KlikMojok – Di tengah upaya pelestarian lingkungan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa baru-baru ini mengibaratkan penanaman mangrove sebagai “sedekah oksigen” yang vital bagi kelangsungan hidup bumi. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks Festival Mangrove Jawa Timur XI di Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Kota Probolinggo, pada Selasa (3/11/2026). Konsep “sedekah oksigen” ini secara jelas menyoroti peran esensial tanaman pesisir tersebut dalam menyerap karbon dioksida secara besar-besaran, sekaligus berkontribusi signifikan terhadap pemeliharaan keseimbangan ekosistem global.
Khofifah menegaskan bahwa kegiatan menanam mangrove jauh melampaui sekadar acara seremonial penghijauan semata. Baginya, inisiatif ini merupakan sebuah investasi lingkungan yang krusial dan berjangka panjang, demi keberlanjutan serta kesejahteraan generasi mendatang.
Di hadapan para pegiat lingkungan dan tamu undangan yang hadir, Khofifah dengan lugas menyampaikan, “Bagi saya ini adalah sedekah oksigen. Jadi kalau zaman Googling, sedekah oksigen itu insyaallah ketemunya mangrove. Saya selalu mengajak kita untuk bersedekah oksigen.”
Lebih lanjut, Khofifah mengingatkan pentingnya menjalankan gerakan pelestarian mangrove secara berkelanjutan. Ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari proses pembibitan, perawatan yang intensif, perluasan kawasan, hingga pengembangan produk turunan mangrove yang memiliki nilai ekonomis. Ia turut mengutip anjuran dari Rasulullah SAW yang menyerukan umat manusia untuk senantiasa menanam kebaikan, bahkan ketika menghadapi hari akhir sekalipun.
Ajakan proaktif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Probolinggo. Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, memaparkan bahwa wilayahnya memiliki potensi kawasan mangrove yang membentang seluas sekitar 150 hektare. Dari total luasan tersebut, 120 hektare di antaranya telah berhasil tertutupi oleh ekosistem bakau yang sehat.
Melalui implementasi program unggulan mereka yang diberi nama “Bersolek”, Pemerintah Kota Probolinggo memiliki target ambisius. Mereka berencana untuk memulihkan seluruh sisa kawasan mangrove seluas 30 hektare, sehingga tutupan mangrove di wilayah tersebut dapat mencapai 100 persen pada tahun 2029 mendatang.
Aminuddin secara spesifik menyatakan, “Kota Probolinggo memiliki cakupan mangrove hampir 80 persen dari garis pantai yang ada. Lewat program Bersolek, kami bersemangat mewujudkan tutupan mangrove 100 persen sejalan dengan RPJMD Jawa Timur.”
Selain manfaat ekologis yang tak terbantahkan, Aminuddin juga menyoroti potensi ekonomi luar biasa yang terkandung dalam ekosistem mangrove. Berdasarkan hasil studi global, diperkirakan nilai ekonomi per hektare kawasan mangrove dapat mencapai angka fantastis, antara Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumadi, menyampaikan laporan mengenai tren positif peningkatan luasan kawasan mangrove di Jatim. Data yang dihimpun dari Festival Mangrove Jatim XI menunjukkan bahwa luas mangrove di wilayah tersebut mengalami lonjakan signifikan. Dari 27.221 hektare pada tahun 2021, luasan ini meningkat menjadi 31.067 hektare pada tahun 2025, yang berarti terjadi penambahan seluas 3.846 hektare hanya dalam kurun waktu empat tahun.
Jumadi lebih lanjut mengungkapkan, “Tutupan mangrove di Jawa Timur merupakan yang paling tinggi se-Jawa, menyamai hampir 50 persen dari total luasan regional.”
Pada kesempatan yang sama dalam festival tersebut, Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Mayjen TNI Dr. Sriyanto, secara resmi mengumumkan peluncuran sebuah sistem informasi terpadu. Sistem yang dinamai Sagara, singkatan dari Sistem Informasi Gambut dan Mangrove Nusantara, ini dirancang sebagai pusat data (clearing house dan knowledge hub) sekaligus platform untuk pengaduan publik. Tujuannya adalah untuk memperkuat upaya perlindungan ekosistem pesisir di seluruh wilayah nasional.












