Menu

Mode Gelap
Dilema Pasar Thai Tea Indonesia: Survei Jakpat Ungkap Popularitas Chatime-Kopi Kenangan, Namun Rasa Autentik Jadi Kunci Api di Puncak Para Dewa: Pelajaran Berharga dari Karhutla Semeru yang Melahap Ratusan Hektare Bara Tungku yang Menguji Kewaspadaan: Refleksi dari Kebakaran Warung di Madiun Smamda Sidoarjo Wujudkan Pendidikan Berkarakter dengan Galang Donasi Rp21,3 Juta untuk Korban Bencana NTT Himpaudi Ujungpangkah Ciptakan Lautan Merah Putih di Wisata Gosari untuk HUT ke-21 Tingkatkan Transparansi Dana BOS, K3S SD Swasta Sidoarjo Gelar Pelatihan Manajerial

Review

Dilema Pasar Thai Tea Indonesia: Survei Jakpat Ungkap Popularitas Chatime-Kopi Kenangan, Namun Rasa Autentik Jadi Kunci

badge-check


					Dilema Pasar Thai Tea Indonesia: Survei Jakpat Ungkap Popularitas Chatime-Kopi Kenangan, Namun Rasa Autentik Jadi Kunci Perbesar

KlikMojok – Minuman khas Thailand, Thai tea, kini semakin mudah ditemukan di berbagai gerai dan stan di seluruh Indonesia. Namun, meski popularitasnya terus meningkat, sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa Thai tea belum menjadi minuman yang dikonsumsi secara harian oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Berdasarkan temuan survei yang dilakukan oleh Jakpat terhadap 300 konsumen, terungkap bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menikmati Thai tea pada momen-momen tertentu saja. Data survei menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, sebanyak 48 persen dari total responden menyatakan mengonsumsi minuman Thai tea sebanyak 1 hingga 3 kali dalam sebulan.

Survei Jakpat ini secara spesifik melibatkan partisipan yang selama tiga bulan terakhir telah mengonsumsi Thai tea yang baru diseduh atau diracik langsung di gerai. Kriteria lainnya adalah bahwa responden tersebut merupakan pihak utama yang memiliki peran dalam menentukan pilihan minuman yang akan dibeli atau dikonsumsi.

Selain itu, hasil survei juga mencatat bahwa 36 persen responden mengonsumsi Thai tea dengan frekuensi 1 hingga 3 kali dalam sepekan. Sebanyak 12 persen responden lainnya dilaporkan menikmati minuman ini sebanyak 4 hingga 6 kali dalam seminggu. Sementara itu, persentase konsumen yang mengonsumsi Thai tea setiap hari terbilang sangat kecil, hanya mencapai 4 persen.

Farida Hasna, selaku Lead Researcher Jakpat, menyoroti pola konsumsi ini. Ia menjelaskan bahwa data tersebut mengindikasikan bahwa Thai tea memang sudah menjadi salah satu pilihan konsumsi bagi masyarakat. Namun, menurut Farida, minuman ini belum sampai pada tahap menggantikan minuman yang secara rutin dikonsumsi sehari-hari.

“Dari pola konsumsinya, Thai tea sudah cukup rutin dikonsumsi, tetapi belum menjadi minuman sehari-hari. Konsumen memilih Thai tea pada momen tertentu, sementara di kesempatan lain mereka juga punya banyak pilihan minuman lain,” kata Farida.

Jika dilihat dari bentuk produknya, seluruh responden yang terlibat dalam survei Jakpat ini tercatat pernah mengonsumsi Thai tea yang diracik langsung di gerai atau stan dalam kemasan cup atau yang biasa disebut ‘on the go’ selama tiga bulan terakhir.

Selain itu, lebih dari separuh responden juga mengakui telah mengonsumsi Thai tea dalam format kemasan siap minum atau ready-to-drink. Di sisi lain, sebanyak 31 persen responden memilih untuk meracik sendiri Thai tea mereka di rumah, menggunakan produk bubuk atau saset yang tersedia di pasaran.

Data ini menggarisbawahi bahwa pengalaman membeli Thai tea langsung di gerai masih memegang peranan penting dalam kebiasaan konsumsi masyarakat. Meskipun demikian, keberadaan pilihan produk siap minum dan bubuk juga turut memberikan fleksibilitas dan memperluas variasi cara konsumen dalam menikmati minuman khas Thailand ini.

Tak hanya pola konsumsi, survei Jakpat juga menyoroti persaingan antar merek Thai tea di Indonesia, yang menunjukkan peta pasar yang cukup kompetitif dengan berbagai pemain di dalamnya.

Dalam hasil survei Jakpat mengenai merek Thai tea yang paling sering dikonsumsi oleh responden, Chatime dan Kopi Kenangan berhasil menempati posisi teratas. Kedua merek minuman populer ini sama-sama mencatatkan angka konsumsi tertinggi, yaitu 28 persen dari total responden.

Di bawah dominasi Chatime dan Kopi Kenangan, merek Dum Dum Thai Drinks menyusul dengan perolehan 13 persen responden. Selanjutnya, Es Teh Indonesia menempati posisi berikutnya dengan 11 persen. Sementara itu, merek haus! menjadi pilihan bagi 9 persen responden dalam kategori Thai tea.

Menariknya, temuan survei juga menunjukkan bahwa popularitas sebuah merek tidak selalu sejalan dengan persepsi konsumen mengenai keautentikan rasa yang ditawarkan. Ada perbedaan signifikan antara merek yang paling sering dikonsumsi dengan merek yang dianggap paling autentik rasanya.

Justru, Dum Dum Thai Drinks berhasil menempati posisi teratas dalam hal persepsi rasa autentik. Sebanyak 82 persen responden secara konsisten menilai bahwa Thai tea yang disajikan oleh merek ini memiliki cita rasa yang paling autentik, mencerminkan kekhasan rasa aslinya.

Angka persepsi keautentikan rasa untuk Dum Dum Thai Drinks tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Chatime yang memperoleh 71 persen dan Kopi Kenangan yang hanya mencapai 63 persen. Merek haus! mendapatkan 57 persen, sementara Es Teh Indonesia berada di posisi terbawah dengan 52 persen dalam kategori persepsi keautentikan rasa.

Farida Hasna menjelaskan bahwa hasil survei ini secara jelas memperlihatkan bahwa konsumen tidak semata-mata mempertimbangkan faktor popularitas merek atau kemudahan untuk menemukan gerai ketika memutuskan untuk memilih Thai tea.

Menurutnya, pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap produk, khususnya pada aspek rasa, tetap menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan akhir mereka.

“Di kategori Thai tea, konsumen bisa punya pertimbangan yang berbeda dalam memilih sebuah brand. Salah satunya terlihat dari Dum Dum Thai Drinks, yang lebih menonjol pada persepsi rasa yang enak dan autentik, dan hal ini juga terlihat pada tingkat kepuasan konsumennya,” tutur Farida.

Ia melanjutkan bahwa tingkat kesadaran atau awareness merek serta kemudahan dalam menemukan produk memang merupakan bagian dari pertimbangan awal konsumen. Namun, Farida menekankan bahwa pengalaman yang didapatkan saat mengonsumsi produk itu sendiri tetap memegang peran yang sangat penting dalam keputusan pembelian.

“Artinya, selain awareness dan kemudahan menemukan brand, pengalaman terhadap produknya sendiri tetap menjadi bagian penting dalam pilihan konsumen,” imbuh Farida.

Berbagai temuan ini secara jelas mengindikasikan bahwa pasar Thai tea di Indonesia masih sangat terbuka untuk persaingan. Merek-merek yang memiliki tingkat pengenalan tinggi mungkin unggul dalam menarik perhatian konsumen baru. Namun, kualitas rasa dan persepsi autentik memiliki potensi besar untuk menjadi faktor pembeda yang krusial dalam mempertahankan loyalitas konsumen yang sudah ada.

Mengingat pola konsumsi Thai tea yang belum terlalu sering, tantangan utama bagi para pemain di industri ini tidak hanya sebatas menarik konsumen untuk mencoba produk mereka. Lebih dari itu, mereka harus mampu menciptakan pengalaman yang berkesan dan mendorong konsumen untuk kembali melakukan pembelian berulang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warung Gubeng Pojok: Legenda Kuliner Malam Surabaya dengan Nasi Krengsengan dan Nasi Campur Otentik

1 September 2026 - 15:28 WIB

IONATION 2026: Ruang Aman dan Me-Time Ibu Muda, Jennifer Bachdim & Amanda Manopo Berbagi Pengalaman

31 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Kafe Bromo Sheraton Surabaya: Angkat “Soul of East Java” Lewat 55 Menu Khas Lokal

31 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Maulid Nabi TKIT Salam Viral: Bukan Sekadar Shalawat, tapi Aksi Nyata Berbagi yang Menyentuh Hati!

31 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Ketika Cak Imin Soroti ‘Kemunduran NU Akibat HMI’, Anak-anak Tokoh NU Ini Malah Mantap Ber-HMI!

31 Agustus 2026 - 06:28 WIB

Trending di Review