KlikMojok – Di Kampung Kerapu, Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, rutinitas para petambak kerapu kini tak lagi sama. Jika dulu mereka harus bolak-balik ke tambak untuk memantau kondisi air secara manual, kini sentuhan ibu jari pada gawai sudah cukup. Perubahan ini bukan sekadar efisiensi waktu, melainkan sebuah revolusi senyap yang didorong oleh teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI), yang dalam lima bulan terakhir telah mendongkrak tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu hingga 16 persen.
Hasil awal yang menjanjikan ini terungkap saat Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menghadiri panen raya kerapu pada Selasa (3/11/2026). Angka kenaikan kelangsungan hidup sebesar 16 persen itu bukan sekadar statistik, melainkan potensi nyata untuk mendongkrak pendapatan para petambak lebih dari 24 persen. Sebuah capaian signifikan yang membuktikan bahwa digitalisasi bukan hanya milik perkotaan, melainkan juga berdaya guna di jantung ekonomi pedesaan.
Program inovatif ini digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, dengan tujuan memberdayakan petambak agar dapat mengelola budidaya secara lebih efektif dan presisi. Meutya Hafid menegaskan bahwa akses terhadap teknologi digital harus merata, tidak boleh hanya berputar di perkotaan saja. “Digitalisasi bukan barang yang menjadi hak kota-kota besar saja. Kekuatan ekonomi yang berada di daerah-daerah, termasuk Lamongan, juga harus mendapatkan manfaatnya,” kata Meutya, menyoroti pentingnya pemerataan teknologi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa digitalisasi sektor perikanan merupakan bagian integral dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, menurutnya, adalah tulang punggung ekonomi yang menyumbang sekitar 12,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Untuk memastikan teknologi ini benar-benar diadopsi dan dimanfaatkan secara optimal, petambak di Kampung Kerapu mendapatkan pendampingan gratis selama delapan bulan. “Pendampingan diberikan secara gratis selama delapan bulan sebagai tahap awal. Kami pertimbangkan penambahan masa pendampingan selama empat bulan, sehingga total menjadi satu tahun agar pemanfaatan teknologi ini makin optimal,” tuturnya, menunjukkan komitmen jangka panjang pemerintah.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menggarisbawahi potensi ekonomi luar biasa yang dimiliki Kampung Kerapu Desa Labuhan. Kawasan budidaya seluas lebih dari 300 hektare ini mulai dikembangkan sejak tahun 2023 dan dikukuhkan melalui Surat Keputusan Bupati Lamongan pada tahun 2025. Data menunjukkan, pada tahun 2025, produksi ikan kerapu dari kawasan tersebut mencapai 1.800 ton, menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp 174 miliar. Tak hanya itu, hasil budidayanya telah menembus pasar ekspor, salah satunya ke Hong Kong, dengan harga jual kerapu kualitas ekspor mencapai Rp 130.000 per kilogram, sebuah bukti kualitas dan daya saing yang tinggi.
Untuk mewujudkan budidaya berbasis teknologi ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama Ditjen Ekosistem Digital Komdigi telah menyalurkan 100 perangkat IoT dan lima sensor pemantau kondisi air serta kadar oksigen. Dengan perangkat canggih ini, para petambak tidak lagi terbebani keharusan bolak-balik ke tambak untuk mengecek parameter air yang krusial. “Dengan sentuhan ibu jari, petambak sudah bisa memantau kondisi tambaknya dari rumah. Ini tentu memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan budidaya,” tutur Bupati Yuhronur, atau akrab disapa Pak Yes.
Harapan besar pun disematkan pada program di Kampung Kerapu ini, agar tidak berhenti hanya sebagai proyek percontohan. “Digitalisasi tambak diharapkan terus berlanjut, dan mampu menarik minat generasi muda untuk mengembangkan usaha di sektor perikanan budidaya,” pungkas Pak Yes. Lebih dari sekadar peningkatan produksi, inisiatif ini adalah jembatan menuju masa depan perikanan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus membuka pintu bagi generasi muda untuk melihat sektor perikanan bukan lagi sebagai pekerjaan tradisional, melainkan arena inovasi dan peluang ekonomi yang menjanjikan.












