedulian mendalam terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini. “Ini adalah cara kita memperkuat ketahanan kawasan pesisir sekaligus investasi ekologis jangka panjang karena selagi yang ditanam tumbuh dan bisa menyerap karbondioksida berarti menghasilkan oksigen maka saat itu kita bersedekah oksigen,” terang Khofifah, menyoroti dimensi spiritual dan ekologis dari setiap bibit yang tertanam.

Hutan mangrove, dengan segala keunikan dan kekuatannya, kerap dijuluki sebagai pahlawan super penjaga ekosistem pesisir. Kemampuannya yang luar biasa dalam menyerap karbon dan menahan abrasi jauh melampaui hutan daratan biasa. Di Jawa Timur, upaya pelestarian mangrove menunjukkan tren positif yang membanggakan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas mangrove eksisting di Jawa Timur telah mencapai 31.067 hektare, meningkat signifikan sebesar 3.846 hektare dibandingkan tahun 2021 yang seluas 27.223 hektare. “Peningkatan ini merupakan hasil dari berbagai upaya pelestarian yang perlu terus dijaga. Festival mangrove turut menjadi wadah untuk mempertemukan para pihak, memperkuat dukungan, dan mendorong kesinambungan aksi perlindungan serta rehabilitasi mangrove,” jelas Khofifah, menggarisbawahi pentingnya sinergi.

Namun, di balik capaian yang baik ini, Khofifah mengingatkan untuk tidak cepat berpuas diri. Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari bertambahnya luasan kawasan atau jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga dari kualitas ekosistem dan keberhasilan pemulihannya secara berkelanjutan. “Rehabilitasi harus dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian lokasi, pemilihan jenis tanaman, kondisi lingkungan serta pemeliharaan dan pemantauan pasca tanam sehingga kita dapat memastikan mangrove tumbuh optimal dan fungsi ekologisnya tetap terjaga,” paparnya, menekankan aspek perencanaan dan kualitas dalam setiap langkah konservasi.

Pelestarian mangrove juga selaras dengan visi pengembangan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) di Jawa Timur. Ekosistem mangrove yang terjaga rapi membuka gerbang peluang ekonomi baru, mulai dari perikanan berkelanjutan, ekowisata berbasis alam, hingga pengembangan usaha kreatif masyarakat pesisir. Bee Jay Bakau Resort di Kota Probolinggo, yang turut diresmikan pada hari itu, menjadi contoh konkret bagaimana pariwisata, edukasi, dan kepedulian lingkungan dapat berpadu harmonis. Model pengembangan semacam ini menunjukkan bahwa pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal, tanpa mengabaikan daya dukung ekosistem. “Saya mendorong sinergi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat, termasuk generasi muda terus memperkuat rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir,” ajak Khofifah, menyerukan kolaborasi lintas sektor.

Komitmen Jawa Timur dalam pelestarian mangrove telah diakui secara nasional. Sejak tahun 2022, festival mangrove diselenggarakan secara berkesinambungan sebagai wadah kolaborasi multipihak. Konsistensi penyelenggaraan Festival Mangrove Jawa Timur ini bahkan diganjar penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas kategori “Festival Mangrove secara Seri Terbanyak dalam Waktu 5 Tahun”. “Pengakuan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas dan dampak gerakan pelestarian mangrove yang dibangun secara kolektif dan berkelanjutan mampu menjaga kesinambungan agenda dan memperkokoh kerja bersama lintas pihak,” ujar Khofifah, mengungkapkan rasa syukurnya.

Apresiasi khusus juga diberikan kepada Kaka Slank atas kontribusinya yang tak henti dalam mendukung pelestarian lingkungan, yang diwujudkan melalui penganugerahan Jer Basuki Mawa Beya. “Semoga penghargaan yang diterima menginspirasi banyak pihak agar mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam,” harap Khofifah. Kaka Slank sendiri turut menggaungkan pesan pelestarian lingkungan melalui penampilan solo gitarnya serta keterlibatannya aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan festival, menjadi jembatan antara seni dan kesadaran lingkungan.

Mayjend TNI Sriyanto Muntasram, Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), turut mengapresiasi Festival Mangrove Jawa Timur, mengingat provinsi ini telah menjadi benchmark dalam pengelolaan mangrove. Bahkan, lokasi Beejay Bakau direncanakan akan diajukan menjadi tuan rumah festival mangrove nasional. “Mangrove berdampak luar biasa bagi kehidupan,” ungkap Sriyanto, menyoroti urgensi keberadaan ekosistem ini.

Festival ini juga menampilkan inovasi seperti Si Rupa Bumi, Sistem Rumpun Pasak Bumi karya Zainur, penyuluh kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dari Sumenep, yang meraih Juara II Lomba Inovasi Rimbawan 2026. Berbagai kegiatan pendukung juga turut memeriahkan, mulai dari pengobatan gratis, edukasi mangrove bagi pelajar, pameran kinerja perlindungan dan pengelolaan mangrove, hingga peragaan busana batik dengan pewarna alami dari mangrove, menunjukkan kekayaan potensi yang bisa digali dari ekosistem ini.

Di akhir acara, Khofifah berharap Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 semakin memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan rehabilitasi mangrove yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. “Mari kita pastikan bahwa mangrove yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang,” pungkasnya, meninggalkan pesan mendalam tentang tanggung jawab kolektif terhadap masa depan bumi dan anak cucu kita. Sebuah napas hijau yang terus diupayakan, dari pesisir Probolinggo untuk dunia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Angin Kencang dan Pohon Mangga Lapuk: Refleksi Kesiapsiagaan di Situbondo

4 Nov 2026 - 09:45 WIB

Angin Kencang dan Pohon Mangga Lapuk: Refleksi Kesiapsiagaan di Situbondo

Ikwamu Two MI Mutwo Dikukuhkan, Dorong Kolaborasi Madrasah-Wali Murid

4 Nov 2026 - 09:44 WIB

Ikwamu Two MI Mutwo Dikukuhkan, Dorong Kolaborasi Madrasah-Wali Murid

Muhammadiyah Lumajang Ambil Langkah Komprehensif Tangani Rumah Terdampak Longsor

4 Nov 2026 - 09:43 WIB

Muhammadiyah Lumajang Ambil Langkah Komprehensif Tangani Rumah Terdampak Longsor

Senja di Surajaya: Magis Kushedya Hari Yudo Buka Jalan Persela di I.League Cup

4 Nov 2026 - 06:12 WIB

Senja di Surajaya: Magis Kushedya Hari Yudo Buka Jalan Persela di I.League Cup

Nyala Api di Warung Bambu Trawas: Refleksi Bahaya Tak Terduga dan Pentingnya Kewaspadaan

4 Nov 2026 - 06:11 WIB

Nyala Api di Warung Bambu Trawas: Refleksi Bahaya Tak Terduga dan Pentingnya Kewaspadaan
Trending di Pendidikan