Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Depresi Mengusir Pulang: Kisah Ujang Kusmin, 30 Tahun Hilang, dan Akhir Pencarian di Mojokerto

badge-check

Ketika Depresi Mengusir Pulang: Kisah Ujang Kusmin, 30 Tahun Hilang, dan Akhir Pencarian di Mojokerto Perbesar

KlikMojok – Di tengah hiruk pikuk dini hari Pasar Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebuah penemuan mengejutkan mengawali Sabtu (24/10/2026). Sesosok pria paruh baya ditemukan terbujur kaku, tanpa identitas. Warga mengenalnya sebagai Ujang, seorang pengelana yang kerap terlihat di sekitar pasar. Namun, di balik panggilan sederhana itu, tersembunyi sebuah kisah panjang, tiga dekade pengembaraan yang berujung pada sebuah pengungkapan identitas yang menyentuh hati.

Penemuan jenazah Mr. X itu segera memicu penyelidikan kepolisian. Anggota Unit Reskrim Polsek Pacet, dipimpin oleh Kapolsek AKP Mohammad Khoirul Umam, bergegas ke lokasi untuk olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Sumberglagah, di mana pemeriksaan medis dan identifikasi intensif dilakukan bersama Unit Identifikasi Satreskrim Polres Mojokerto. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, mengindikasikan kematian wajar. Namun, identitasnya masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.

“Dari hasil pemeriksaan awal, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun saat itu, identitasnya belum diketahui sehingga korban sementara dicatat sebagai Mr X dengan panggilan Ujang. Untuk mengungkap identitas korban, kami membuat dan menyebarkan flyer berisi informasi kejadian serta foto korban semasa hidup melalui medsos,” ungkap AKP Mohammad Khoirul Umam, Minggu (25/10/2026).

Upaya penyebaran informasi melalui media sosial itu menjadi jembatan tak terduga yang menghubungkan masa lalu dengan kini. Pada hari yang sama, Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 21.00 WIB, secercah harapan muncul. Seorang pria bernama Heri Supriadi (40), warga Desa Wirobiting, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, mendatangi Polsek Pacet. Didampingi perangkat desa, Heri datang dengan pengakuan mengejutkan: ia mengenali Mr. X dari ciri-ciri fisik dan foto yang beredar luas di jagat maya.

“Ada pria yang mengaku mengenali jenazah korban sebagai keponakannya, ia menjelaskan jika pamannya tersebut bernama Ujang Kusmin. Berdasarkan keterangan keluarga, Ujang merupakan warga Dusun Ngingas, Desa Simpang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Ia diketahui telah meninggalkan rumah sejak sekitar 30 tahun lalu karena mengalami depresi,” jelas Kapolsek Umam, mengungkap tabir identitas yang selama ini tersimpan rapat.

Keterangan Heri membuka lembaran kisah Ujang Kusmin, seorang pria berusia sekitar 75 tahun yang telah hilang dari keluarganya selama kurang lebih 30 tahun. Tiga dekade adalah waktu yang sangat panjang, sebuah rentang masa di mana seseorang bisa sepenuhnya terhapus dari ingatan kolektif, apalagi ketika kondisi mental, seperti depresi, menjadi pemicu kepergiannya. Kisah Ujang menjadi pengingat pilu akan dampak mendalam dari kesehatan mental yang terabaikan, bukan hanya bagi individu yang mengalaminya, tetapi juga bagi keluarga yang harus menanggung beban kerinduan dan pencarian tanpa henti.

Setelah identitas Ujang Kusmin terkonfirmasi, petugas membawa keluarga ke RSUD Sumberglagah untuk melihat jenazah secara langsung. Proses penyerahan jenazah pun dilakukan dengan prosedur yang berlaku, termasuk kelengkapan surat keterangan identitas dari Kepala Desa dan surat pernyataan menerima kematian sebagai takdir. “Sehingga kami menyerahkan jenazah korban kepada pihak keluarga tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Proses penyerahan dilakukan dengan disertai berita acara. Setelah proses penerimaan jenazah, jenazah kemudian dibawa ke Kabupaten Sidoarjo untuk dimakamkan di TPU Dusun Ngingas, Desa Simpang, Kecamatan Prambon,” tegas Kapolsek Umam.

Kisah Ujang Kusmin, sang pengembara yang depresi dan menghilang selama 30 tahun, akhirnya menemukan titik terang di sebuah pasar di Mojokerto. Ini bukan hanya tentang pengungkapan identitas seorang “Mr. X”, melainkan juga sebuah refleksi mendalam tentang pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental, dukungan keluarga, dan jejak kemanusiaan yang tak pernah benar-benar terhapus, meski waktu telah mengikis banyak hal. Kepergian Ujang mungkin adalah akhir dari sebuah pencarian panjang, namun kisahnya adalah awal dari sebuah perenungan kolektif tentang bagaimana kita merawat mereka yang tersesat dalam bayang-bayang batinnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Api Menguji: Solidaritas Warga Menyelimuti Duka Kebakaran di Bondowoso

26 Okt 2026 - 18:45 WIB

Ketika Api Menguji: Solidaritas Warga Menyelimuti Duka Kebakaran di Bondowoso

Ketika Rumah Tak Berpenghuni: Pelajaran dari Huntap Semeru dan Tantangan Pembangunan Pasca Bencana di Lumajang

26 Okt 2026 - 15:20 WIB

Ketika Rumah Tak Berpenghuni: Pelajaran dari Huntap Semeru dan Tantangan Pembangunan Pasca Bencana di Lumajang

Ketika Jemari Menguji Amanah Seragam: Refleksi Etika ASN di Era Digital

26 Okt 2026 - 15:19 WIB

Ketika Jemari Menguji Amanah Seragam: Refleksi Etika ASN di Era Digital

MI Mutwo Panceng Cetak Juara Pildacil Gresik, Wujudkan Pendidikan Gratis Berkualitas

26 Okt 2026 - 15:19 WIB

MI Mutwo Panceng Cetak Juara Pildacil Gresik, Wujudkan Pendidikan Gratis Berkualitas

Kunjungan Santri Spemdalas ke Masjid Ar-Royyan: Inspirasi Memakmurkan dan Berkontribusi Sosial

26 Okt 2026 - 15:18 WIB

Kunjungan Santri Spemdalas ke Masjid Ar-Royyan: Inspirasi Memakmurkan dan Berkontribusi Sosial
Trending di Pendidikan