Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Review

Prioritas Anggaran Rokok di Atas Pangan Bergizi: UGM Soroti Ancaman Stunting Anak di Indonesia

badge-check

Prioritas Anggaran Rokok di Atas Pangan Bergizi: UGM Soroti Ancaman Stunting Anak di Indonesia Perbesar

KlikMojok – Pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok masih menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi yang membatasi daya beli, banyak keluarga justru mengalokasikan dana yang signifikan untuk rokok, melampaui kebutuhan pangan bergizi esensial seperti telur, susu, dan daging.

Kondisi ini tidak hanya sebatas kebiasaan konsumsi orang dewasa semata. Saat anggaran belanja rokok mengikis alokasi untuk makanan bergizi, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Pemenuhan nutrisi yang tidak optimal secara konsisten dapat secara signifikan meningkatkan risiko stunting, yaitu gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak jangka panjang pada kualitas hidup.

Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., seorang Pakar Promosi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), menegaskan bahwa kebiasaan merokok di dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga miskin untuk pembelian rokok seringkali lebih tinggi dibandingkan dengan belanja untuk sejumlah bahan pangan sumber protein hewani.

“Jelas memberikan dampak besar pada pemenuhan gizi keluarga. Sayangnya, di tingkat rumah tangga, tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran belanja jika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah,” ungkap Yayi pada Senin (2/11/2026).

Yayi juga menambahkan bahwa kebiasaan merokok banyak ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi miskin dan sangat miskin. Dalam situasi tekanan ekonomi yang berat, rokok terkadang dijadikan sebagai sarana hiburan atau pelarian dari berbagai persoalan hidup.

Namun, kebiasaan tersebut pada akhirnya berisiko menyebabkan kebutuhan dasar keluarga, khususnya pemenuhan nutrisi anak, tidak mendapatkan porsi anggaran yang memadai, berujung pada masalah kesehatan serius seperti stunting.

Peran Masyarakat Penting dalam Upaya Pemberantasan Kebiasaan Merokok

Menurut Yayi, upaya untuk mengurangi konsumsi rokok tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye kesehatan atau imbauan dari tenaga medis. Perubahan perilaku yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Salah satu langkah strategis yang dianggap penting adalah melibatkan tokoh lokal yang memiliki pengaruh dan kepercayaan di mata warga. Mulai dari kepala desa, lurah, pengurus RT/RW, hingga tokoh agama dapat mengambil peran aktif dalam mengedukasi masyarakat mengenai bahaya rokok dan urgensi pemenuhan gizi anak secara optimal.

Ia menjelaskan bahwa tenaga promosi kesehatan dapat menyediakan materi dan pendampingan edukasi yang diperlukan. Namun, keberhasilan gerakan di tingkat akar rumput sangat bergantung pada keterlibatan aktif tokoh masyarakat yang memahami kondisi sosial dan kebiasaan warga setempat.

“Pesan edukasi mengenai pentingnya masa depan dan gizi anak harus disampaikan oleh pihak yang dipercaya masyarakat. Kami dari bidang promosi kesehatan dapat memfasilitasi materi edukasinya, namun tokoh masyarakatlah yang menjadi penggeraknya di lapangan,” jelasnya lebih lanjut.

Selain persoalan perilaku di tingkat keluarga, Yayi juga menyoroti efektivitas kebijakan pengendalian konsumsi rokok. Kenaikan cukai rokok, misalnya, belum tentu secara otomatis membuat konsumen berhenti merokok. Sebagian perokok justru berpotensi berpindah ke produk dengan harga yang lebih murah, sebuah perilaku yang dikenal sebagai downtrading. Perilaku ini juga dapat mendorong konsumen untuk memilih rokok ilegal yang tidak dikenai cukai, sehingga tidak efektif dalam mengurangi konsumsi.

Di sisi lain, pengawasan penjualan rokok kepada anak dan remaja masih memerlukan penguatan serius. Meskipun pemerintah telah mengatur ketentuan pembatasan usia pembeli rokok minimal 21 tahun, penerapannya di lapangan dinilai belum merata. Pengawasan selama ini cenderung lebih terlihat di toko ritel modern, sementara warung kelontong yang tersebar luas di lingkungan permukiman masih menjadi tantangan tersendiri dalam penegakan aturan.

Yayi mendorong pengembangan gerakan desa dan rumah bebas asap rokok sebagai upaya untuk memperluas perlindungan masyarakat, khususnya anak-anak, dari paparan asap rokok. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, sejumlah pengelola warung bahkan telah berani membuat kesepakatan untuk tidak melayani pembelian rokok oleh anak-anak, menunjukkan inisiatif positif dari masyarakat.

“Kami terus mendorong lahirnya gerakan desa atau rumah bebas asap rokok. Di beberapa daerah seperti di DIY, beberapa pengelola warung bahkan sudah berani membuat kesepakatan untuk menolak menjual rokok kepada anak-anak,” tambahnya.

UGM Kembangkan Program Pendamping Sebaya di Sekolah untuk Pencegahan Rokok

Perlindungan anak dari kebiasaan merokok juga menjadi fokus perhatian FK-KMK UGM. Melalui penelitian kolaboratif, tim peneliti tengah mengembangkan program peer supporter atau pendamping sebaya di lingkungan sekolah. Program ini dirancang untuk mencegah remaja mencoba rokok sejak dini sekaligus membangun kesadaran mendalam mengenai risiko merokok di kalangan usia muda. Pendekatan teman sebaya dinilai sangat efektif dalam membangun lingkungan pergaulan yang mendukung perilaku hidup sehat di kalangan remaja.

Yayi juga mengingatkan bahwa perubahan kebiasaan merokok perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Para kepala keluarga yang masih merokok diharapkan untuk mulai mempertimbangkan kembali penggunaan uang yang dialokasikan untuk membeli rokok dan mengalihkannya bagi kebutuhan rumah tangga yang lebih mendesak, terutama untuk pemenuhan gizi anak. Ia mengimbau para perokok aktif setidaknya tidak merokok di dalam rumah agar anggota keluarga, terutama anak-anak, tidak terpapar asap rokok pasif.

“Sayangilah anak dan istri. Langkah paling minimal yang bisa dilakukan adalah tidak merokok di dalam rumah. Pikirkanlah untuk memberikan makanan yang terbaik bagi keluarga, dan pelan-pelan sisihkan anggaran hobi merokok itu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita,” pungkasnya, menekankan pentingnya prioritas kesehatan keluarga di atas kebiasaan merokok. [aje]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Perkuat Solidaritas dan Bakti Sosial: Pemkot Mojokerto Rayakan HUT KORPRI ke-55 dengan Bantuan Stunting dan Hakordia Run

3 Nov 2026 - 15:20 WIB

Perkuat Solidaritas dan Bakti Sosial: Pemkot Mojokerto Rayakan HUT KORPRI ke-55 dengan Bantuan Stunting dan Hakordia Run

Kreativitas Menyeramkan: Mengulas Dessert Halloween Berbentuk Otak dan Jari di Crown Prince Hotel Surabaya

3 Nov 2026 - 12:38 WIB

Kreativitas Menyeramkan: Mengulas Dessert Halloween Berbentuk Otak dan Jari di Crown Prince Hotel Surabaya

The Nice Playland Bangkalan: Destinasi Wisata Keluarga Lengkap, 80+ Wahana Cuma Rp25 Ribu

2 Nov 2026 - 15:20 WIB

The Nice Playland Bangkalan: Destinasi Wisata Keluarga Lengkap, 80+ Wahana Cuma Rp25 Ribu

Pajak Produk Menstruasi: Komnas Perempuan Soroti Bias Gender dan Ancaman Kemiskinan Menstruasi

2 Nov 2026 - 15:20 WIB

Pajak Produk Menstruasi: Komnas Perempuan Soroti Bias Gender dan Ancaman Kemiskinan Menstruasi

Inovasi Dakwah LDII Jember: Bagikan 220 Al-Qur’an Gratis, Dorong Semangat Membaca Tiga Ayat

2 Nov 2026 - 09:45 WIB

Inovasi Dakwah LDII Jember: Bagikan 220 Al-Qur’an Gratis, Dorong Semangat Membaca Tiga Ayat
Trending di Review