Menu

Mode Gelap
Menguak Alasan di Balik Fenomena Gray Divorce: Ketika Kebahagiaan Individu Jadi Prioritas Utama Terobosan MAN 1 Kebumen: Maulid Nabi Dibalut Wayang Kulit dan Tembang Jawa, Siswa Antusias! Bongkar Arsip Negara! Kemendikdasmen & ANRI Kolaborasi Ubah Dokumen Sejarah Jadi Materi Pelajaran Kekinian Malam Panjang Muktamar NU: Perubahan Dramatis Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU Muktamar NU Mengukir Sejarah: Pergeseran Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU Melalui AHWA Mendorong Profesionalitas AUMSos, MPKS PWM Jatim Perkuat Ideologi Pelayanan Sosial

Pendidikan

Literasi Digital dan Komoditas Lokal: Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Pesisir Sukolilo

badge-check


					Literasi Digital dan Komoditas Lokal: Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Pesisir Sukolilo Perbesar

KlikMojok – Di Kampung Nelayan Sukolilo Baru, Surabaya, para perempuan pesisir aktif mengasah keterampilan literasi digital dan memperkuat komoditas lokal mereka. Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pemasaran produk-produk khas daerah dengan cara mempercantik kemasan dan mengurus legalitas usaha.

Selama ratusan tahun, laut telah menjadi guru utama bagi masyarakat Kampung Nelayan Sukolilo Baru, membentuk mereka menjadi pembaca alam yang ulung. Kulit mereka teruji oleh teriknya matahari, jemari mereka terbiasa dengan jaring, dan ingatan mereka merekam setiap detail pasang-surut air atau arah angin yang memandu perahu.

Namun, pada Sabtu (29/8/2026), masyarakat yang berdomisili di tepi pantai Kenjeran ini mulai mempelajari bentuk navigasi yang sama sekali baru. Kali ini, mereka tidak bersiap untuk menerjang ombak laut, melainkan berupaya memahami dan membaca arah perubahan zaman yang kini sepenuhnya didominasi oleh era digital.

Suasana di selasar kampung mendadak ramai oleh tawa dan antusiasme para perempuan pesisir pada hari itu. TBM Yayasan Avicenna Berkah menjadi fasilitator utama, menginisiasi gelombang perubahan positif melalui kegiatan “Literasi Digital dan Penguatan Komoditas Lokal” yang merupakan bagian dari gerakan “Gema Literasi Pesisir 2026”.

Dengan seruan “Aku kaya!”, sebuah kalimat melesat memecah keheningan pagi, yang kemudian disambut dengan tawa renyah dari para peserta. Hanifa Ratna Permatasari, Ketua Forum TBM Kota Surabaya, berdiri di hadapan mereka, bukan untuk menyampaikan teori-teori berat, melainkan untuk membangkitkan semangat afirmasi diri.

Menurut Hanifa, kekayaan sejati yang dimiliki masyarakat pesisir tidak hanya terbatas pada jumlah simpanan uang. Ia menegaskan, “Melainkan lapisan pengalaman, keterampilan turun-temurun, dan gagasan yang selama ini tersembunyi di balik dapur produksi.”

Pendekatan yang hangat tersebut berhasil mencairkan kekakuan di antara para peserta. Ibu-ibu nelayan mulai melihat fungsi gawai mereka secara berbeda; dari yang sebelumnya hanya sebagai sarana hiburan pengusir sepi atau alat komunikasi, kini bertransformasi menjadi alat kendali untuk menjalankan bisnis.

Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap sudut ruangan diubah menjadi studio kreatif dadakan. Di sana, mereka mendapatkan pelatihan praktis mengenai cara memegang kamera dengan sudut yang tepat (angle), memanfaatkan cahaya alami, menyusun narasi singkat yang menarik, bahkan memberanikan diri tampil di depan lensa sebagai talenta untuk mempromosikan komoditas lokal.

Di tengah dominasi era digital dan “layar kaca” saat ini, para perempuan pesisir menyadari satu hal penting: produk yang gagal bersaing di pasaran seringkali adalah produk yang tidak pernah diceritakan. Oleh karena itu, keberanian untuk mengisahkan produk melalui konten digital menjadi sebuah bentuk keberanian baru yang esensial untuk bertahan dan berkembang.

Meskipun demikian, narasi yang menarik di dunia maya akan terasa kurang lengkap jika tampilan fisik produk tidak mampu memikat mata saat berhadapan langsung. Untuk mengatasi tantangan ini, Wibowo Purnomohadi turut hadir, membedah secara mendalam anatomi kemasan produk.

Di hadapan para perajin kerupuk dan petis, Wibowo menyampaikan filosofi yang sederhana namun mendalam: kemasan bukan hanya sekadar pembungkus yang melindungi produk dari debu, melainkan juga “gaun pertama” yang menyapa pandangan konsumen. Ia menegaskan, “Sentuhan estetika pada bungkus menjadi pembeda utama antara produk yang sekadar lewat dan produk yang membekas di hati pembeli.”

Setelah estetika produk diperbaiki dan kisah-kisahnya mulai tersebar di media sosial, langkah selanjutnya adalah membangun benteng terakhir, yaitu kepastian hukum. Meirna Dewita Sari, seorang Dosen dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, hadir untuk menguraikan kompleksitas birokrasi menjadi pemahaman yang mudah dicerna tentang urgensi Nomor Induk Berusaha (NIB).

Proses legalitas usaha tersebut semakin lengkap dengan materi yang disampaikan oleh Fitri, yang membimbing para peserta untuk memperoleh sertifikasi halal. Kedua instrumen ini, baik NIB maupun sertifikasi halal, bukan sekadar dokumen formalitas. Sebaliknya, keduanya berfungsi sebagai paspor dan jangkar kepercayaan yang memungkinkan produk-produk pesisir ini untuk berlayar lebih jauh, menembus pasar modern yang lebih luas dan mapan.

Keempat materi yang disampaikan pada hari itu menyimpulkan sebuah konsep yang utuh dan terintegrasi. Intinya adalah bahwa komoditas lokal harus dihasilkan dengan kualitas yang terjaga, dibungkus dengan kemasan yang memikat mata, dikisahkan secara berani melalui media digital, dan dilindungi oleh legalitas hukum yang kuat.

Ruang belajar di Sukolilo Baru pada siang itu bertransformasi menjadi sebuah laboratorium kehidupan yang dinamis dan fleksibel. Proses belajar tidak lagi dirasakan sebagai beban yang kaku, melainkan menjadi sebuah wadah yang penuh toleransi untuk bereksperimen, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan pada akhirnya merayakan munculnya keberanian-keberanian baru.

“Ternyata dengan smartphone yang kami miliki, kami sudah bisa belajar mempromosikan produk sendiri,” ujar Yuliani, salah satu peserta yang sehari-hari dikenal sebagai produsen Kerupuk Kenjeran. Matanya tampak berbinar saat melihat draf video promosi pertamanya di layar ponsel. Pernyataan singkat dari Yuliani ini, meskipun ringkas, menyimpan getaran harapan yang sangat besar.

Di perkampungan ini, modernitas tidak hadir dalam bentuk mesin-mesin mahal berskala pabrik yang mengetuk pintu. Sebaliknya, modernitas datang dengan mengetuk kesadaran, memanfaatkan apa yang sudah ada dalam genggaman tangan masyarakat itu sendiri: mulai dari produk rumahan, kisah perjuangan yang inspiratif, keterampilan yang diwariskan oleh leluhur, hingga sebuah ponsel pintar.

Melalui penyelenggaraan “Gema Literasi Pesisir 2026”, TBM Yayasan Avicenna Berkah menyematkan harapan besar. Harapan agar potensi luar biasa dari Kampung Nelayan Sukolilo Baru tidak hanya menjadi rahasia yang diketahui oleh tetangga sekitar, melainkan mampu membuka jalan menuju panggung pemasaran yang jauh lebih luas.

Di wilayah pesisir ini, masyarakat tidak akan pernah berhenti melaut dalam arti tradisionalnya. Namun, kini mereka juga tengah membentangkan layar baru, bersiap untuk mengarungi samudra digital yang tak bertepi, dengan tujuan memperkenalkan aroma dan keunikan khas Kenjeran kepada seluruh dunia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Malam Panjang Muktamar NU: Perubahan Dramatis Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU

30 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Muktamar NU Mengukir Sejarah: Pergeseran Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU Melalui AHWA

30 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Mendorong Profesionalitas AUMSos, MPKS PWM Jatim Perkuat Ideologi Pelayanan Sosial

30 Agustus 2026 - 06:14 WIB

Jejak Spiritual Kiai Said di Tebuireng: Mencari Kedamaian di Tengah Dinamika Muktamar NU

29 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Nadi Kehidupan yang Diuji Kemarau: Konservasi Air di Waduk Wonorejo Tulungagung

29 Agustus 2026 - 21:51 WIB

Trending di Pendidikan