KlikMojok – SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) telah mengambil langkah signifikan dalam memperkaya kurikulum pendidikannya. Melalui program One Day Boarding School atau Muqim, Miosi kini menghadirkan penyederhanaan materi akhlak yang bersumber dari kitab Ta’lim Muta’alim. Penambahan materi ini bertujuan untuk mengajarkan siswa kelas VIII tentang pentingnya menghormati ilmu dan guru, serta mengamalkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, dimulai sejak Jumat, 21 Agustus 2026.
Penambahan materi akhlak ini secara khusus diterapkan dalam pembelajaran Muqim kelas VIII. Materi Ta’lim Muta’alim, yang dikenal luas di lingkungan pondok pesantren sebagai panduan adab menuntut ilmu, kini diadaptasi dan disederhanakan agar lebih mudah diakses oleh siswa Miosi dalam kerangka program One Day Boarding School mereka.

Moch. Muqhir, S.Ag., M.Pd., dipercaya sebagai pengajar dalam sesi materi akhlak ini. Ia secara aktif mengajak para siswa untuk mendalami dan memahami esensi dari menghormati ilmu serta mereka yang menyampaikannya.
“Tujuannya agar anak-anak dapat menghormati ilmu dan guru,” terang Moch. Muqhir. Ia juga menjelaskan bahwa konsep “guru” tidak hanya terbatas pada pengajar di dalam kelas. “Guru itu luas, semua orang yang memberikan ilmu,” ujarnya, menekankan bahwa sumber ilmu bisa datang dari siapa saja.
Lebih lanjut, Moch. Muqhir menguraikan bahwa pembelajaran akhlak tidak sekadar berhenti pada pemahaman materi secara teoritis. Capaian utama yang diharapkan adalah adanya perbaikan nyata dalam akhlak siswa selama proses mencari ilmu dan, yang terpenting, dalam mengamalkannya.
“Bagaimana cara menghormati ilmu agar ilmunya bisa bermanfaat,” jelasnya. Materi ini mengambil rujukan utama dari kitab Ta’lim Muta’alim karya Burhanuddin Al-Zarnuji. Selain itu, siswa juga diperkenalkan dengan 13 adab menuntut ilmu yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, memperkaya perspektif mereka.
Ia menambahkan, “Ilmu itu bukan hanya untuk diketahui, tetapi bagaimana ilmu tersebut diamalkan.” Penekanan ini menunjukkan bahwa nilai sejati dari ilmu terletak pada penerapannya dalam kehidupan.
Dalam rangkaian materi tersebut, siswa juga diajak untuk memahami konsep “ilmu hal”. Menurut Moch. Muqhir, ilmu hal adalah jenis ilmu yang sangat mendesak untuk segera dipelajari begitu seseorang membutuhkannya dalam situasi tertentu.
Sebagai contoh, ia menjelaskan, “Kalau mau haji, harus mempelajari ilmunya. Kalau mau shalat, harus segera mempelajari ilmu shalat.” Ilmu hal mencakup pengetahuan agama fundamental yang diperlukan untuk menjalankan kewajiban sehari-hari, seperti tata cara bersuci, pelaksanaan salat, dan pemahaman akidah dasar.
Kehadiran materi akhlak ini merupakan bagian integral dari upaya penguatan pembelajaran Muqim di Miosi. Materi yang sebelumnya identik dengan kurikulum di pondok pesantren kini secara sistematis diintegrasikan ke dalam bahasan siswa di program One Day Boarding School, menjadikannya lebih relevan bagi siswa di lingkungan sekolah umum.
Moch. Muqhir secara tegas menekankan adanya hubungan erat antara ilmu dan akhlak. Baginya, ilmu tidak hanya sekadar kumpulan hafalan atau pengetahuan teoritis belaka, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan diamalkan dalam setiap aspek kehidupan.
“Ilmu harus membawa manfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat,” ujarnya, menyoroti tujuan akhir dari setiap ilmu yang dipelajari.
Pemahaman mendalam ini selaras dengan materi yang menjelaskan bahwa ilmu sejati seharusnya mampu mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, serta membentuk pribadi dengan akhlak yang mulia.
Melalui pembelajaran komprehensif ini, Miosi tidak hanya berupaya membekali siswa dengan pengetahuan agama yang memadai. Lebih dari itu, diharapkan setiap siswa memiliki adab yang baik dalam mencari ilmu, senantiasa menghormati guru-guru mereka, dan mampu mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan di dunia dan akhirat.













