KlikMojok – Di sebuah sudut Desa Made, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, pada Selasa (20/10/2026), sebuah pemandangan yang tak biasa menarik perhatian banyak mata. Bukan karena indahnya, melainkan karena simbol yang tersemat di halaman rumah seorang warga: kain bergambar menyerupai lambang negara Israel. Kehadiran simbol ini, yang dengan cepat menyebar di media sosial, memicu gelombang keresahan yang tak terelakkan di tengah masyarakat.
Simbol-simbol tersebut tidak hanya terbatas pada selembar kain. Dinding bangunan rumah itu juga dihiasi dengan gambar segitiga bermata satu yang dibuat menggunakan cat, menambah misteri dan kegelisahan kolektif. Media sosial menjadi arena perbincangan panas, di mana foto dan video rumah tersebut beredar luas, mengubahnya dari pemandangan lokal menjadi isu publik yang sensitif.
Menanggapi dinamika yang memanas, Pemerintah Desa Made tak tinggal diam. Sekretaris Desa (Sekdes) Made, Khabbib Yaumiddin, bersama Penjabat (Pj) Kepala Desa Made, Suryo, dan Babinsa Desa Made, Nurhadi, turun langsung ke lokasi. Mereka tidak hanya menurunkan kain yang meresahkan itu, tetapi juga membersihkan gambar menyerupai bendera Israel yang menempel di beberapa bagian dinding. Langkah cepat ini diambil demi meredam keresahan warga dan menjaga situasi tetap kondusif, mengingat potensi konflik yang bisa timbul dari simbol-simbol semacam itu.
“Ini kita melaksanakan penurunan bendera karena sudah ramai dan mungkin sudah viral di media sosial. Jadi kita bersama Pak Pj Kades Made dan Babinsa Desa Made menurunkan bendera tersebut agar tidak meresahkan lagi,” terang Khabbib Yaumiddin, menggarisbawahi urgensi tindakan mereka.
Khabbib menjelaskan bahwa objek yang diturunkan itu bukanlah bendera resmi, melainkan selembar kain yang digambar sendiri oleh pemilik rumah menggunakan cat. Namun, bentuk dan warnanya yang sangat menyerupai bendera Israel sudah cukup untuk menarik perhatian dan memicu spekulasi di tengah masyarakat, terutama setelah gambar tersebut menyebar luas di platform digital.
Tragedi kecil ini ternyata bukan kali pertama. Khabbib mengungkapkan bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya. Warga setempat juga pernah menurunkan kain bergambar serupa saat melaksanakan kerja bakti di lingkungan tersebut. “Dulu sebelumnya memang pernah, cuma sudah diturunkan sama warga saat melaksanakan kerja bakti. Jadi sempat dibersihkan di halaman rumahnya ini, karena meresahkan seperti itu,” ujarnya, menunjukkan pola kejadian yang berulang dan respons komunitas yang konsisten.
Di balik polemik simbol dan keresahan warga, tersimpan kisah yang lebih dalam dan mengharukan. Pemilik rumah, menurut Khabbib, adalah seorang warga yang mengalami gangguan kejiwaan. Ia kini hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Namun, Khabbib menambahkan, kondisi mentalnya tidak pernah membuatnya mengamuk. Sebaliknya, ia cenderung diam dan mengekspresikan perasaannya melalui tulisan serta gambar-gambar yang ia buat. “Tapi yang bersangkutan tidak pernah mengamuk. Dia cenderung diam dan menyampaikan ekspresi melalui tulisan maupun gambar-gambar itu,” tuturnya, memberikan gambaran yang lebih manusiawi tentang individu di balik kontroversi ini. Kisah ini menjadi pengingat penting akan kerentanan individu dengan gangguan jiwa dan bagaimana ekspresi mereka bisa disalahartikan atau menimbulkan reaksi berbeda di mata masyarakat.
Dengan selesainya pembersihan simbol-simbol tersebut, Pj Kepala Desa Made, Suryo, menyuarakan harapannya. Ia berharap tidak akan ada lagi pemasangan simbol serupa di masa mendatang, demi menjaga keharmonisan dan keamanan di lingkungan Desa Made. “Harapan kami ke depan tidak terpasang lagi, agar suasana atau situasi menjadi kondusif. Saya kira itu,” pungkasnya, menutup babak keresahan ini dengan harapan akan masa depan yang lebih tenang dan penuh pengertian. Ini adalah cerminan bagaimana sebuah komunitas belajar untuk menyeimbangkan kepekaan terhadap simbol-simbol publik dengan empati terhadap individu yang membutuhkan dukungan.












