KlikMojok – Imagine a serene Tuesday afternoon in Trawas, Mojokerto, di mana aroma masakan sederhana kerap menguar dari warung-warung di pinggir jalan. Namun, ketenangan itu mendadak koyak pada 3 November 2026, sekitar pukul 13.35 WIB, ketika kepulan asap tebal membubung dari sebuah warung semipermanen di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas. Detik-detik itu menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kelalaian kecil dapat memicu malapetaka besar, melalap habis bangunan yang menjadi tumpuan hidup, dan meninggalkan jejak arang serta pertanyaan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran warung di Trawas Mojokerto.
Musibah itu, yang kini hanya menyisakan puing hangus, diduga kuat bermula dari luapan api kompor gas elpiji yang berada di dalam warung. Sebuah alat yang setiap hari digunakan untuk menyajikan hidangan lezat, mendadak berubah menjadi sumber bencana. Dalam sekejap, kobaran api membesar, menemukan bahan bakar melimpah pada struktur bangunan warung yang didominasi bambu. Material ringan dan mudah terbakar seperti bambu, yang sering dipilih karena estetika dan ketersediaannya, ternyata juga menyimpan risiko tinggi manakala berhadapan dengan jilatan api.
Api tak butuh waktu lama untuk melahap seluruh isi warung berukuran sekitar 8 x 10 meter persegi itu. Kecepatan rambatan api menjadi pengingat betapa krusialnya respons cepat dalam menghadapi insiden semacam ini. Beruntung, laporan warga segera ditindaklanjuti. Abdul Khakim, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, menjelaskan bahwa pihaknya langsung memobilisasi armada pemadam. “Satu unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) BPBD Kabupaten Mojokerto dikerahkan ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman dan pembasahan. Material bangunan yang didominasi bambu serta bahan mudah terbakar membuat api sangat cepat merambat,” ujar Abdul Khakim, Selasa (3/11/2026).
Tak hanya petugas Damkar, semangat gotong royong juga terlihat di lokasi. Personel Polsek Trawas, Koramil, relawan, serta warga setempat bahu-membahu melokalisasi kobaran api. Mereka berupaya keras agar api tidak meluas ke kawasan sekitar yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar. Koordinasi yang apik antara berbagai pihak ini menunjukkan kekuatan komunitas dalam menghadapi situasi darurat. Api akhirnya berhasil dipadamkan total sekitar pukul 14.45 WIB, atau sekitar satu jam setelah insiden dimulai.
Meski warung ludes terbakar dan kerugian materiil masih dalam perhitungan, ada satu hal yang patut disyukuri: “Beruntung tidak ada korban jiwa, sementara untuk taksiran nilai kerugian materiil masih dalam tahap perhitungan,” pungkas Khakim. Insiden ini, meski menyisakan duka bagi pemilik warung, juga menjadi sebuah “pendidikan” yang mahal bagi kita semua. Ia mengingatkan akan pentingnya pemeriksaan rutin peralatan memasak, penggunaan material yang lebih tahan api jika memungkinkan, serta kesiapan mental dan tindakan cepat dalam menghadapi potensi bahaya. Kejadian di Trawas ini bukan sekadar berita tentang sebuah kebakaran; ia adalah cermin refleksi atas kerapuhan hidup dan urgensi edukasi keselamatan yang tak boleh luput dari perhatian, demi mencegah terulangnya kisah serupa di masa depan.












