KlikMojok – Anak-anak dari IPM Kids Sekolah Kreatif Baratajaya di Surabaya secara aktif terlibat dalam pembelajaran komprehensif mengenai fenomena bencana. Mereka tidak hanya memahami aspek-aspek alamiahnya, tetapi juga diajak untuk menjaga lingkungan dan menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama sejak usia dini.
IPM Kids Sekolah Kreatif Baratajaya mendapatkan pemahaman bahwa bencana bukanlah sekadar peristiwa geologis seperti tanah longsor atau letusan gunung berapi. Lebih dari itu, di balik setiap kejadian bencana, terdapat kisah manusia yang kehilangan tempat tinggal, sekolah, mata pencarian, bahkan orang-orang yang mereka cintai.
Kesadaran mendalam ini muncul dan berkembang selama diskusi kebencanaan yang diselenggarakan oleh Student Lighthouse Team (SLhT) atau yang dikenal sebagai IPM Kids. Kegiatan edukatif ini berlangsung di ruang pertemuan Sekolah Kreatif Baratajaya pada hari Selasa, 8 September 2026.
Diskusi dimulai tepat pukul 09.00 WIB, dengan partisipasi aktif para siswa dalam percakapan yang membahas berbagai aspek kebencanaan. Pagi itu, ruang pertemuan bertransformasi menjadi wadah bagi anak-anak untuk membangun pemahaman mereka mengenai beragam fenomena alam yang terjadi di sekitar.
Namun, seiring berjalannya waktu, pembicaraan mereka perlahan bergeser dan melampaui sekadar pengenalan jenis-jenis bencana. Ketua SLhT, Noura Malia, mengambil inisiatif untuk membuka diskusi dengan mengajak teman-temannya mencermati berbagai bencana yang telah dan sedang terjadi di Indonesia.
“Banyak fenomena bencana yang terjadi. Kita perlu peduli, respek, dan bergerak. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Noura kepada rekan-rekannya.
Pertanyaan provokatif tersebut berfungsi sebagai pembuka bagi para siswa untuk mulai merenungkan makna sesungguhnya dari kepedulian. Mereka kemudian secara aktif membahas sikap-sikap yang seharusnya mereka tunjukkan dan lakukan ketika bencana tiba.
Selain itu, para siswa juga memikirkan berbagai bentuk bantuan konkret yang dapat mereka berikan kepada korban. Dengan demikian, alur diskusi tidak berhenti hanya pada pengetahuan faktual tentang alam, melainkan terus berkembang.
Pembicaraan justru mengarahkan anak-anak untuk memahami sisi kemanusiaan yang menjadi inti di balik setiap peristiwa bencana.
Suyono, S.Si., selaku Wakil Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, kemudian melanjutkan diskusi dengan memberikan penjelasan rinci mengenai proses terjadinya gunung meletus. Ia menguraikan proses tersebut secara sistematis, mulai dari struktur lapisan bumi hingga aktivitas vulkanik gunung api.
Penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Suyono sangat membantu siswa dalam memahami kondisi geografis Indonesia. Dengan banyaknya gunung api aktif di Indonesia, pemahaman ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kewaspadaan di kalangan masyarakat.
“Indonesia memiliki banyak gunung api yang masih aktif. Karena itu, kita harus selalu waspada,” ujar Suyono. Beliau juga menambahkan bahwa pemahaman yang akurat tentang kebencanaan perlu dibangun melalui informasi yang benar dan terpercaya.
“Memahami informasi yang benar mengenai kebencanaan juga penting,” lanjutnya, menekankan urgensi literasi informasi di tengah masyarakat.
Pembahasan kemudian beralih fokus menuju fenomena gempa bumi dan dampaknya yang luas terhadap kehidupan masyarakat.
Suyono mengingatkan para siswa bahwa persoalan dan dampak akibat bencana tidak selalu berakhir begitu saja setelah situasi kembali tenang atau kejadian bencana usai.
“Dampak bencana tidak selalu selesai ketika kejadian berakhir,” katanya. Suyono menjelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat masih harus menghadapi berbagai persoalan kompleks lainnya pasca-bencana, yang membutuhkan perhatian dan penanganan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut membuka wawasan siswa untuk melihat bencana dari sudut pandang yang lebih komprehensif dan luas. Mereka memahami bahwa proses pemulihan pasca-bencana memerlukan waktu yang tidak singkat, energi yang besar, serta dukungan solidaritas dari banyak pihak.
Nasyitha Aqila Humaira, yang menjabat sebagai bendahara IPM Kids, turut serta menyampaikan pemahamannya mengenai pergerakan lempeng bumi yang menjadi penyebab utama gempa.
“Pergerakan lempeng bumi bisa menyebabkan gempa,” tuturnya. Lebih lanjut, ia mengemukakan pentingnya bagi setiap individu untuk mengetahui bagaimana bencana terjadi dan, yang tidak kalah krusial, cara-cara efektif untuk menyelamatkan diri saat bencana melanda.
Sementara itu, Faiz Aqila Adlar membahas secara spesifik mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan oleh erupsi gunung api.
“Dampak gunung meletus bisa terasa oleh masyarakat dan lingkungan di sekitar gunung,” katanya. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa siswa perlu mengetahui langkah-langkah tepat yang harus diambil ketika erupsi terjadi, demi keselamatan diri dan lingkungan.
Dari pembahasan mengenai berbagai jenis bencana, siswa kemudian menghubungkannya dengan kondisi lingkungan hidup. Bariq Ibadillah Pranowo, salah satu siswa, menyoroti bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tindakan nyata yang dapat dilakukan oleh setiap pelajar.
“Kita harus menjaga kualitas udara dan tidak mencemari lingkungan. Sebagai pelajar, kita juga bisa ikut menjaga lingkungan,” ujarnya. Menurut Bariq, perilaku manusia juga dapat memperburuk persoalan lingkungan yang pada akhirnya memicu atau memperparah bencana.
“Ada bencana yang terjadi karena faktor alam, tetapi ada juga masalah lingkungan yang muncul karena ulah manusia,” katanya, memberikan contoh konkret tentang intervensi manusia terhadap alam.
Ia mencontohkan kebiasaan membuang sampah sembarangan sebagai salah satu perilaku yang sangat perlu mereka hindari. Pemahaman ini menggarisbawahi bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan bagian integral dari upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Alanna Dzakira Tiranda kemudian mengingatkan pentingnya untuk secara konsisten membangun kebiasaan waspada dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita semua harus selalu waspada karena bencana bisa terjadi sewaktu-waktu, namun kewaspadaan tidak berarti harus hidup dalam ketakutan,” ujarnya, menyeimbangkan antara kewaspadaan dan ketenangan.
Di sisi lain, Sasya Namia Aleesya Oxavia justru menekankan aspek krusial untuk tetap tenang dan tidak panik ketika menghadapi situasi darurat bencana.
“Kita harus tetap tenang apabila terjadi bencana agar tidak terjadi kekacauan,” katanya, menyoroti pentingnya kontrol emosi dalam situasi krisis.
Menurut Sasya, masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan prioritas bagi para korban bencana. Pemikiran ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan memiliki dua dimensi penting yang saling melengkapi.
Dimensi pertama adalah kebutuhan seseorang untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri. Sementara itu, dimensi selanjutnya adalah perlunya memahami dan merespons kebutuhan orang lain yang berada dalam situasi sulit akibat bencana.
Bagi Aisyah Zakiyah, usia bukanlah penghalang atau batasan untuk menumbuhkan dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Meskipun masih anak-anak, mereka memiliki peran penting.
“Kita memang masih anak-anak, tetapi kita juga bisa membantu korban bencana,” tegasnya dengan penuh keyakinan. Alika Sabrina Adeleo juga menyampaikan gagasan yang serupa, memperkuat semangat kepedulian di antara siswa.
Ia melihat bahwa bantuan berupa barang merupakan salah satu bentuk aksi nyata yang sangat dibutuhkan dan dapat diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana. “Masyarakat yang terdampak bencana sangat membutuhkan bantuan berupa barang,” katanya, menjelaskan urgensi bantuan material.
Sementara itu, Sekretaris IPM Kids, Azka Alfarzan Arya Krisdianto, menawarkan gagasan lain yang inovatif. Menurutnya, para pelajar tidak perlu menunggu hingga dewasa untuk ikut serta mengambil peran aktif dalam upaya kemanusiaan.
“Kita sebagai pelajar juga harus respek terhadap berbagai bencana,” jelas Azka. Ia menyebutkan penggalangan dana sebagai salah satu bentuk konkret kepedulian yang dapat mereka lakukan untuk membantu korban bencana.
Selain itu, siswa juga dapat berkontribusi melalui upaya edukasi mengenai mitigasi bencana kepada masyarakat luas. “Kita juga bisa memberikan edukasi tentang mitigasi bencana melalui poster,” lanjutnya, menunjukkan cara kreatif dalam menyebarkan informasi.
Dengan berbagai gagasan tersebut, anak-anak belajar bahwa kepedulian memiliki banyak bentuk dan ekspresi. Ada bantuan berupa barang, dukungan dana, edukasi, hingga tindakan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Setiap tindakan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar ketika terlaksana dengan didasari oleh kesadaran penuh dan rasa kepedulian yang tulus.
Pembina IPM Kids, Nasyiatul Lailah, S.Pd., memandang diskusi yang telah berlangsung sebagai bagian esensial dari proses pembentukan karakter siswa yang berempati dan bertanggung jawab.
“Empati terhadap saudara yang terkena musibah harus terus ditumbuhkan,” ujarnya, menekankan pentingnya pengembangan karakter.
Menurut Nasyiatul, anak-anak perlu memahami arti sesungguhnya dari ‘hadir’ ketika orang lain mengalami kesulitan. “Ketika orang lain mengalami kesulitan, kita tidak boleh hanya melihat, kita juga perlu berusaha membantu,” katanya, mendorong tindakan nyata.
Pesan mendalam ini menjadi benang merah utama yang menghubungkan seluruh rangkaian diskusi kebencanaan pada pagi itu. Pengetahuan tentang bencana akhirnya bertemu dan menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Anak-anak tidak hanya diajak untuk memahami secara ilmiah mengapa gunung meletus atau gempa bumi terjadi. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk memahami apa yang terjadi pada kehidupan manusia setelah bencana datang dan bagaimana dampaknya.
Di penghujung sesi diskusi, Noura Malia kembali menyampaikan pesan penting kepada teman-temannya. Menurut Noura, pembelajaran tentang kebencanaan harus melampaui sekadar pemahaman tentang fenomena alam semata.
“Dari diskusi kita hari ini, kita belajar bahwa gunung api merupakan bagian dari alam Indonesia,” ungkap Noura, mengakui realitas geografis.
Ia mengajak teman-temannya untuk memahami karakteristik gunung api dan secara aktif mencari informasi kebencanaan yang benar dan akurat. Selain itu, Noura juga menekankan bahwa kesiapsiagaan perlu diintegrasikan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Namun, Noura memberikan satu sudut pandang yang lebih mendalam dan humanis. Ia mengajak teman-temannya untuk melihat korban bencana bukan hanya sebagai angka statistik, melainkan sebagai manusia yang memiliki kehidupan lengkap.
“Ketika bencana terjadi, jangan hanya melihat peristiwanya, lihatlah manusia yang ada di baliknya,” katanya, menyerukan empati.
“Mereka memiliki keluarga, rumah, sekolah, pekerjaan, harapan, dan impian seperti kita,” ujarnya. Kalimat tersebut menjadi pengingat kuat bahwa bencana tidak pernah hanya menyisakan data kerusakan atau angka-angka saja.
Di balik setiap data tentang kerusakan fisik, selalu ada kehidupan manusia yang harus kembali ditata, dipulihkan, dan dibangun ulang. Oleh karena itu, kepedulian dapat dimulai dari hal-hal yang paling sederhana dan mendasar.
“Kita bisa memulainya dari diri sendiri, peduli terhadap sesama, peduli terhadap lingkungan, dan peduli terhadap keselamatan bersama,” lanjutnya, memberikan langkah-langkah konkret.
Diskusi yang inspiratif ini tidak akan berhenti hanya sebagai percakapan di dalam ruang pertemuan. IPM Kids Sekolah Kreatif Baratajaya telah merencanakan untuk mengadakan latihan mitigasi bencana pada pekan berikutnya sebagai tindak lanjut.
Latihan tersebut direncanakan akan melibatkan seluruh siswa Sekolah Kreatif Baratajaya. Langkah ini merupakan upaya nyata untuk mengubah pengetahuan teoritis yang telah diperoleh menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam situasi darurat.
Anak-anak nantinya akan mendapatkan kesempatan untuk belajar merespons berbagai situasi bencana melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak hanya akan tersimpan dalam ingatan mereka sebagai informasi.
Kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan yang melekat ketika anak-anak menghadapi keadaan darurat yang tidak terduga.
“Kita agendakan minggu depan untuk latihan mitigasi bencana yang melibatkan semua teman-teman kita,” pungkas Noura, mengakhiri diskusi dengan rencana aksi nyata.
Pada akhirnya, diskusi yang telah berlangsung meninggalkan satu pelajaran sederhana namun fundamental. Bencana memang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang tidak selalu dapat diprediksi atau dihindari.
Namun, kepedulian, pengetahuan yang tepat, dan kesiapsiagaan adalah hal-hal yang dapat mereka persiapkan sejak dini. Di ruang belajar Sekolah Kreatif Baratajaya, anak-anak pun mulai memahami makna mendalam dari persiapan tersebut.
Mereka belajar bahwa menjadi peduli tidak perlu menunggu hingga usia dewasa. Sebab, dari tangan-tangan kecil dan pikiran yang mulai tumbuh, kepedulian dapat menemukan jalannya dan memberikan dampak positif yang besar. (Jurnalis Ahmad Mahmudi, Penyunting Nadhirotul Mawaddah)












