KlikMojok – Pada Rabu, 19 Agustus 2026, SD Islam Terpadu Al-Ibrah Gresik sukses menyelenggarakan Al-Ibrah Literacy and Independence Festival 2026, sebuah perayaan kemerdekaan yang inovatif. Festival ini tidak hanya mengajak para murid untuk membaca dan menulis, tetapi juga mendorong mereka menemukan berbagai gagasan orisinal dari lingkungan sekitar, kekayaan budaya, pengalaman pribadi, serta kehidupan sehari-hari mereka.
Acara Al-Ibrah Literacy and Independence Festival 2026 ini secara khusus dirancang untuk menyatukan semangat kemerdekaan dengan kegiatan literasi, kreativitas, beragam permainan edukatif, dan nilai-nilai kebersamaan.

Halaman sekolah SD Islam Terpadu Al-Ibrah Gresik bertransformasi menjadi pusat kegiatan yang dinamis. Di sana, para murid bisa belajar, menjelajahi bazar buku, dan bahkan menikmati berbagai hidangan lezat yang disajikan oleh pedagang kaki lima lokal.
Setelah seluruh murid menyelesaikan kegiatan zikir pagi dan salat Duha secara berjemaah, mereka kemudian berkumpul di halaman utama atau lapangan rumput sekolah yang luas, siap untuk memulai rangkaian acara.
Pagi itu, suasana semakin semarak dengan busana dan aksesori bernuansa merah putih yang dikenakan oleh setiap murid, menciptakan nuansa ceria yang kental. Semangat kemerdekaan Republik Indonesia terasa begitu kuat dan istimewa di sepanjang pagi tersebut.
Kegiatan ini bukan sekadar perayaan rutin pasca-peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan sebuah wadah penting yang mempertemukan elemen literasi, kreativitas, permainan interaktif, dan semangat kebersamaan di antara para siswa.
SD Islam Terpadu Al-Ibrah Gresik secara resmi menyelenggarakan Al-Ibrah Literacy and Independence Festival dengan mengusung tema “From Books to Action, From Action Inspiration”. Festival ini secara cerdas mengintegrasikan berbagai kegiatan literasi dengan aneka lomba yang diselenggarakan dalam semangat merayakan kemerdekaan.
Pembukaan kegiatan festival ini dilakukan oleh Kepala SD Islam Terpadu Al-Ibrah Gresik, Janan, S.Pd., didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah, Noor Solihah, S.Pd., menandai dimulainya rangkaian acara.
Setelah upacara pembukaan, festival tidak terpaku di satu lokasi, melainkan bergerak dinamis ke berbagai ruang di lingkungan sekolah. Sebagian murid menuju aula, sebagian lain beranjak ke Star Ballroom, ada yang asyik berburu buku di area bazar, dan tak sedikit pula yang bersiap untuk menaklukkan berbagai tantangan permainan yang telah disiapkan.
Peran penanggung jawab untuk Festival Literasi dipegang oleh Amilatul Mahfiyah. Di sisi lain, seluruh rangkaian lomba kemerdekaan yang memeriahkan acara ini berada di bawah koordinasi dan tanggung jawab Belintang Yugus N.P.
Namun, aspek yang paling menarik dan menjadi kekuatan utama dari festival ini adalah konsep perjalanan yang berbeda untuk setiap jenjang kelas, memberikan pengalaman yang disesuaikan.
Alih-alih berkumpul dalam satu kegiatan serentak setelah pembukaan, para murid justru bergerak secara terpisah, mengikuti agenda yang telah disesuaikan dengan jenjang kelas mereka masing-masing.
Murid kelas 1 menjadi salah satu kelompok yang paling awal merasakan kemeriahan lomba. Pada sesi pagi, mereka berpartisipasi dalam beragam permainan yang seru, seperti futsal khusus untuk murid muslim, basket untuk murid muslimah, estafet air, lomba tiup bola dalam gelas, estafet gambar, serta estafet karet tepung yang menguji ketangkasan.
Meskipun permainan-permainan tersebut terlihat sederhana, namun di balik riuhnya tawa dan gerakan yang penuh semangat, anak-anak secara tidak langsung belajar banyak nilai penting. Mereka belajar tentang kerja sama tim, pentingnya menaati aturan, kesabaran dalam menunggu giliran, keberanian untuk mencoba hal baru, serta sikap lapang dada dalam menerima hasil akhir.
Usai mengikuti lomba, mereka melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi bazar buku dan makanan. Keberadaan bazar ini merupakan elemen krusial dalam festival, menegaskan bahwa literasi bukanlah sekadar aktivitas membaca di dalam ruang kelas, melainkan pengalaman yang lebih luas.
Melalui bazar, anak-anak diberikan kesempatan untuk melihat berbagai jenis buku, secara mandiri memilih bacaan yang menarik minat mereka, dan merasakan langsung atmosfer sebuah kegiatan literasi yang dinamis dan hidup.
Sementara itu, murid kelas 2 juga menjalani perjalanan yang tak kalah menarik. Setelah zikir pagi dan pembukaan, mereka mengunjungi bazar buku, menjelajahi bazar UMKM, dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan keliling yang tersedia.
Di sesi selanjutnya, para murid kelas 2 diajak untuk menyelami dunia cerita bersama pegiat literasi, Nency Septriyana, yang membimbing mereka.
Namun, kali ini aktivitasnya bukan hanya sekadar mendengarkan cerita. Murid kelas 2 ditantang untuk menulis fabel mereka sendiri, menghidupkan berbagai tokoh binatang melalui daya imajinasi dan kreativitas mereka.
Entah itu seekor kancil yang cerdik, burung yang lincah, kelinci yang lucu, atau tokoh binatang lain yang muncul dari benak kreatif anak-anak, mereka semua belajar bahwa sebuah cerita yang menarik dapat lahir dari gagasan yang paling sederhana sekalipun.
Berbeda dengan jenjang sebelumnya, murid kelas 3 dan 4 menghadapi tantangan literasi yang unik. Murid kelas 3 diarahkan untuk berfokus pada penulisan cerpen tiga paragraf, atau yang lebih dikenal dengan istilah pentigraf.
Sementara itu, murid kelas 4 diajak untuk menyelami dunia puisi dengan tema yang sangat relevan dan dekat dengan lingkungan mereka, yaitu eksplorasi budaya, tradisi, dan kuliner khas kota Gresik.
Secara bertahap, festival ini mulai menunjukkan esensinya yang sebenarnya, menegaskan bahwa literasi tidak selalu identik dengan kegiatan duduk diam sambil membuka buku.
Literasi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti berlari di lapangan, bergerak aktif dalam permainan, berkomunikasi melalui cerita, atau bahkan menjelma menjadi sebuah puisi yang mengangkat tentang kupat, pudak, tradisi, serta jejak budaya yang kaya di sebuah kota.
Salah satu kekuatan utama yang membuat Al-Ibrah Literacy and Independence Festival begitu berkesan adalah pemilihan materi yang sangat relevan dan dekat dengan dunia serta pengalaman para murid.
Khusus untuk murid kelas 1, kegiatan literasi menghadirkan Komang Jaya Upadhana, yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Kak Komang, seorang pencerita populer dan berpengalaman di Kota Gresik.
Melalui sesi visualisasi dan cerita yang interaktif, anak-anak diajak untuk memasuki dunia narasi dengan cara yang jauh lebih hidup dan imersif.
Bagi anak-anak di usia awal sekolah dasar, sebuah cerita bukan sekadar rangkaian kalimat tertulis. Cerita adalah gambar yang bergerak aktif dalam pikiran mereka, suara yang seolah menghidupkan setiap tokoh, ekspresi yang membuat suasana terasa nyata dan dekat, serta sebuah imajinasi yang membuka gerbang menuju berbagai kemungkinan tak terbatas.
Selanjutnya, murid kelas 2 melangkah lebih jauh dalam berliterasi dengan bimbingan Nency Septriyana untuk menulis fabel mereka sendiri.
Sementara itu, murid kelas 3 memperoleh pengalaman berharga dalam menulis cerpen tiga paragraf atau pentigraf, didampingi oleh Wahdiyatul Masruroh. Materi ini memperkenalkan kepada mereka bentuk cerita yang ringkas namun tetap menuntut adanya gagasan kuat, pengembangan tokoh, konflik yang menarik, serta penyelesaian yang memuaskan.
Pentigraf, sebagai bentuk cerpen tiga paragraf, diketahui pernah sangat populer dan dipelopori oleh Dr. Tengsoe Tjahjono, seorang sastrawan sekaligus akademikus terkemuka.
Pengalaman semacam ini memiliki signifikansi besar bagi murid sekolah dasar. Mereka tidak hanya belajar bahwa menulis adalah sekadar mengisi halaman kosong dengan kata-kata.
Lebih dari itu, mereka memahami bahwa sebuah tulisan yang baik memerlukan gagasan yang kuat, dan bahwa gagasan-gagasan tersebut dapat ditemukan di berbagai tempat dan situasi.
Bagi murid kelas 4, perjalanan literasi mereka semakin diperkaya dengan pendekatan identitas lokal. Mereka diajak untuk menulis puisi dengan tema budaya, tradisi, dan kuliner khas Gresik, dibimbing langsung oleh Almaidatul Istibsyaroh, yang menjabat sebagai Ketua FLP periode 2024-2026.
Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan kuat; ketika anak-anak menulis tentang sesuatu yang sudah akrab bagi mereka, kata-kata yang mereka gunakan tidak lagi terasa asing atau jauh dari pengalaman pribadi.
Mereka dapat merangkai tulisan berdasarkan ingatan, pengalaman langsung, hasil pengamatan, bahkan dari aroma makanan yang mereka kenali dan cerita tradisi yang telah tumbuh di lingkungan sekitar mereka.
Di sinilah esensi literasi menemukan tempat terbaiknya: pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan, namun seringkali terabaikan. Melalui Al-Ibrah Festival ini, para murid tidak hanya sekadar membaca dan menulis, melainkan juga diajak untuk menemukan gagasan-gagasan baru dari lingkungan sekitar, kekayaan budaya, pengalaman pribadi, serta dinamika kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan jenjang kelas 1 hingga 4 yang lebih banyak berinteraksi dengan cerita, fabel, pentigraf, dan puisi, murid kelas 5 dan 6 mendapatkan pengalaman literasi yang bergerak menuju bentuk pembelajaran yang lebih kompleks. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan penerbit Mitra Karya.
Khususnya untuk kelas 5, mereka mendapatkan pendampingan berharga dari Alief Irfan Choiri, yang menjabat sebagai Wakil Rektor II Institut Kiai Haji Abdul Matin Tuban.
Materi yang disampaikan berfokus pada pendekatan Project Based Learning (PBL), di mana murid diajarkan untuk melihat proses belajar sebagai sebuah perjalanan panjang yang bertujuan menghasilkan karya atau proyek nyata, bukan sekadar menuntaskan tugas.
Adapun murid kelas 6, didampingi oleh Muhammad Makhdum, salah satu guru dari SMPN 3 Plumpang Tuban, menerima bimbingan khusus mengenai penyusunan tugas akhir (TA) yang difasilitasi oleh Mitra Karya.
Pembagian materi yang disesuaikan berdasarkan jenjang kelas ini secara jelas menunjukkan bahwa Al-Ibrah Festival telah dirancang sebagai sebuah perjalanan literasi yang bertahap dan berkelanjutan.
Murid di kelas awal diajak untuk mengenal cerita dan visualisasi. Kelas berikutnya mulai mengembangkan kemampuan menulis. Murid kelas 3 belajar bagaimana membangun sebuah cerita yang utuh. Kemudian, kelas 4 berfokus mengolah pengalaman budaya menjadi karya puisi. Sementara itu, kelas 5 mulai berkenalan dengan konsep proyek, dan kelas 6 memusatkan perhatian pada penyusunan tugas akhir.
Dengan pendekatan ini, literasi tidak lagi menjadi kegiatan yang berdiri sendiri dan terpisah dari keseluruhan proses pembelajaran. Sebaliknya, literasi berfungsi sebagai benang merah yang secara alami tumbuh dan berkembang seiring dengan usia serta kemampuan kognitif setiap murid.
Di tengah-tengah padatnya kegiatan literasi, semangat kemerdekaan tetap berkobar melalui penyelenggaraan berbagai perlombaan yang meriah.
Khusus untuk kelas awal, lomba dirancang dalam bentuk permainan yang secara cerdas menggabungkan unsur gerak fisik, ketangkasan, dan pentingnya kerja sama tim.
Di sisi lain, murid kelas 4, 5, dan 6 menghadapi tantangan lomba yang lebih beragam dan kompleks, meliputi permainan seperti spider ball, estafet karet tepung, tiup bola dalam gelas, hingga lomba memasukkan balon ke dalam keranjang.
Murid kelas 3 dan 4 mengikuti rangkaian lomba pada sesi pagi yang berlangsung di Star Ballroom. Setelah menyelesaikan lomba, mereka kemudian beralih ke agenda bazar dan kegiatan literasi yang dijadwalkan pada siang hari.
Pola kegiatan untuk kelas 5 dan 6 juga dirancang berbeda. Sesi pagi mereka didedikasikan untuk mengikuti materi literasi yang mendalam, yang kemudian dilanjutkan dengan partisipasi dalam berbagai lomba.
Bagi murid yang belum berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian lomba, kegiatan mereka dapat dilanjutkan pada sesi siang hari, sebelum akhirnya mereka berkesempatan mengunjungi bazar buku, bazar UMKM, dan perpustakaan keliling.
Seluruh rangkaian kegiatan yang terstruktur ini menjadikan Al-Ibrah Festival terasa seperti sebuah perjalanan edukatif yang terus bergerak dan berkembang.
Tidak ada satu pun ruang yang menjadi pusat tunggal bagi seluruh kegiatan. Halaman sekolah berfungsi sebagai titik awal dimulainya acara, aula digunakan sebagai ruang utama untuk belajar, sementara Star Ballroom menjadi arena kompetisi yang penuh semangat.
Area bazar menjadi ruang di mana murid dapat berinteraksi dengan buku dan berbagai karya. Setiap lokasi dalam festival ini menyimpan cerita uniknya sendiri, dan setiap murid pulang dengan pengalaman yang berbeda-beda dan tak terlupakan.
Pada intinya, Al-Ibrah Literacy and Independence Festival tidak semata-mata berfokus pada siapa yang berhasil memenangkan perlombaan atau siapa yang mampu menghasilkan tulisan terbaik.
Ada nilai-nilai dan pengalaman yang jauh lebih abadi dan berharga dibandingkan sekadar sebuah medali kemenangan. Seorang anak mungkin pulang ke rumah dengan membawa buku baru dari bazar, sementara anak lain membawa kisah menarik yang baru saja ia dengarkan.
Ada murid yang pulang membawa selembar puisi yang indah tentang pudak dan tradisi khas Gresik. Murid lainnya kembali dengan cerita tentang tokoh fabel ciptaannya sendiri. Bahkan, ada pula yang membawa pulang memori tentang bagaimana rasanya bekerja sama dalam tim saat mengikuti lomba estafet.
Selain itu, beberapa murid untuk pertama kalinya memahami bahwa sebuah tulisan bisa berkembang menjadi sebuah proyek yang besar, bahwa sebuah gagasan dapat terus dikembangkan, dan bahwa proses belajar tidak selalu harus terbatas di balik meja kelas.
Al-Ibrah Festival ini secara harmonis mempertemukan dua konsep yang memiliki hubungan sangat erat: literasi dan kemerdekaan.
Literasi memberikan ruang yang luas bagi anak-anak untuk membaca, menulis, berpikir kritis, dan berkarya. Di sisi lain, semangat kemerdekaan memberi mereka ruang untuk berani mencoba hal-hal baru, berkreasi tanpa batas, bekerja sama dengan orang lain, dan pada akhirnya menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.













