Menu

Mode Gelap
DPR Didesak Publik Beri Jaminan Tertulis Soal RUU Perampasan Aset, Tanggal Ketok Palu 15 Desember 2026 Jadi Sorotan Bukan Sekadar Efek Glowing: Tiga Kriteria Penting Memilih Sunscreen Tepat Menurut Dokter Kulit Melampaui Pengobatan: Locus Medical Hub Sisir Sekolah Surabaya untuk Sadarkan Bahaya Skoliosis pada Remaja Mimpi Mekanik Muda Terhenti: Tragedi Anjloknya Conveyor di PT Superior Mojokerto Lazismu Lumajang Usung Safari Dongeng dan Monolog: Dakwah Kreatif untuk Bentuk Karakter dan Kepedulian Sosial Pelajar Muktamar NU ke-35 Siap Gemparkan Dunia: Usung Gagasan Fikih Ekologi dan Misi Kemanusiaan Global!

Berita Terkini

Modal Asing Kabur: BI Catat Rp 16,85 Triliun Keluar dari Indonesia

badge-check


					Modal Asing Kabur: BI Catat Rp 16,85 Triliun Keluar dari Indonesia Perbesar

Duh, ada kabar yang bikin investor ketar-ketir nih dari Bank Indonesia (BI)! Gimana enggak, cuma dalam pekan pertama September 2025, modal asing yang keluar dari pasar domestik kita itu tembus angka fantastis: Rp 16,85 triliun. Angka segede itu tercatat dari transaksi tanggal 1 sampai 3 September 2025 doang, lho.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, ngejelasin kalau modal asing yang ngacir itu pecah ke beberapa sektor. Paling banyak keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 7,69 triliun, disusul oleh pasar saham dengan jual neto nonresiden sebesar Rp 3,87 triliun, dan dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 5,29 triliun. Nggak main-main kan angkanya?

Efeknya, premi credit default swap (CDS) Indonesia untuk lima tahun ikutan meroket jadi 71,57 bps per 3 September 2025. Padahal, di tanggal 29 Agustus 2025, angkanya masih di 69,52 bps. Kenaikan ini nunjukin kalau risiko investasi di Indonesia lagi bikin waswas. FYI aja nih, kalau diakumulasi dari awal tahun sampai 3 September, nonresiden itu udah net sell Rp 51,78 triliun di pasar saham dan Rp 106,38 triliun di pasar SRBI. Eits, tapi di pasar SBN, mereka justru net buy sebesar Rp 68,02 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah kita juga kena imbasnya. Pada Kamis pagi, 4 September 2025, rupiah dibuka di level Rp 16.430 per US$. Di sisi lain, ada kabar lumayan nih, yield SBN 10 tahun turun ke level 6,35 persen.

Gimana dengan bursa saham? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita sempat bikin deg-degan banget pas pembukaan perdagangan Senin, 1 September 2025. IHSG langsung melemah 2,66 persen ke level 7,621.92, padahal sebelumnya Jumat, 29 Agustus 2025, masih di angka 7.830,49. Meskipun hari ini, IHSG ditutup di level 7.867, tetap aja sempat bikin jantungan ya.

Terus, apa sih yang bikin sentimen pasar jadi negatif dan modal asing pada minggat? Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, salah satu pemicunya adalah pemerintah yang dinilai lambat banget merespons isu-isu fundamental ekonomi saat demonstrasi pekan lalu. Kata Bhima, Presiden Prabowo dianggap gagal menjawab tuntutan massa, mulai dari pajak yang nggak adil sampai efisiensi anggaran pemerintah. Eskalasi protes ini otomatis bikin risiko politik bagi investor ikutan naik.

Dan, seolah kurang lengkap dramanya, ada faktor lain yang nggak kalah bikin panik: insiden korban jiwa dan represi dari aparat keamanan di berbagai wilayah. Ini yang, menurut Bhima, mengindikasikan lonjakan risiko keamanan bagi investor. “Akhirnya mereka tidak nyaman berinvestasi,” ucap Bhima kepada Tempo pada Senin, 1 September 2025, menjelaskan betapa investor jadi mikir dua kali buat menanamkan duitnya di sini.

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar dari pasar domestik sebesar Rp 16,85 triliun pada pekan pertama September 2025 (1-3 September). Penjualan neto terbesar terjadi di pasar SBN (Rp 7,69 triliun), diikuti pasar saham (Rp 3,87 triliun) dan SRBI (Rp 5,29 triliun), menyebabkan premi CDS Indonesia naik dan mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Sentimen negatif pasar dan keluarnya modal asing dipicu oleh respons pemerintah yang dinilai lambat terhadap isu ekonomi saat demonstrasi, serta adanya insiden korban jiwa dan represi aparat. Hal ini meningkatkan risiko politik dan keamanan bagi investor, yang menyebabkan mereka merasa tidak nyaman berinvestasi di Indonesia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Bangunsari Madiun Tolak TPST, Sosialisasi DLH Berujung Mediasi Tanpa Keputusan Final

24 Agustus 2026 - 10:54 WIB

7 Hektare Lahan Jati di Gunung Bungkuk Magetan Hangus Terbakar, BPBD Ingatkan Warga Waspada

24 Agustus 2026 - 06:13 WIB

Kecelakaan Maut Bojonegoro: Nenek 85 Tahun Tewas Terlindas Truk Saat Motor Salip dari Kiri

23 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Jombang Siapkan 99 Masjid Ramah Muktamirin, Fasilitasi Ribuan Peserta Muktamar NU

23 Agustus 2026 - 16:57 WIB

Sekdes di Probolinggo Digerebek di Hotel Bersama Istri Warga, Pemkab Tunggu Laporan Resmi

23 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trending di Berita Terkini